Pengisian Mandiri di SPBU Banjarbaru

Layanan Tanpa Ragu Itu Bernama Self Service

Warga Kota Banjarbaru dan sekitar kini terbiasa mengisi sendiri BBM di SPBU COCO Banjarbaru yang menyediakan layanan self service lewat MyPertamina

Tayang:
Penulis: Nurholis Huda | Editor: Mulyadi Danu Saputra
banjarmasin post
TERTIB - Warga tertib antre di SPBU COCO Banjarbaru untuk gunakan fasilitas self service atau pengisian BBM secara mandiri, Senin (2/9/2024). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Setelah mengisi data berupa nomor kendaraan dan melakukan pembayaran melalui aplikasi MyPertamina, Tasya membuka tutup tangki Bahan Bakar Minyak (BBM) di sepeda motornya, Senin (2/9/2024). Tanpa ragu, dia langsung mengambil nozzle (pegangan) pada mesin pengisi BBM. 


Perempuan bernama lengkap Tasya Bunga Khairunnisa itu rupanya sering mengisi BBM dengan fasilitas layanan self service (pengisian mandiri) di SPBU COCO 61.707.01Jl  A Yani km 34 Loktabat Utara, Kecamatan Banjarbaru Utara, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Soalnya, dia bekerja di perusahaan swasta yang tidak jauh dari lokasi pom bensin tersebut.


Pada akhir tahun 2023, ketika awal-awal sistem self service itu diterapkan, Tasya sempat bingung juga. Namun, dengan bantuan petugas yang berjaga di samping mesin pengisian BBM, Tasya akhirnya bisa melakukan pengisian secara mandiri.


Menurut Tasya, layanan self service sangat menjamin keakuratan pengisian BBM. Sebab konsumen mengatur sendiri jumlah BBM yang diperlukan, tanpa melibatkan petugas. "Layanan seperti ini membuat kekhawatiran akan kecurangan di SPBU menjadi hilang," kata Tasya. 


Sistem layanan self service merupakan inovasi dari Pertamina dalam memberikan akses dan transparansi ke customer. Layanan ini membuat konsumen meyakini jumlah takaran tanpa khawatir ada rekayasa atau keraguan lainnya.


SPBU self service memiliki keunggulan dalam aspek digitalisasi, cost leadership, mitigasi fraud, simplifikasi bisnis proses dan customer experience.


Masyarakat di Kota Banjarbaru dan sekitar, sejatinya sudah tak asing dengan layanan self service Pertamina di SPBU COCO 61.707.01. Pasalnya layanan ini diterapkan sejak 21 November 2022.


Meski begitu, pengelola SPBU itu, tetap menyiapkan satu petugas untuk membantu pelanggan yang masih belum terbiasa. "Menurut saya, layanan self service jadi lebih efisien, bahkan mengurangi antrean," ujar  seorang petugas, Kifli.


Manajer SPBU COCO 61.707.01 Banjarbaru, Yuri Adhidarmawan, menuturkan, sejak menerapkan layanan self service, rata-rata pembeli kendaraan roda dua meningkat menjadi 1.800 unit per hari. "Kalau dihitung, rata-rata per bulan sekitar 55,651 unit. Artinya masyarakat pengguna roda dua sangat menikmati layanan ini," ucapnya.


Yuri menjelaskan, layanan self service sampai saat ini masih berlaku bagi pengendara roda dua pengguna BBM subsidi Pertalite. Sedangkan untuk roda empat masih menunggu arahan dari  PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan. 


Mengutip Kompas.com, Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, Irto Ginting, menyampaikan, layanan self service merupakan satu inovasi yang bertujuan memberikan pengalaman baru kepada konsumen. "Sekaligus untuk mempercepat dalam pengisian BBM di SPBU," tambah dia. 


Irto mengingatkan, konsumen tidak perlu terburu-buru karena melihat antrean kendaraan di belakang. Sebab, hal itu hanya akan membuat lengah dan bisa membahayakan keselamatan. Khusus untuk roda dua, disarankan tidak langsung menyalakan mesin di depan dispenser, terutama jika pengemudi di sebelahnya sedang mengisi BBM. Bawalah kendaraan untuk menjauh sedikit dengan cara mendorongnya, baru nyalakan mesin. (banjarmasinpost/nurholis huda

 

Kalsel Uji Coba QR Code Pertalite Awal Desember 2024

SELAIN sistem self service, program subsidi tepat terus dijalankan Pertamina Patra Niaga dengan cara memberlakukan QR Code untuk pembelian Pertalite.


Pertamina sudah menerapkan di 41 kota dan kabupaten sejak Juli 2023. Kemudian, Pertamina Patra Niaga memperluas wilayah pendataan QR Code Pertalite untuk kendaraan roda empat secara bertahap di berbagai wilayah di Indonesia.


Perluasan pendataan tahap 1 dimulai pada pertengahan Juli meliputi  wilayah Jawa, Madura, Bali (Jamali) dan beberapa wilayah Non-Jamali yaitu Kepri, Maluku, NTT, Maluku Utara, Gorontalo, Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Sedangkan Provinsi Kalimantan Selatan masuk tahap selanjutnya untuk pendataan mulai Agustus hingga Oktober 2024.


Seperti halnya Program Subsidi Tepat Solar Subsidi yang sudah dilaksanakan, pada tahap sosialisasi dan registrasi pengguna BBM Pertalite roda empat akan diminta melakukan pendaftaran Program Subsidi Tepat Pertalite guna mendapatkan QR Code yang nantinya digunakan dalam pembelian BBM Pertalite.

Arya Yusa Pertamina
Arya Yusa Dwicandra, Area Manager Communication & CSR Kalimantan.


Area Manager Communication & CSR Kalimantan, Arya Yusa Dwicandra, mengatakan, langkah pendataan pengguna Pertalite ini diambil sebagai upaya perusahaan untuk mencatat transaksi BBM penugasan secara lebih baik dan transparan, mengingat adanya anggaran kompensasi yang diberikan pemerintah untuk produk Pertalite.


“Perluasan wilayah ini dilakukan secara bertahap mulai di 190 kota atau kabupaten wilayah Jamali dan sebagian Non-Jamali. Kemudian untuk provinsi lainnya atau sebanyak 283 kota/kabupaten menyusul di tahap berikutnya. Bagi kendaraan roda empat yang belum memiliki QR Code juga tetap akan dilayani dan akan diarahkan untuk mendaftar di website Subsidi Tepat,” papar Arya.


Dia menjelaskan, ini adalah pendataan bukan pembatasan dan diharapkan dapat membantu pemerintah mengetahui pengguna subsidi BBM dan diharapkan dapat meminimalisasi indikasi kecurangan atau penyalahgunaan BBM subsidi di lapangan.  Hingga awal Juli 2024, tercatat lebih dari 4,6 juta pengguna Pertalite sudah mendaftar QR Code.


Pelaksanaan uji coba Full QR Code untuk pembelian Pertalite untuk kendaraan roda empat di Provinsi Kalimatan Selatan direncanakan mulai Desember 2024. "Setelah periode pendataan selesai dilaksanakan, diharapkan pada awal Desember 2024 dilakukan uji coba penerapan full QR Code," ujar Arya. (banjarmasinpost/nurholis huda

 

Nelayan di Tiga Kabupaten Perlu Tambahan Solar Subdisi 

POSISI Kalimantan Selatan untuk kuota subsidi masih terbilang sangat rentan. Terlambat pengiriman sedikit bisa antrean panjang terjadi. Bahkan jika kuota kurang pun akan sulit. Berdasar penjelasan Pertamina Patra Niaga, untuk kuota BBM subdisi di Kalsel sudah diatur untuk cukup. 


Humas Pertamina Patra Niaga, Arya Takur, menyampaikan, dalam satu tahunnya untuk kuota solar subsidi 2024 kalsel sebanyak 259.130 Kiloliter. "Realisasi solar hingga juni 2024, sudah 115.000 Kiloliter," sebut dia. 


Ada pun kuota Pertalite 2024 Kalsel sebesar 546.000 Kiloliter, realisasi hingga Juni 2024  sudah 265.000 Kiloliter. "Itu harus cukup dalam setahun agar tidak jebol," jelas Arya Takur. 

Rusdi Hartono, Kepala DKP Kalsel baju asn
Rusdi Hartono, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kalimantan Selatan.

 

Sementara itu, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) mengusulkan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menambah kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis solar untuk kebutuhan nelayan.


“Nelayan di Kalimantan Selatan hanya terakomodasi BBM subsidi sebanyak 10-20 persen, kami ajukan kenaikan kuota minimal 50 persen dari total seluruh nelayan,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislautkan) Kalsel, Rusdi Hartono di Kota Banjarbaru, beberapa waktu lalu, dikutip dari antara.


“Jumlah nelayan mencapai 36.510 orang, sementara kuota BBM subsidi yang tersedia per tahun sekitar 117.672 kilo liter, yang terakomodasi sekitar 10-20 persen nelayan,” ujar Rusdi.


Dia menuturkan kuota BBM tersebut perlu ditambah minimal 30-40 persen lagi menjadi 2-3 kali lipat dari 117.672 Kiloliter agar mampu memenuhi  kebutuhan minimal sekitar 18.000 nelayan.


Kalimantan Selatan memiliki 12 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) yang tersebar di tiga kabupaten yakni Kotabaru, Tanahbumbu dan Tanahlaut. Dari total 12 SPBN aktif itu, sebut Rusdi, Kabupaten Kotabaru merupakan area paling membutuhkan karena terdapat jumlah nelayan sekitar 15.917 dari total 36.510 nelayan yang ada di Kalimantan Selatan.  (banjarmasinpost/nurholis huda

 


Terus Sosialisasi dan Edukasi

PERTAMINA terus lakukan inovasi, termasuk self-service dan cashless di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), untuk pelayanan yang lebih baik kepada konsumen.


SPBU yang menerapkan sistem self-service memungkinkan masyarakat mengisi sendiri bahan bakar minyak (BBM) ke dalam tangki kendaraan. Dengan layanan tersebut, konsumen yakin jumlah takarannya, tanpa khawatir ada rekayasa atau keraguan lain. 

 

Dr Hastin Umi
Dr Hj Hastin Umi Anisah SE MM, peneliti dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin.


Sebenarnya penggunaan self-service SPBU terbilang mudah. Pertama, antre secara tertib untuk mendapat giliran melakukan pembayaran. Lalu parkir kendaraan di depan dispenser dan turun dari kendaraan. Ambil nozzle dan masukkan ke dalam tangki motor atau mobil. Sebisa mungkin, genggam nozzle pakai dua tangan. 


Selanjutnya, biarkan bahan bakar mengalir hingga batas pembayaran yang sudah dilakukan sebelumnya. Dan sangat perlu memastikan kendaraan sudah berdiri kokoh ketika pengisian dengan posisi pengendara tidak berada di atasnya atau turun. Terakhir, setelah memastikan nozzle tidak meneteskan BBM lagi, kembalikan ke tempat semula secara benar. 


Walaupun demikian, terdapat kelebihan dan kekurangan dengan penerapan metode pengisian BBM seperti ini. Dampak positifnya, SPBU self-service memiliki keunggulan dalam aspek digitalisasi, cost leadership, mitigasi fraud, simplifikasi bisnis proses dan customer experience. 


Selain itu, layanan cashless  merupakan upaya Pertamina menjawab tren lifestyle konsumen. Diketahui, penggunaan e-payment semakin tinggi, terutama milenial, sehingga diharapkan masyarakat non-milenial juga tidak ketinggalan dan beradaptasi dengan hal ini.


Namun ada kekurangannya, yakni perlu pembiasaan yang relatif lama. Sebab, budaya Indonesia masih perlu dilayani, bukan mandiri.  Walaupun kelihatan mudah, tetapi masih banyak konsumen yang kesulitan dalam mengisi BBM dan perlu pembiasaan. 


Inovasi self-service harus dibarengi sosialisasi dan edukasi bahkan pendampingan kepada masyarakat terkait dengan penggunaan self-service. (banjarmasinpost/nurholis huda

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved