Museum Lambung Mangkurat

Wisata Kalsel : Bersantai di Museum Lambung Mangkurat Mengenang Gerobak Sapi Dugul  

Gerobak sapi dugul dulunya pernah menjadi sarana transportasi yang digunakan masyarakat Banjar.  Ya, alat angkut ini ada di Museum Lambung Mangkurat

Penulis: Salmah | Editor: Hari Widodo
banjarmasinpost.co.id/salmah saurin
Gerobak sapi dugul dulu sebagai alat transportasi warga pedesaan di Kalimantan Selatan. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Gerobak sapi dugul dulunya pernah menjadi sarana transportasi  yang digunakan masyarakat Banjar.  Ya, alat angkut barang dan juga penumpang ini ada di Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Saat kita bersantai di Museum Lambung Mangkurat di sela menikmati kuliner dan hiburan musik di halaman parkir, kita bisa masuk ke halaman dalam untuk melihat dari dekat gerobak sapi dugul.

Sapi dugul, maksudnya adalah sapi putih besar yang berpunuk atau dugul. Patung sapi tersebut berbahan sejenis karet sedangkan gerobaknya adalah gerobak asli.

Tertulis di papan informasi; Gerobak sapi dugul merupakan alat transportasi yang menggunakan hewan pekerja yaitu sapi sebagai tenaga penggerak utamanya. 

Baca juga: Wisata Kalsel: Bersantai di Museum Lambung Mangkurat Ragam Jukung Banjar yang Perlu Diketahui 

Baca juga: Wisata Kalsel: Bersantai Malam Hari di Lambung Mangkurat, Ada Aneka kuliner dan Musik Jalanan

Gerobak ini sudah langka di daerah ini. Digunakan masyakarat sebagai pengangkut hasil pertanian, kayu bakar dan barang dagangan antar pasar.

Demikian keterangan di papan informasi. Jadi sekarang memang susah menemukan alat transportasi ini, kalau pun ada hanya di kampung-kampung dan jumlahnya juga sedikit.

Memang perjalanan menggunakan gerobak sapi terbilang lambat, namun inilah alat angkutan barang maupun penumpang yang populer di masanya.

Satu kekhasan dari gerobak sapi dugul adalah lonceng yang biasa dikalungkan ke leher sapi. Bunyi lonceng, klentang, klentung, juga sebagai penanda bahwa gerobak tersebut melintas.

Tak ketinggalan pula lampu sumbu yang digantung di bagian depan dan belakang gerobak sebagai penanda saat melintas malam hari.

Dulu, bagi masyarakat pemilik gerobak yang bepergian jauh misal antar barang atau penumpang antar kampung maupun kota, membawa serta perbekalan dapur. (Banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved