Berita Banjarmasin
Kabid Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perdagangan Kalsel Sebut Kenaikan Gula Pasir dari Distributor
Kabid Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perdagangan Kalsel Sutikno pun menyebut beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga
Penulis: Salmah | Editor: Edi Nugroho
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN-Kenaikan berbagai sembako dalam beberap waktu terakhir menjadi perhatian pemerintah daerah dan sudah dipetakan apa permasalahannya.
Kabid Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perdagangan Kalsel Sutikno pun menyebut beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga.
“Gula naik hampir Rp 2 ribu per kilogram, hal ini disebabkan kenaikan harga dari distributor,” jelasnya.
Minyak goreng merek Minyak Kita naik dari Rp 13.500 per liter menjadi Rp 15.000 atau melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) yaitu Rp 14.000.
Baca juga: Harga Cabai Rawit di Pasar Bauntung Banjarbaru Capai Rp 150 Ribu per Kilogram, Sembako Makin Mahal
Baca juga: Kampung Bermain ke-31 di Banjarmasin Diresmikan dan Diharapkan Dapat Memunculkan Atlet Andal
“Dikonfirmasi dari distributor, kenaikan harga ini disebabkan kenaikan harga BBM yang akan terjadi dalam beberapa waktu ke depan, sehingga ada kenaikan ongkos angkut untuk penyesuaian terutama angkutan laut dan darat,” papar Sutikno.
Selanjutnya kenaikan harga cabai efek dari kemarau panjang. Penanaman terhambat terutama cabai tiung dan hiung yang luas tanam mencapai 150 hektare dengan produktivitasnya 4-6 ton per hektere dengan panen 3 bulan setelah tanam.
“Keperluan cabai di Kalsel hanya bisa dipenuhi sekitar 40 persen saja, selebihnya dari Sulawesi dan Jawa,” jelas Sutikno.
Upaya pemerintah, salah satunya pendekatan ke sambal ABC untuk melakukan binaan ke petani lombok agar tidak menghambat pasokan ke pasar.
“Sosialisasi ke masyarakat adalah menggunakan cabai kering, cabai bubuk, asinan cabe dan masyarakat agar menanam cabai di polibag, setidaknya 2-3 polibag maka cukup untuk keperluan harian,” sarannya.
Adapun harga beras sudah mulai turun, unus mutiara semula Rp27 ribu-Rp 28 ribu, turun menjadi Rp 21 ribu.
Baca juga: Jembatan Putus di Pendalaman akan Segera Diatasi Dinas PUPR Kabupaten Barito Kuala
Sedangkan analis statistik Kalsel seolah-olah harga beras medium kenaikannya hampir 40 persen atau harga Rp 17 ribu dari HET beras medium Rp11 ribu.
“Hal ini karena di Kalsel beras medium itu adalah beras lokal sihirang atau siganal, sedangkan HET Bulog adalah beras Jawa, jelas sangat berbeda tidak bisa dibandingkan,” terang Sutikno.
Upaya pemerintah ke depan agar ada peningkatan deservikasi produk pangan misalnya sarapan singkong rebus dengan telur rebus, sagu dan lainnya, serta belajar makan beras non Kalsel atau non lokal.
Membangun perusahaan pangan daerah yang mampu menampung hasil panen raya dan disetok. Karyawan BUMN dan pemerintah mendapat jatah beras lokal untuk ketersediaan pangan derah.
Perluasan tanam dan peningkatan irigasi teknis sehingga produktivitas lahan meningkatnan panen per tahun bisa dua sampai empat kali panen seperti di Jawa dan negara maju lainnya. Kemudian penggunaan varietas unggul dan benih unggul gratis untuk meningkatkan produktivitas. (lis/dea)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Pasar-Murah-di-halaman-Dishub-Kabupaten-Tabalong.jpg)