Berita Banjarmasin

Pengamat Pendidikan FKIP ULM Banjarmasin Ini Sarankan di Sekolah Perbanyak Pendidikan Agama

Belakangan ini, semakin tampak kecenderungan orangtua untuk tidak lagi menyekolahkan anaknya ke sekolah negeri.  Fenomena ini bukan sekadar

Penulis: Muhammad Rahmadi | Editor: Edi Nugroho
(Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Rahmadi)
LAYANAN- Ilustrasi: Petugas layanan informasi SPMB di SMPN 6 Banjarmasin, saat memberikan informasi pendaftaran kepada orangtua/wali calon murid baru. Buka Layanan Informasi SPMB di Sekolah, SMN 6 Banjarmasin Siapkan Operator Muda, Rabu (11/6/2025). Pengamat Pendidikan FKIP ULM Banjarmasin Ini Sarankan di Sekolah Perbanyak Pendidikan Agama 

Moh Yamin
Pengamat Pendidikan/Dosen FKIP ULM

BANJARMASINPOST.CO.ID-Belakangan ini, semakin tampak kecenderungan orangtua untuk tidak lagi menyekolahkan anaknya ke sekolah negeri.  Fenomena ini bukan sekadar soal tren, melainkan mencerminkan perubahan harapan dan kebutuhan masyarakat terhadap sistem pendidikan, khususnya dalam hal pembekalan nilai-nilai keagamaan.

Satu di antara alasan utama di balik menurunnya minat terhadap sekolah negeri adalah minimnya porsi pelajaran agama. Pelajaran agama hanya diberikan sekali dalam sepekan. Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, porsi tersebut dianggap tidak cukup untuk membentuk karakter spiritual anak.

Kita hidup di era digital, di mana arus informasi begitu deras dan tidak selalu membawa kebaikan. Anak-anak kita setiap hari terpapar media sosial dan konten digital yang kerap kali mengandung nilai-nilai negatif.

Di sinilah orangtua mulai khawatir. Mereka berharap pendidikan tidak hanya mencerdaskan otak, tetapi juga menguatkan hati dan moral. Maka tak heran jika satuan pendidikan berbasis agama seperti pesantren atau sekolah Islam terpadu kian menjadi pilihan utama.

Baca juga: Kekurangan Murid saat Seleksi Penerimaan Murid Baru, Ini yang Dilakukan  SMPN 20 Banjarmasin

Baca juga: Sejumlah SMP Negeri di Banjarmasin Belum Penuhi Kuota saat SPMB, Disdik: Pendaftaran Secara Offline 

Sekolah-sekolah berbasis agama dianggap lebih mampu menanamkan nilai-nilai spiritual secara menyeluruh. Muatan pelajaran agama tidak hanya lebih banyak, tetapi juga menyatu dalam kehidupan sehari-hari siswa.

Pengalaman ini tentu berbeda dengan sekolah negeri yang membatasi pelajaran agama hanya pada jadwal tertentu. Namun, bukan berarti sekolah negeri kehilangan segalanya.

Sekolah negeri tetap memiliki keunggulan, terutama dalam hal pembiayaan yang relatif lebih ringan, karena disubsidi pemerintah. Ini menjadi harapan besar bagi banyak keluarga menengah ke bawah. Sayangnya, keunggulan ini belum cukup untuk menandingi ekspektasi masyarakat terhadap pendidikan karakter dan moral yang kuat.

Lalu, apa yang bisa dilakukan? Langkah pertama adalah mendesain ulang pembelajaran agama di sekolah negeri. Kurikulum pelajaran agama perlu dibuat lebih menarik, aplikatif, dan menyentuh kebutuhan spiritual anak-anak masa kini. Bila perlu, jam pelajaran agama ditambah, tanpa mengurangi mata pelajaran lainnya.

Lebih jauh, pemerintah daerah juga perlu melakukan terobosan.  Sudah saatnya pendidikan agama di sekolah negeri tidak lagi diposisikan sebagai pelengkap, tetapi sebagai fondasi yang menyatu dengan visi pendidikan nasional. Terobosan program yang berbasis nilai religius dan akhlak mulia bisa menjadi kunci untuk menarik kembali kepercayaan publik.

Perlu diingat, sekolah negeri dan swasta bukan dua kutub yang saling menegasikan.

Keduanya memiliki tujuan yang sama, mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk manusia seutuhnya. Yang membedakan hanyalah pendekatan dan daya tarik yang mereka tawarkan.

Sekolah negeri tidak kalah dalam hal kualitas. Hanya saja, kini tantangannya adalah bagaimana membuat sistem pendidikan negeri menjadi lebih relevan dengan kebutuhan spiritual anak-anak di tengah derasnya arus perubahan zaman.

Jika hal ini mampu dijawab, bukan tidak mungkin sekolah negeri akan kembali menjadi pilihan utama. (Banjarmasinpost.co.id/muhammad rahmadi)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved