Berita Banjarbaru

Ada Mimpi di Balik Gurihnya Kerupuk Ambar,  UMKM Banjarbaru Ini Juga Berdayakan Warga Sekitar Rumah

Kesuksesan Kerupuk Solobaru tak lepas dari tangan dingin Ambar Triwulan. Kini dia, tengah menyulam mimpi-mimpinya

Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Andra Ramadhan
Owner Kerupuk Solobaru Ambar Triwulan. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Di sudut tenang Kota Banjarbaru, di Jalan Kelapa Sawit Nomor 42, seorang pria bernama Ambar Triwulan sibuk menekuni pekerjaannya. 

Di balik tumpukan kerupuk yang renyah dan gurih itu,  pelaku UMKM Banjarbaru ini menyulam mimpi-mimpinya satu per satu, dengan  penuh ketekunan dan semangat.

Kerupuk Solobaru, nama yang kini harum di kalangan pecinta camilan Banjarbaru, lahir dari tangan dingin Ambar. Enam varian rasa khas yang dia tawarkan yakni lilit bawang, ikan, gurih, rambah kanji, gandum dan kelompong, berhasil memikat hati banyak orang.

Dari semua itu, rambah kanji menjadi primadona, dengan tekstur renyah dan rasa autentiknya yang tak tergantikan.

Perjalanan Ambar menuju kesuksesan tak pernah mulus. Pada 2016, ia memutuskan untuk melanjutkan usaha kerupuk keluarga yang sempat terhenti.

 “Saya ingin menghidupkan lagi usaha ini, tapi dengan cara yang lebih modern,” ujarnya.

Bermodal tekad, dia mulai mengolah kerupuk dengan pendekatan yang berbeda. Proses yang dulu dilakukan seadanya kini digarap dengan lebih cermat.

Branding pun diperkuat, sehingga Kerupuk Solobaru bukan sekadar camilan biasa, melainkan produk dengan identitas khas Banjarbaru.

Di balik kerenyahan Kerupuk Solobaru, ada proses panjang yang penuh perhatian pada detail. Mulai dari merendam kanji, mengukus adonan, menjemur krecek di bawah matahari, hingga menggorengnya dengan suhu yang tepat. “Proses ini tidak bisa buru-buru. Kualitas itu nomor satu,” jelas Ambar.

Dengan kapasitas produksi mencapai 100 kilogram per hari, dia memastikan setiap kerupuk yang dijualnya segar dan berkualitas.

Salah satu daya tarik Kerupuk Solobaru adalah harganya yang ramah di kantong. Mulai dari Rp 6.000 untuk ukuran sedang hingga Rp 15.000 untuk kemasan besar, kerupuk ini bisa dinikmati siapa saja, dari anak-anak hingga orang dewasa.

Kerupuk ini dapat ditemukan di berbagai tempat, mulai dari Pasar Bauntung hingga warung sembako dan rumah makan. “Kami ingin semua orang bisa menikmatinya tanpa harus merasa mahal,” katanya.

Kesuksesan Kerupuk Solobaru juga memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Ambar kini mempekerjakan lima karyawan tetap, serta memberdayakan ibu-ibu di sekitar rumahnya untuk membantu proses pengemasan. “Kadang saya tawarkan pekerjaan ke tetangga yang butuh tambahan penghasilan. Ini cara saya berbagi rezeki,” ungkapnya.

Meski saat ini Kerupuk Solobaru masih terbatas di Banjarbaru, Ambar memiliki visi besar. Dia ingin produknya dikenal lebih luas, bahkan hingga ke luar Kalimantan.  “Semoga suatu hari nanti, kerupuk ini bisa dinikmati lebih banyak orang,” harapnya.

Bagi Ambar, Kerupuk Solobaru bukan hanya tentang camilan. Di setiap kepingnya, ada kerja keras, mimpi, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik. Kerupuk ini adalah bukti bahwa usaha rumahan pun bisa menjadi kebanggaan daerah, jika dikelola dengan hati dan semangat pantang menyerah. (muhammad andra ramadhan)

 

 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved