Ekonomi dan Bisnis

Hidupkan Kembali Pasar Legenda Blauran, Begini Alasannya

Di Banjarmasin ada beberapa pasar tradisional yang biasanya buka malam atau pasar malam, salah satunya Pasar Blauran

Penulis: Salmah | Editor: Kamardi Fatih
Dokumen Banjarmasin Post
Pasar Minggu yang biasa dipadati warga Banjarmasin dan sekitarnya, telah berhasil menenggelamkan Pasar Blauran yang kini hanya tinggal kenanangan. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Di Banjarmasin ada beberapa pasar tradisional yang biasanya buka malam atau pasar malam, salah satunya Pasar Blauran di Jalan Niaga hingga Jalan Brigjend Katamso, Banjarmasin Tengah. Namun pasar ini perlahan semakin sepi pengunjung dan pedagangnya pun tak mampu bertahan.

Padahal, sejak tahun 60-an hingga awal 2000-an, Pasar Blauran setiap hari buka sejak sore hingga malam, dulu salah satu tempat favorit dikunjungi, kini hanya bisa dihitung jari pedagang yang bertahan di sana.

Khair, warga Kebun Bunga, Banjarmasin, mengatakan, pertengahan 90-an, ia kerap ke Pasar Blauran untuk sekedar jalan-jalan dan kalau ada barang diminati ia belanja.

"Pasar Blauran itu pasar malam yang pedagangnya berjualan menggunakan gerobak-gerobak atau rombong dalam bahasa Banjar-nya," ujarnya.

Rombong pedagang berjejer menempati badan jalan sepanjang Jalan Niaga hingga Jalan Brigjend Katamso. Memang kawasan ini saat malam toko-toko tutup sehingga suasana pasar digantikan pedagang Blauran. 

"Dominan di sana pedagang pakaian dan makanan. Selain itu perabot rumah tangga, tetapi juga ada pedagang obat tradisional yang menggunakan trik untuk menarik perhatian pengunjung," katanya. 

Tentunya harga barang di pasar ini terbilang miring karena memang pangsa pasarnya masyarakat bawah.

Titi, warga Kampung Melayu, Banjarmasin, juga masih ingat bagaimana terang benderang lampu di rombong-rombong pedagang.

"Menjadi salah satu tujuan refreshing saat malam, karena banyak yang bisa dilihat selain kita bisa juga kulineran di sana karena banyak pula rombong pedagang makanan macam sate, soto dan lainnya," tukas karyawati swasta ini.

Ardian, warga Sultan Adam Banjarmasin, mengatakan, semasa kuliah ia pernah turut berdagang di Pasar Blauran, untuk biaya hidup dan kuliah.

"Jualan pakaian, waktu itu dimodali paman saya. Alhamdulillah semasa kuliah hasilnya bisa untuk hidup dan saya bisa sarjana," kata Ardian yang kini berprofesi sebagai guru SMA di Banjarmasin.

Diakuinya, pasar malam seperti Blauran memang sudah kalah bersaing dengan banyaknya pasar-pasar malam di sejumlah kawasan di Banjarmasin.

"Pasar malam semacam pasar kaget kan ada di mana-mana. Jadi tidak seperti dulu yang terkonsentrasi belanja di satu tempat, contoh di Blauran, sekarang ada yang lebih dekat dengan rumah, apalagi untuk belanja kebutuhan harian, banyak mini market di setiap permukiman," ujarnya. 

Ardian, juga ada pusat perbelanjaan berupa mal yang menjadi tujuan masyarakat mencari hiburan dan belanja aneka kebutuhan. Tak pelak Pasar Blauran semakin ditinggalkan pengunjung. (Banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin) 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved