Berita HST

Harga Karet Anjlok, Petani di Desa Tilahan HST Beralih Berkebun Buncis dan Cabai

Petani karet kembali menjerit. Setelah sempat menikmati harga Rp12.000 hingga Rp12.500 per kilogram, kini harga karet kembali anjlok. 

Tayang:
Penulis: Hanani | Editor: Edi Nugroho
Dokumen Banjarmasinpost.co.id
SADAP KARET-Petani di Kabupaten Banjar menyadap karet. Harga Karet Anjlok Petani di Desa Tilahan HST Beralih Berkebun Buncis dan Cabai 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI- Petani karet kembali menjerit. Setelah sempat menikmati harga Rp12.000 hingga Rp12.500 per kilogram, kini harga karet kembali anjlok. 

Harga kini turun menjadi Rp 7000 sampai Rp 8000 per kilogram untuk karet di wilayah pegunungan Meratus. 

Sedangkan harga untuk karet di wilayah bawah atau dataran rendah di kisaran Rp5.000 sampai Rp6.000 per kg.

Sandi, warga Desa Tilahan, kepada Banjarmasin post.co.id, Senin (21/4/2025) mengatakan, penurunan harga karet tersebut terjadi sepekan pasca Lebaran Idul Fitri. 

Baca juga: Persiapkan Tim Futsal Putri ke Porprov Kalsel di Tanahlaut, Afkab Tabalong Seleksi Pemain

Baca juga: Film Pirunduk Angkat Budaya Banjar, Utamakan Talenta Lokal dan Lokasi Sungai

Para pedagang pengumpul menurutnya juga tidak mengetahui penyebab anjloknya harga. "Mereka bilang hanya mengikuti harga pasaran.  Padahal, harga karet biasanya mengikuti dolar,"kata Sandi.

Sementara itu, Rahmat warga Desa Tapuk, Kecamatan Limpasu mengatakan sebelumnya harga karet kisaran Rp10.000 sampai Rp11 000 per kg. 

"Sekarang tinggal Rp Rp5.000,"keluhnya. Akibat harga karet anjlok, semangat petani untuk menyadap karet pun menurun. "Sekarang banyak yang berkebun cabai,"katanya.

Hal itu juga dilakukan Sandi. Dia mengakui sejak harga anjlok, kini tak lagi menyadap karet miliknya. 

"Saya dan sebagian masyarakat lainnya berhenti menyadap karet. Kami beralih berkebun kacang buncis terong dan Lombok (cabai). Kami mencoba untuk tidak terpaku lagi dengan hasil karet ketika harga seperti ini. Sekarang saya dan teman-teman mencoba berkebun,"katanya.

Dijelaskan, untuk penjualan atau pemasaran karet sendiri warga desa Tilahan dan desa-desa lainnya di Meratus sangat tergantung dengan pedagang pengumpul. Warga sendiri hanya bisa pasrah dengan harga yang diterapkan pedagang pengumpul yang menurut mereka berdasarkan harga pasar.

Bahkan ada pula petani yang terikat dengan pedagang pengumpul, di mana karet yang disadap merupakan milik pedagang pengumpul, yang hasilnya mereka sendiri yang membeli. "Jadi berapapun harga yang ditetapkan mereka, kami tidak berdaya dan hanya bisa pasrah,"tambah Sandi.

Karet merupakan salah satu komoditas unggulan di sektor perkebunan di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Untuk harga karet di pegunungan Meratus lebih mahal karena jenis yang mereka sadap adalah karet alam. Sedangkan karet di wilayah bawah atau di wilayah dataran rendah lebih banyak karet jenis bibit unggul. (Banjarmasinpost.co.id/hanani)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved