Berita Tapin

Imbas Banjir di Beramban Tapin, Aspal Jembatan Rusak dan Terkelupas

Akibat banjir yangmelanda Desa Beramban Kabupaten Tapin aspal jembatan di lokasi terkelupas, begini penampakannya

Tayang:
Penulis: Mukhtar Wahid | Editor: Irfani Rahman
Foto istimewa kiriman Ulah
Inilah kondisi aspal yang terkoyak saat dilanda banjir yang merendam akses jembatan dan jalan di Desa Beramban, Kecamatan Piani, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan, Senin (27/1/2024).  

BANJARMASINPOST.CO.ID, RANTAU - Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Tapin, Minggu (26/1/2025) petang menjadi ujian berat bagi warga di beberapa kecamatan. 

Di Kecamatan Piani, genangan air tak hanya merendam pasar tradisional Desa Miawa hingga setinggi pinggang orang dewasa, tetapi juga memutus akses penting warga di Desa Beramban.

Pasar tradisional Desa Miawa yang biasanya riuh dengan aktivitas jual beli, berubah menjadi genangan luas. 

Kondisi serupa di Desa Benderang, Kecamatan Lokpaikat, sejumlah barang dagangan terapung, dan para pedagang hanya bisa pasrah melihat air menelan sumber penghidupan mereka. 

“Genangan air sempat menutup pasar Miawa sekitar empat jam, tapi sekarang sudah surut,” ujar Kepala Desa Miawa, H Amat Mukram.

Namun, perjuangan belum usai. Genangan yang turun membawa ancaman ke wilayah lain. 

Baca juga: Rumah Warga di Raya Belanti Binung Mulai Tergenang Air, Yana Berharap Ada Bantuan

Baca juga: Gagal Panen Akibat Banjir, Pemprov Kalsel Siapkan Bantuan Benih dan Bibit untuk Petani  

"Air kini mengalir ke wilayah Kota Rantau melalui aliran Sungai Bungur, Sungai Tapin, hingga Sungai Masta di Kecamatan Bakarangan," tambah Mukram.

Sementara itu, di Desa Beramban, hujan deras menambah kerusakan akses jalan. Aspal di Jembatan di desa tersebut terkoyak, memaksa warga menutup jalur sementara waktu. 

“Aspal di jembatan terkikis banjir, jalannya menjadi sangat berbahaya untuk dilewati,” cerita Ulah, seorang warga Kota Rantau yang hendak mengunjungi kerabatnya di Beramban.

Kini, air memang mulai surut, dan jalan di Beramban kembali dapat dilintasi. Namun, kerusakan yang ditinggalkan banjir menjadi PR besar. 

“Akses sudah bisa dilalui sejak pagi tadi, tapi kondisi aspal jalannya masih tipis dan harus diperbaiki segera,” imbuh Ulah.

Kisah banjir di Tapin bukan hanya tentang air yang datang tiba-tiba dan pergi setelah meninggalkan jejak. Lebih dari itu, ini adalah cerita tentang ketangguhan warga yang harus terus beradaptasi di tengah bencana yang berulang.

Bagi warga Piani, Desa Miawa, Desa Benderang Lokpaikat hingga Beramban, banjir menjadi pengingat betapa pentingnya sinergi antara masyarakat dan pemerintah untuk mencari solusi permanen. 

“Kami berharap ada perhatian untuk memperbaiki fasilitas dan mencegah banjir lebih parah di masa depan,” ujar Ulah.

(banjarmasinpost.co.id/muhtar wahid)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved