Opini Publik

Meredam Stigma Negatif Depresi Remaja

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

ilustrasi Depresi

Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa tanda gejala depresi yang paling banyak dirasakan remaja antara lain perasaan negative terhadap diri sendiri, adanya perasaan sedih dan tertekan, perasaan tidak berharga, tidak memiliki antusias terhadap apapun, dan perasaan tidak ada inisiatif dalam melakukan sesuatu.

Menurut karakteristik jenis kelamin remaja, didapatkan bahwa sebagian besar remaja yang mengalami depresi baik ringan maupun sangat berat adalah perempuan yaitu 19 orang (76 persen).

Hal ini sesuai dengan pendapat Van Droogenbroeck et al.(2018) yang menyatakan bahwa perempuan memiliki skor lebih tinggi terhadap kejadian distress psikologis, ansietas dan depresi jika dibandingkan dengan laki-laki. Hasil penelitian lain juga menunjukkan bahwa insiden depresi pada perempuan lebih tinggi dari laki-laki dengan perbandingan 2:1 (Townsend, 2014).

Ada beberapa faktor yang menyebabkan perbedaan insiden tersebut, yaitu karekteristik gender itu sendiri, dan strategi koping. Terkait perbedaan karakteristik gender hal ini dikaitkan dengan lebih tingginya kadar hormone oksitosin pada perempuan dibandingkan laki-laki. Hal ini menyebabkan remaja perempuan memiliki ketertarikan lebih tinggi pada hubungan interpersonal, sehingga remaja perempuan lebih peka terhadap penolakan orang lain, mudah merasa tidak puas. Kondisi ini diyakini sebagai risiko unculnya gejala depresi (Steiberg, 2002 dalam Darmayanti, 2016).

Sedangkan menurut Townsend (2014), menyatakan bahwa gender perempuan identik dengan perasaan tidak berdaya, pasif, dan mudah emosional yang dikaitkan dengan terjadinya depresi. Sebaliknya, maskulinitas berhubungan dengan tingginya harga diri dan rendahnya kejadian depresi pada laki – laki.

Faktor kedua yaitu perbedaan strategi koping yang digunakan dalam menghadapi stressor. Perempuan lebih banyak menggunakan strategi koping yang tidak efektif, seperti internalisasi, intelektualisasi, dan rasionalisasi. Sehingga tidak mampu mempertahankan keseimbangan emosi dan lebih rentan mengalami depresi. Sedangkan laki–laki menggunakan strategi koping bersifat eksternalisasi yang diekspresikan dalam bentuk perilaku agresif, kepribadian antisosial, dan penyalahgunaan napza. (Darmayanti, 2016; Van Droogenbroeck et al.2018).

Hasil uji statistik pada penelitian ini menunjukkan adanya hubungan signifikan antara dukungan sosial keluarga dengan depresi remaja. Keluarga merupakan support system terdekat bagi remaja. Dukungan keluarga adalah suatu bentuk hubungan interpersonal yang meliputi sikap, tindakan dan penerimaan terhadap anggota keluarga, sehingga anggota keluarga merasa ada yang memperhatikan. Menurut Friedman (2010), ada 4 dimensi dukungan keluarga yaitu dukungan informasional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental dan dukungan emosional.

Pada remaja dukungan emosional dari keluarga dan teman merupakan dukungan yang paling efektif dalam mencegah depresi. Dengan adanya perasaan diterima yang berdampak pada peningkatan harga diri. Sehingga remaja akan memberikan penilaian diri secara positif. (*)