Book Lovers

Istiqomah Terpengaruh Koleksi 1.000 Lebih Buku sang Ayah

Istiqomah Hayati hobi membaca karena faktor keturunan. Ayahnya penghobi baca buku dan di rumah punya banyak koleksi.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Salmah | Editor: R Hari Tri Widodo
banjarmasinpost.co.id
Istiqomah Hayati dengan koleksi bukunya 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Buah jatuh tak jatuh dari pohonnya, demikian kata pepatah. Hal ini tepat ditujukan pada Istiqomah Hayati yang hobi membaca karena faktor keturunan. Ayahnya penghobi baca buku dan di rumah punya banyak koleksi.

Saat SD kelas satu, Istiqomah sudah bisa baca dan ayahnya sering membelikan buku cerita antara lain sejarah nabi, sahabat, yang bukunya tak hanya berupa teks tapi juga gambar-gambar, dan majalah anak-anak antara lain Ananda dan majalah Islam anak Melati.

"Ayah saya suka koleksi buku, beliau punya 1.000 lebih buku yang dipajang di ruang tamu. Pokoknya penuh rak buku, antara lain buku agama, pendidikan, psikologi. Jadi sejak SMP saya suka baca buku ayah," kata wanita kelahiran Samarinda, 21 Desember 1979 ini.

Salah satu buku psikologi yang banyak dikoleksi ayahnya adalah karya tokoh pendidikan dan keagamaan, Prof Dr Hj Zakiah Darajat.

"Saya semakin tertarik karena memperluas wawasan juga mengembangkan diri ke depan, mau jadi apa?" tukas warga Jl Sultan Adam, Banjarmasin ini.

Dulu, cita-cita Istiqomah ingin menjadi dokter, setelah banyak membaca buku ia kemudian beralih cita-cita ingin menjadi pendidik, dan juga jadi psikolog.

Meski suka genre buku agama, pendidikan, psikologi, namun bagi Istiqomah semua genre itu penting. Bahkan ia juga sekali waktu turut membaca novel karya Nadia dan Andrea Hirata atau novel koleksi anaknya. 

“Tempat favorit saya membaca buku antara lain di perpustakaan atau tempat lain yang nyaman. Bisa juga di panti asuhan tempat saya menjadi pengasuh, atau kalau di rumah saya membaca di kamar,” terangnya.

Istiqomah yang punya koleksi buku cukup banyak, juga mencari suasana tenang untuk membaca saat malam atau selesai mengerjakan kegiatan lain, misal selesai menjahit, selesai memasak atau selesai mengetik.

“Buku itu dapat mengubah cara pandang. Seperti halnya saya filsafat, gunanya dapat memahami diri sendiri agar bisa lebih tenang dan bahagia. Sedangkan buku psikologi adalah cara kita memahami diri orang lain. Ini berkorelasi dengan profesi saya,” tukasnya.

Sebagai pendidik dan juga pengasuh panti asuhan, filsafat dan psikologi sangat berkorelasi bagaimana kita berhadapan manusia dan memanusiakan manusia. 

“Sebagai guru, pengasuh dan ibu, saya bisa memahami anak dan murid. Selain itu sadar bahwa pendidikan bukan sekedar mengajar tapi bagainana kita membentuk manusia,” katanya.

Mengenai bacaan buku baru, Istiqomah biasanya dapat informasi dari media sosial. Jika ada kutipan menarik yang ia baca di daftar Pustaka, maka bisa saja ia putuskan untuk membeli buku baru tersebut. 

Dibanding ebook, Istiqomah lebih memilih membaca buku fisik, karena selain lebih nyaman dibaca, jika di lain waktu perlu baca lagi ia lebih mudah mencarinya di rak buku. Pastinya, saat ingin refresh dan mengulang ilmu, ia tinggal ambil bukunya.

Secara manfaat, pastinya Istiqomah merasakan melalui membaca buku menjadi lebih terbuka cara berpikir. Apalagi buku adalah karangan orang dan dari situ kita bisa dapat pengalaman belajar. (Salmah saurin)

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved