Sukses Story
Pengalaman Lebih Berharga dari Materi
Kisah tersebut tercermin dalam perjalanan hidup Ustadz Dr Ir Syahrial Shaddiq MEng MM MSi seorang akademisi muda
Penulis: Salmah | Editor: Kamardi Fatih
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Kesuksesan tidak pernah lahir secara instan. Di balik setiap pencapaian besar selalu terdapat perjalanan panjang yang penuh perjuangan, kerja keras, pengorbanan, serta doa yang tak pernah putus.
Kisah tersebut tercermin dalam perjalanan hidup Ustadz Dr Ir Syahrial Shaddiq MEng MM MSi seorang akademisi muda yang dikenal sebagai sosok pembelajar sejati. Apa dan bagaimana sosok dosen satu ini? Berikut petikan wawancaranya.
Bisa diceritakan masa kecil hingga masa sekolah?
Saya lahir di Kelua, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan pada 18 Mei 1993, saya tumbuh dengan semangat belajar yang tinggi.
Sejak muda, saya memiliki keyakinan, pendidikan merupakan jalan utama untuk mengubah masa depan.
Prinsip hidup yanf sederhana namun kuat; belajar, berusaha, berdoa, dan bertawakal kepada Allah Subhannahu Wa Ta’ala.
Anda dikenal sebagai pembelajar sejati, bagaimana menurut Anda?
Bagi saya, belajar bukan sekadar kewajiban, tetapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup atau life style.
Sejak masa kuliah, saya dikenal sebagai mahasiswa yang tekun dan fokus dalam menuntut ilmu. Waktu dan energi banyak saya habiskan di ruang kelas, perpustakaan, laboratorium, dan berbagai kegiatan akademik.
Bagaimana hingga Anda bisa meraih berbagai gelar akademik di usia muda?
Dedikasi terhadap ilmu pengetahuan itulah yang membuahkan hasil luar biasa. Alhamdulillah, di usia yang relatif muda, saya berhasil meraih berbagai gelar akademik dari sejumlah perguruan tinggi ternama di Indonesia.
Saya memperoleh gelar Sarjana Teknik, Master of Engineering dan Doktor di bidang teknik elektro dan ekonomi, khususnya manajemen sumber daya manusia dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, serta Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.
Ketiga jenjang pendidikan tersebut saya selesaikan dengan prestasi akademik yang sangat membanggakan, yaitu predikat terbaik (the best), dengan pujian (cum laude) dan with distinction.
Tidak berhenti sampai di situ, kecintaan terhadap ilmu pengetahuan mendorong saya terus memperluas wawasan lintas disiplin ilmu.
Saya juga meraih gelar Insinyur, Magister Manajemen, serta Magister Sains dari Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Islam Indonesia, dan Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta dengan IPK sempurna 4,00 (summa cum laude).
Bagaimana Anda mengaplikasikan berbagai bidang ilmu tersebut?
Bidang keilmuannya memang sangat luas, meliputi teknik elektro, manajemen strategik, keuangan syariah, ilmu ekonomi, manajemen sumber daya manusia, teknologi informasi, sistem informasi, hingga ilmu sosial dan pembangunan.
Kombinasi multidisiplin ini menjadikan saya sebagai akademisi yang mampu melihat persoalan dari berbagai perspektif, yaitu perspektif sains dan teknologi dan perspektif sosial humaniora.
Apa saja suka duka saat menuntut ilmu?
Perjuangan yang tidak selalu mudah. Namun, perjalanan tersebut tentu tidak selalu berjalan mulus. Di balik sederet prestasi akademik, terdapat cerita perjuangan yang penuh tantangan.
Semasa kuliah, saya juga aktif sebagai asisten dosen. Pengalaman ini memberi banyak pelajaran berharga tentang dunia akademik dan pendidikan. Saya belajar bagaimana mengajar, membimbing mahasiswa, serta mengelola kegiatan akademik.
Meski demikian, menjadi asisten dosen juga memiliki tantangan tersendiri. Satu di antara kesulitan yang saya rasakan adalah ketidakpastian pendapatan.
Namun bagi saya, pengalaman tersebut jauh lebih berharga daripada sekadar materi. Saya memandangnya sebagai investasi pengalaman untuk masa depan.
Apa tantangan yang Anda rasakan selama ini?
Satu tantangan terbesar dalam hidup saya adalah ketika menempuh program double degree S2 di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Islam Indonesia (UII).
Program tersebut menuntut disiplin tinggi, manajemen waktu yang ketat, serta kemampuan akademik yang kuat.
Saya harus membagi waktu antara penelitian, perkuliahan dan berbagai kegiatan akademik lainnya.
Namun, dengan ketekunan, kerja keras, serta doa yang tidak pernah berhenti, semua tantangan tersebut dapat ia lalui dengan baik.
Bagaimana kemudian Anda menjadi seorang dosen?
Bagi saya, menjadi dosen bukan sekadar profesi, tetapi merupakan panggilan jiwa. Saya percaya, pendidikan adalah salah satu cara paling efektif untuk membangun masa depan bangsa.
Saat ini, saya berkarier sebagai Dosen Aparatur Sipil Negara (ASN) di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin.
Di lingkungan kampus, saya dikenal sebagai akademisi yang aktif dalam kegiatan pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.
Bidang pengajaran saya juga sangat beragam, mencerminkan latar belakang akademik yang multidisiplin.
Saya mengajar dan berkontribusi dalam berbagai program studi mulai dari ekonomi, akuntansi, manajemen, ekonomi pembangunan, magister ekonomi pembangunan, magister studi pembagunan, magister manajemen, magister kesehatan masyarakat, magister ilmu komunikasi, doktor ilmu manajemen, teknik informatika, farmasi dan kimia (mata kuliah kewirausahaan), teknologi informasi, statistika, sistem informasi, perpajakan, hingga teknik komputer pada jenjang D3, S1, S2, dan S3.
Bagaimana gaya atau pola Anda dalam mengajar?
Dalam menjalankan peran sebagai dosen, saua tidak hanya mengajar, tetapi juga berupaya membangun karakter mahasiswa agar memiliki kompetensi akademik, integritas, serta semangat inovasi.
Anda juga aktif dalam organisasi dan pengembangan keilmuan, bisa diceritakan?
Selain berkarier sebagai akademisi, saya juga aktif dalam berbagai kegiatan organisasi dan pengembangan keilmuan.
Kepercayaan yang diberikan yakni Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Banjarbaru dan Wakil Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Banjarmasin.
Melalui berbagai organisasi profesi, akademik, dan sosial, saya berupaya berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, serta pembangunan masyarakat.
Aktivitas ini sekaligus menjadi wadah untuk memperluas jaringan akademik dan kolaborasi penelitian.
Sebagai akademisi saya juga produktif dalam kegiatan ilmiah, yaitu seminar nasional, konferensi, pelatihan akademik, dan forum diskusi ilmiah, baik sebagai pembicara, narasumber dan trainer.
Kompetensi multidisiplin yang dimiliki membuat saya sering dipercaya menjadi pembicara, narasumber, maupun trainer dalam berbagai kegiatan ilmiah dan profesional.
Saya juga kerap diundang untuk memberikan materi dalam seminar, workshop, pelatihan, dan kuliah umum yang membahas berbagai topik antara lain. Pengembangan sumber daya manusia, Manajemen dan kepemimpinan, Ekonomi dan pembangunan, Teknologi informasi dan digitalisasi, Pendidikan dan pengembangan akademik, Public speaking dan pengembangan diri.
Kemampuan menyampaikan materi secara sistematis, ilmiah, namun tetap komunikatif membuatnya banyak peserta senang dan merasa mudah menerima.
Apa visi masa depan Anda?
Meski telah mencapai berbagai prestasi, saya tetap memegang prinsip bahwa proses belajar tidak pernah berhenti. Bagi saya, ilmu pengetahuan adalah perjalanan panjang yang harus terus dijalani.
Target hidup saya sederhana,.namun bermakna yaitu menjadi insan yang bermanfaat bagi masyarakat serta meraih jabatan guru besar pada usia yang relatif muda.
Saya percaya, kesuksesan sejati bukan hanya diukur dari gelar atau jabatan, tetapi dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain. (Banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin)
Sukses Tak Datang Tiba-tiba
KISAH perjalanan Syahrial Shaddiq memberikan pesan penting bagi generasi muda, kesuksesan tidak datang secara tiba-tiba. Ia lahir dari kombinasi kerja keras, disiplin, konsistensi, keikhlasan dan doa.
Dengan semangat belajar yang tinggi, keberanian menghadapi tantangan, serta komitmen untuk terus berkembang, setiap orang memiliki peluang untuk meraih masa depan yang gemilang.
Perjalanan Syahrial Shaddiq membuktikan bahwa mimpi besar dapat diraih oleh siapa saja yang bersedia berjuang, belajar tanpa henti, dan selalu mendekatkan diri kepada Allah Subhannahu Wa Ta’ala.
Karena pada akhirnya, kesuksesan bukan hanya tentang mencapai tujuan, tetapi tentang perjalanan panjang yang membentuk karakter, integritas, dan kebermanfaatan bagi sesama.(Banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin)
Biodata
Nama: Dr Ir Syahrial Shaddiq MEng MM MSi
Lahir: Kelua, Tabalong, 18 Mei 1993
Usia: 43 tahun
Pekerjaan: Dosen FEB ULM
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Dr-Ir-Syahrial-Shaddiq-MEng-MM-Dosen-FEB-ULM12.jpg)