Berita Banjarmasin
RSUD Ansari Saleh Rawat Pasien Suspect Cacar Monyet, Begini Hasil Tesnya
RSUD Ansari Saleh merawat seorang pasien dengan gejala yang mencurigakan, mengarah pada penyakit cacar monyet atau monkeypox
Penulis: Rifki Soelaiman | Editor: Hari Widodo
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. H Moch Ansari Saleh Banjarmasin baru-baru ini merawat seorang pasien dengan gejala yang mencurigakan, mengarah pada penyakit cacar monyet atau monkeypox.
Pasien tersebut dirawat sejak Kamis, 29 Agustus 2024, dan sempat dicurigai menderita penyakit yang telah menjadi perhatian global ini.
Menurut Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD Ansari Saleh, Ida S Hayati, pasien tersebut menunjukkan sejumlah gejala yang mengkhawatirkan.
“Pasien bergejala lesu, demam, ruam, serta pembengkakan pada kelenjar getah bening atau kelenjar limfa. Kriteria ini mengarah kepada gejala cacar monyet, sehingga pasien langsung kami curigai sebagai suspect," jelasnya kepada BPost, Sabtu (31/8/2024).
Baca juga: Ada Laboratorium Pemeriksaan di Banjarbaru, Dua Gejala Mpox atau Cacar Monyet ini Harus Diwaspadai
Baca juga: Laboratorium Pemeriksaan Ada di Banjarbaru Kalsel, Simak Gejala Cacar Monyet atau Mpox
Untuk memastikan diagnosis, pihak rumah sakit segera melakukan serangkaian pemeriksaan laboratorium yang hasilnya keluar pada 30 Agustus 2024 kemarin.
"Setelah hasil tes laboratorium keluar, ternyata pasien negatif cacar monyet," ungkap Ida.
Meski begitu, pasien tetap ditempatkan di ruang isolasi selama pemeriksaan berlangsung, sebagai langkah mitigasi mengingat penyakit ini bersifat menular.
Lebih lanjut, Ida menjelaskan bahwa gejala yang muncul pada pasien tersebut disebabkan oleh pengobatan sebelumnya yang berdampak pada sistem imunitasnya.
"Kemunculan gejala itu lebih terkait dengan kondisi imunitas pasien yang terpengaruh oleh pengobatan sebelumnya, bukan karena infeksi cacar monyet," katanya.
Meski hasil tes menunjukkan negatif, RSUD Ansari Saleh tetap waspada terhadap ancaman cacar monyet. Penyakit ini telah dinyatakan sebagai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (KKMMD) oleh WHO.
"Meskipun hasilnya negatif, kami tetap mengikuti protokol WHO dan terus meningkatkan kewaspadaan," tambah Ida.
Menurut Ida, cacar monyet pertama kali ditemukan di Indonesia pada tahun 2022 dengan satu kasus, sempat mengalami peningkatan pada 2023 dengan 73 kasus, dan 14 kasus pada 2024.
“Meskipun ada penurunan kasus, sampai saat ini kami tetap mengikuti aturan dari WHO untuk tetap waspada terhadap cacar monyet itu," tutupnya.
Baca juga: Cacar Monyet Mengancam, Dinkes Kalsel Minta Kantor Kesehatan Pelabuhan Tingkatkan Pengawasan
Cacar monyet, atau monkeypox, adalah penyakit viral langka yang disebabkan oleh virus monkeypox, mirip dengan virus penyebab cacar pada manusia. Penyakit ini ditandai dengan munculnya ruam atau lesi pada kulit, demam, serta pembengkakan kelenjar getah bening.
Virus ini dapat menyebar melalui kontak dekat dengan cairan tubuh, lesi kulit, atau benda yang terkontaminasi. Meskipun tergolong langka, penyakit ini telah menjadi perhatian global setelah beberapa kasus dilaporkan di berbagai negara, termasuk Indonesia. (Banjarmasinpost.co.id/rifki soelaiman)
| BNN Minta Peredaran Vape Dilarang, Penjual di Banjarmasin Sebut Wacana Terburu-buru |
|
|---|
| 337 Bangunan di Banjarmasin Barat Berada di Sempadan Sungai, Pendataan Baru di Dua Kawasan Jalan Ini |
|
|---|
| Cegah Aksi Balap Liar Pada Waktu Salat Jumat, Polisi Gelar Patroli di Jalan Mulawarman Banjarmasin |
|
|---|
| Tanggapi Usul Wacana Larangan Peredaran Vape, Wakil Ketua Komisi II DPRD Banjarmasin Buka Suara |
|
|---|
| Jumlah Kasus Kekerasan di Banjarmasin Januari Hingga Maret 2026, Korban Terbanyak Wanita |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/serangan-virus-monkeypox-penyakit-cacar-monyet-yang-pertama-kali-muncul-di-singapura.jpg)