Opini Publik

Meredam Stigma Negatif Depresi Remaja

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

ilustrasi Depresi

Oleh: Azwa Salsabila Anggraeni, Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang

BANJARMASINPOST.CO.ID - Sehat sering kali dipersepsikan dari segi fisik saja. Padahal sehat juga berarti tentang kesehatan jiwa. Sayangnya, persoalan kesehatan jiwa masih dianggap kalah penting dibandingkan kesehatan fisik. Masalah mental memang bisa dialami siapa saja, termasuk remaja.

Menurut sebuah studi, depresi dan kecemasan adalah masalah terbesar yang dihadapi remaja masa kini. Pada 2012, WHO menyebutkan bahwa depresi adalah salah satu penyebab terbesar beban penyakit jiwa secara global. Saat itu WHO memperkirakan ada 350 juta orang yang mengalami depresi, baik ringan maupun berat.

Dari riset World Mental Health Survey yang diselenggarakan di 17 negara pada 2012 disebutkan 1 dari 20 orang mengalami serangkaian gangguan depresi. Gangguan ini seringkali terjadi pada usia muda.

Gangguan mental, karena gejalanya tidak seperti penyakit fisik, acapkali terlambat disadari. Padahal di Indonesia, jumlah penderitanya terbilang tidak sedikit. Merujuk data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi penderita skizofrenia atau psikosis sebesar 7 per 1000 dengan cakupan pengobatan 84,9 persen. Sementara itu, prevalensi gangguan mental emosional pada remaja berumur lebih dari 15 tahun sebesar 9,8 persen. Angka ini meningkat dibandingkan tahun 2013 yaitu sebesar 6 persen.

Tentu gangguan kesehatan ini terjadi bukan tanpa sebab. Ada banyak faktor yang menyebabkannya, di antaranya adalah faktor genetik, beban psikologis berat, kecanduan gawai, dan masih banyak yang lainnya. Salah satu gangguan mental yang saat ini sedang ramai di bicarakan adalah depresi.

Depresi adalah suatu kondisi medis berupa perasaan sedih yang berdampak negatif terhadap pikiran, tindakan, perasaan, dan kesehatan mental seseorang. Yang membahayakannya dari gangguan kejiwaan ini ialah tak pandang bulu, siapa pun dapat mengalaminya.

Melihat banyaknya kasus yang terjadi, dapat disimpulkan bahwa pemahaman orang Indonesia soal kesehatan jiwa masih minim. Bahkan ketika membicarakan kesehatan jiwa, hanya stigma negatif yang melekat. Anggapan terkait kesehatan jiwa sebagaimana orang gila yang berkeliaran di jalan tentu salah besar. Karena itulah, pengetahuan terkait masalah kejiwaan utamanya pencegahan dan deteksi dini masih perlu ditingkatkan.

Sebenarnya, kesadaran akan kesehatan jiwa sudah mulai meningkat. Kampanye-kampanye terkait kesehatan jiwa mulai berceceran di linimasa media sosial. Gerakan-gerakan hingga diskusi tentang kesehatan jiwa oleh kalangan muda pun mulai nampak. Dengan adanya kesadaran di antara kaum muda tersebut, diharapkan pemahaman akan kesehatan jiwa juga berkembang di generasi yang lebih tua.

Untuk saat ini, Indonesia mungkin bisa belajar dari negara lain. Di Denmark misalnya, penanganan akan penyakit mental berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada stigma maupun anggapan bahwa penyakit mental ini merupakan aib bagi suatu individu.

Penanganan yang tepat terhadap depresi dapat dimulai dengan pemeriksaan secara fisik oleh dokter. Obat obatan tertentu dan juga berbagai kondisi medis seperti infeksi virus dan gangguan pada kelenjar tiroid dapat menyebabkan gejala yang serupa dengan depresi.

Oleh sebab itu, dengan pemeriksaan oleh dokter maka gejala-gejala tersebut dapat disingkirkan baik dengan pemeriksaan semata ataupun disertai dengan pemeriksaan laboratorium.

Pengidap depresi maupun penyakit mental lainnya juga bisa disembuhkan dengan mendapat dukungan yang mereka butuhkan untuk bisa menjalani kehidupan kembali secara normal.

Banjarmasin Post edisi Rabu (18/12/2019). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Dalam jurnal ilmiah yang berjudul hubungan dukungan sosial keluarga dengan depresi pada remaja disebut bahwa banyak faktor yang dapat menimbulkan depresi pada remaja selain adanya perubahan yang terjadi pada masa transisi, antara lain hubungan interpersonal (tekanan dari teman sebaya, pasangan, maupun hubungan dengan orangtua), kehidupan dirumah, masalah finansial, ketidakpastian masa depan, dan tuntutan dari dari orangtua (Camara et.al, 2017).

Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa tanda gejala depresi yang paling banyak dirasakan remaja antara lain perasaan negative terhadap diri sendiri, adanya perasaan sedih dan tertekan, perasaan tidak berharga, tidak memiliki antusias terhadap apapun, dan perasaan tidak ada inisiatif dalam melakukan sesuatu.

Menurut karakteristik jenis kelamin remaja, didapatkan bahwa sebagian besar remaja yang mengalami depresi baik ringan maupun sangat berat adalah perempuan yaitu 19 orang (76 persen).

Hal ini sesuai dengan pendapat Van Droogenbroeck et al.(2018) yang menyatakan bahwa perempuan memiliki skor lebih tinggi terhadap kejadian distress psikologis, ansietas dan depresi jika dibandingkan dengan laki-laki. Hasil penelitian lain juga menunjukkan bahwa insiden depresi pada perempuan lebih tinggi dari laki-laki dengan perbandingan 2:1 (Townsend, 2014).

Ada beberapa faktor yang menyebabkan perbedaan insiden tersebut, yaitu karekteristik gender itu sendiri, dan strategi koping. Terkait perbedaan karakteristik gender hal ini dikaitkan dengan lebih tingginya kadar hormone oksitosin pada perempuan dibandingkan laki-laki. Hal ini menyebabkan remaja perempuan memiliki ketertarikan lebih tinggi pada hubungan interpersonal, sehingga remaja perempuan lebih peka terhadap penolakan orang lain, mudah merasa tidak puas. Kondisi ini diyakini sebagai risiko unculnya gejala depresi (Steiberg, 2002 dalam Darmayanti, 2016).

Sedangkan menurut Townsend (2014), menyatakan bahwa gender perempuan identik dengan perasaan tidak berdaya, pasif, dan mudah emosional yang dikaitkan dengan terjadinya depresi. Sebaliknya, maskulinitas berhubungan dengan tingginya harga diri dan rendahnya kejadian depresi pada laki – laki.

Faktor kedua yaitu perbedaan strategi koping yang digunakan dalam menghadapi stressor. Perempuan lebih banyak menggunakan strategi koping yang tidak efektif, seperti internalisasi, intelektualisasi, dan rasionalisasi. Sehingga tidak mampu mempertahankan keseimbangan emosi dan lebih rentan mengalami depresi. Sedangkan laki–laki menggunakan strategi koping bersifat eksternalisasi yang diekspresikan dalam bentuk perilaku agresif, kepribadian antisosial, dan penyalahgunaan napza. (Darmayanti, 2016; Van Droogenbroeck et al.2018).

Hasil uji statistik pada penelitian ini menunjukkan adanya hubungan signifikan antara dukungan sosial keluarga dengan depresi remaja. Keluarga merupakan support system terdekat bagi remaja. Dukungan keluarga adalah suatu bentuk hubungan interpersonal yang meliputi sikap, tindakan dan penerimaan terhadap anggota keluarga, sehingga anggota keluarga merasa ada yang memperhatikan. Menurut Friedman (2010), ada 4 dimensi dukungan keluarga yaitu dukungan informasional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental dan dukungan emosional.

Pada remaja dukungan emosional dari keluarga dan teman merupakan dukungan yang paling efektif dalam mencegah depresi. Dengan adanya perasaan diterima yang berdampak pada peningkatan harga diri. Sehingga remaja akan memberikan penilaian diri secara positif. (*)

Berita Terkini