Berita Banjarmasin

Tekan Kasus Penyakit Menular dan PTM, Dinkes Banjarmasin Gencarkan Deteksi Dini 

Dinkes Banjarmasin lakukan pemantauan terhadap Penyakit Menular (PM) dan Penyakit Tidak Menular (PTM)

Tayang:
Penulis: Mariana | Editor: Irfani Rahman
Foto Dinkes Banjarmasin
PERIKSA KESEHATAN- Skrining atau deteksi dini penyakit pada warga Banjarmasin. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Pencegahan dan pengendalian Penyakit Menular (PM) dan Penyakit Tidak Menular (PTM) di Banjarmasin digencarkan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarmasin.

Salah satunya melalui kegiatan sosialisasi, advokasi, dan koordinasi dengan lintas sektor.

Upaya tersebut dilakukan secara sinergis bersama seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT), mulai dari Rumah Sakit (RS), Puskesmas, Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota (IFK), hingga Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas).

"Dilakukan pelayanan kesehatan komprehensif yang mencakup deteksi dini (skrining) hingga penatalaksanaan penyakit secara tuntas," jelas Plt Kepala Dinkes Kota Banjarmasin, dr Dwi Atmi Susilastuti, Senin (25/5/2026).

Dijelaskannya, PTM sering menjadi silent killer karena gejalanya yang kerap diabaikan oleh masyarakat. 

Baca juga: Pasca Tiga Orang Tewas Terlindas Grader di Lawahan Banjar, Proyek Jalan Desa Dihentikan

Baca juga: 24 Pasangan Bukan Muhrim di Tanahbumbu Kepergok Berduaan dalam Kamar, Kasatpol PP Buka Suara

Sebab itu, Dinkes bersama jejaring UPT memperluas jangkauan deteksi dini guna menemukan kasus lebih awal sebelum terjadi komplikasi berat.

​Adapun jenis pelayanan kesehatan dan penatalaksanaan PTM yang menjadi prioritas utama meliputi ​Hipertensi dilakukan pemantauan tekanan darah secara berkala untuk mencegah risiko stroke dan jantung.

Kemudian ​Diabetes Mellitus dilaksanakan deteksi kadar gula darah guna mengontrol dan mencegah komplikasi diabetes.

Selanjutnya ​Kanker, skrining berkala untuk mendeteksi keganasan sejak stadium awal. Serta pada gangguan Jiwa tersedia layanan kesehatan mental dan psikososial yang inklusif di tingkat fasilitas kesehatan dasar.

Sementara itu, pihaknya juga memperketat penanganan terhadap tujuh jenis penyakit menular yang dinilai memiliki risiko penyebaran tinggi di masyarakat. 

Tujuh penyakit menular tersebut adalah Tuberkulosis (TBC), dilakukan pencegahan kontak guna menemukan kasus tersembunyi di lingkungan keluarga dan lainnya.

Kasus ​HIV dilakukan perluasan akses konseling dan tes sukarela untuk memutus rantai penularan secara senyap.

​Deteksi cepat gejala klinis dan penanganan intensif pasien Demam Berdarah Dengue (DBD), di fasilitas kesehatan untuk mencegah syok.

Lalu ​Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dilakukan Pemantauan ketat pola penyebaran penyakit saluran napas, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.

​Skrining aktif dan respons cepat terhadap temuan Campak, yakni adanya kasus demam disertai ruam.

"​Pemantauan ketat terhadap kasus lumpuh layu akut (Acute Flaccid Paralysis) untuk menjaga status bebas Polio, serta ​Difteri mendeteksi gejala klinis khas pada tenggorokan guna mencegah terjadinya kondisi Kejadian Luar Biasa (KLB)," pungkas Atmi.

(Banjarmasinpost.co.id/Mariana)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved