Berita Banjarmasin
Jenis Sampah yang Paling Komples, Pengamat: Penanganan Plastik Harus Berbasis Hulu–Tengah–Hilir
plastik memiliki rasio volume tinggi namun nilai ekonomi rendah, sehingga tidak menarik dalam rantai daur ulang, terutama untuk plastik tipis
BANJARMASINPOST.CO.ID - PLASTIK adalah salah satu jenis sampah yang paling kompleks dan sulit diatasi secara sistemik. Karakteristiknya yang non-biodegradable menyebabkan waktu urai bisa mencapai ratusan tahun, sehingga akumulasi terus meningkat dari waktu ke waktu.
Selain itu, plastik memiliki rasio volume tinggi namun nilai ekonomi rendah, sehingga tidak menarik dalam rantai daur ulang, terutama untuk plastik tipis dan sekali pakai.
Kompleksitas juga diperparah oleh keberagaman jenis resin seperti PET, HDPE, LDPE, PP, dan lainnya yang memerlukan proses pemilahan dan teknologi berbeda. Ketergantungan industri terhadap plastik sebagai material utama kemasan menjadikannya bagian dari sistem produksi global. Penanganannya tidak cukup di hilir, tetapi harus dari hulu yang menyentuh aspek desain, distribusi, dan konsumsi.
Dampak plastik terhadap lingkungan bersifat multi-skala dan kumulatif. Pada skala perkotaan, plastik menyumbat sistem drainase, memperparah genangan dan banjir. Pada skala ekosistem, plastik mencemari sungai dan laut, mengganggu biota perairan.
Dari sisi kesehatan, mikroplastik telah ditemukan dalam air minum, udara, dan produk pangan. Plastik juga membawa bahan kimia berbahaya berpotensi memicu gangguan hormon, reproduksi, metabolisme, serta penyakit kronis.
Baca juga: Sampah di TPS Didominasi Tas Kresek dan Sedotan, DLH Banjarmasin Siapkan Aturan Baru
Pendekatan penanganan plastik harus berbasis sistem hulu–tengah–hilir. Pada tahap hulu, diperlukan pembatasan produksi plastik sekali pakai, penerapan eco-design, serta inovasi material alternatif yang lebih mudah terurai atau dapat digunakan ulang.
Pada tahap konsumsi, intervensi perilaku menjadi kunci melalui prinsip 4R yaitu tolak agar tidak jadi sampah, kurangi timbulan sampah, manfaatkan ulang jika masih bisa digunakan dan daur ulang menjadi produk baru yang bermanfaat.
Pada tahap hulu, pemilahan sampah dari sumber merupakan fondasi utama untuk meningkatkan efisiensi daur ulang di hilir. Sistem pengelolaan perlu diperkuat melalui integrasi bank sampah, TPS3R, dan industri daur ulang atau TPST di hilir, serta didukung infrastruktur dan regulasi yang konsisten. Tanpa pemilahan dari rumah tangga, seluruh sistem pengelolaan akan mengalami inefisiensi struktural.
Kenaikan harga plastik merupakan momentum strategis yang dapat dimanfaatkan untuk mengurangi konsumsi secara signifikan.
Namun, efektivitas momentum ini sangat bergantung pada respons kebijakan dan perilaku masyarakat. Tanpa intervensi regulasi yang memperkuat pembatasan dan tanpa perubahan pola konsumsi, kenaikan harga hanya akan berujung pada penyesuaian pasar tanpa perubahan struktural dalam sistem pengelolaan sampah.
Solusi yang lebih tepat adalah transisi bertahap melalui substitusi material, pengembangan kemasan berbasis biodegradable atau reusable, serta optimalisasi desain kemasan untuk mengurangi volume plastik. (sul)
| Sampah di TPS Didominasi Tas Kresek dan Sedotan, DLH Banjarmasin Siapkan Aturan Baru |
|
|---|
| Pengerjaan Konstruksi Bendungan Riam Kiwa Ditarget Mulai 2026, Tunggu Proses Ganti Tanaman Warga |
|
|---|
| Dituntut 12 Tahun Penjara, Terdakwa Pembunuhan di Teluk Tiram Banjarmasin Minta Keringanan Hakim |
|
|---|
| PAM Bandarmasih Paparkan Rencana Pembangunan Infrastruktur Air Minum |
|
|---|
| Konstruksi Bendungan Riam Kiwa Banjar Ditarget Mulai 2026, Proses Ganti Tanaman Warga Belum Tuntas |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Dr-Eng-Akbar-Rahman-ST-MT-Pengamat-Lingkungan-02.jpg)