Berita Tabalong

Dinkes Tabalong Waspadai Munculnya Penularan Difteri, Gencarkan Program Imunisasi

Peningkatan kewaspadaan ini sebagai tindak lanjut adanya surat dari Dinkes Provinsi Kalsel tertanggal 30 Desember 2025 tentang kewaspadaan difteri.

Tayang:
Penulis: Dony Usman | Editor: Ratino Taufik
Banjarmasin Post/Dony Usman
Plt Kepala Dinkes Kabupaten Tabalong, Husin Ansari 

BANJARMASINPOST.CO.ID, TANJUNG - Peningkatan kewaspadaan terhadap potensi adanya penularan difteri saat ini dilakukan jajaran Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tabalong. 

Peningkatan kewaspadaan ini sebagai tindak lanjut adanya surat dari Dinkes Provinsi Kalsel tertanggal 30 Desember 2025 tentang kewaspadaan difteri.

Surat tersebut buntut dari adanya warga Kabupaten Tabalong yang dilaporkan terserang penyakit menular dengan gejala mirip difteri. 

Gejala klinis difteri di antaranya demam ringan hingga sedang, nyeri tenggorokan, sulit menelan atau suara serak, terbentuknya pseudomembran berwarna putih keabu-abuan pada tonsil, faring, atau laring yang mudah berdarah bila dilepas.

Kemudian ada pembesaran kelenjar getah bening leher disertai pembengkakan leher serta gejala toksisitas, seperti lemah, pucat, takikardia, atau penurunan kesadaran. 

Bukan hanya di Tabalong, dalam surat Dinkes Kalsel itu, juga menyebut hal serupa juga ada di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), dan Kabupaten Banjar.

Baca juga: Ruas Jalan Pasar Lama Laut Kembali Dipenuhi Lapak Pedagang, Sejumlah Pengendara Keluhkan Kemacetan

Berdasarkan kondisi itulah, diterbitkan surat dalam rangka meningkatkan kewaspadaan dini dan kesiapsiagaan untuk mencegah keterlambatan deteksi serta penularan lebih luas.

Plt Kepala Dinkes Kabupaten Tabalong, Husin Ansari, saat dikonfirmasi, Selasa (6/1/2026) sore, mengatakan, warga yang dilaporkan terkena penyakit dengan gejala mirip difteri tersebut telah ditangani.

"Ada satu orang umur 13 tahun datang dari luar daerah, awalnya berobat di RSUD H Badaruddin Kasim 4 Desember 2025, lalu dirujuk ke Banjarmasin," katanya.

Dari hasil penanganan dan pemeriksaan laboratorium pada 12 Desember 2025 diketahui gejalanya memang mirip difteri, tapi tidak ada tumbuh pseudomembran berwarna putih keabu-abuan. 

Dengan sudah tertangani itu, saat ini pasien sudah pulang dan pihak keluarga juga sudah diperiksa dengan hasil semuanya negatif difteri.

Meski begitu, tegas Husin, sesuai dengan surat dari Dinkes Kalsel maka pihaknya langsung meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan difteri.

"Apabila ada gejala seperti itu akan segera kami tindaklanjuti supaya tertangani dengan tepat. Ini sudah kami koordinasikan juga dengan seluruh puskesmas," katanya. (banjarmasinpost.co.id/dony usman)


Selanjutnya yang juga sangat penting dengan menggencarkan program imunisasi lengkap mulai dari usia 2 bulan, 4 bulan, 18 bulan dan 5 tahun serta membiasakan pola hidup bersih dan sehat.


Ini dikarenakan kelompok rentan yang terserang difteri ini khususnya anak-anak, remaja, dan individu dengan riwayat imunisasi tidak lengkap.

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved