Fikrah

Ramadan Tiba

Puji syukur kepada Allah SWT kita telah memasuki bulan Ramadan. Allah SWT dan Rasul-Nya mengistimewakan bulan Ramadan

Tayang:
Editor: Irfani Rahman
ISTIMEWA
KH Husin Naparin. Ulama Kalimantan Selatan 

KH Husin Naparin Lc MA

Ulama Kalimantan Selatan

BANJARMASINPOST.CO.ID- ALHAMDULILLAH puji syukur kepada Allah SWT kita telah memasuki bulan Ramadan. Allah SWT dan Rasul-Nya mengistimewakan bulan Ramadan daripada bulan-bulan lainnya. Hal ini antara lain tergambar di dalam surah Al Baqarah 185; Allah SWT secara khusus menyebutnya dengan ungkapan : “Syahru Ramadan…” Ketika Allah SWT menyebut nama bulan Ramadan pada ayat tersebut, disitu ditimpali dengan tiga persoalan yang tidak terpisahkan bahwa Ramadan adalah bulan Al-Qur’an, Ramadan adalah bulan puasa dan Ramadan adalah bulan pendekatan diri kepada Allah SWT.

Pendekatan diri kepada Allah SWT diisyaratkan melalui sebuah ayat yang diselipkan di tengah-tengah pembicaraan tentang puasa bahwa: “… Aku (kata Allah SWT) adalah dekat”.

Saat ini penting bagi semua orang beriman yang berpuasa untuk terus meningkatkatkan kualitas ibadahnya di bulan Ramadan. Puasa tahun ini tentu harus lebih baik dari puasa tahun sebelumnya yang telah dilewati.

Jangan sampai merugi sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW “Berapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apapun dari puasanya kecuali lapar. Berapa banyak orang yang bangun malam, tetapi tidak mendapatkan apapun dari bangun malamnya kecuali keletihan berjaga malam (HR. Ibnu Majah dari Abi Hurairah).

Mengenai hadis tersebut, para ulama menyebutkan ada tiga penafsiran yang berbeda. Pertama, hadis ini menyatakan tentang orang-orang yang berpuasa pada siang hari, lalu berbuka dengan makanan haram.

Semua pahala puasanya hilang karena dosa memakan yang haram. Kedua, hadis ini menyatakan orang berpuasa tetapi tidak menjauhkan diri dari maksiat. Mereka beranggapan bahwa akan diampuni pada bulan puasa.

Ketiga, hadis ini menyatakan tentang orang-orang yang berpuasa, namun melakukan ghibah yaitu membicarakan keburukan orang lain. Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa seseorang bertanya kepada Nabi SAW, “apakah yang menyebabkan puasa rusak?” beliau menjawab: “berdusta dan membicarakan keburukan orang lain”. Bahkan sebagian besar ulama berpendapat bahwa hal itu menghilangkan keberkahan puasa.

Rasulullah SAW juga memperingatkan : “Hati-hatilah kalian dengan bulan Ramadan  (bulannya Allah SWT); daripada meremehkan dan menyia-nyiakannya. Sungguh Allah SWT telah menyediakan sebelas bulan buat kalian bersenang-senang. Awaslah kalian terhadap bulan Ramadan”.

Nabi SAW selanjutnya menerangkan : “Di bulan Ramadan, kepada umatku diberikan lima perkara yang tidak pernah diberikan kepada Nabi sebelumku, yaitu : Bila malam pertama bulan Ramadan tiba, Allah SWTpun memandang umatku, dan siapa yang dipandangNya tidak akan diazab selamanya; Bau mulut orang yang berpuasa diwaktu sore lebih harum bagi Allah SWT daripada bau “al-misk” (sejenis minyak wangi terbaik pada masanya);  Para malaikat memohon ampun bagi umatku setiap malam dan siang; Allah SWT memerintahkan sorga agar  berhias diri untuk menyambut umatku sehingga mereka bisa beristirahat daripada problematika kehidupan dunia; Bila malam akhir Ramadan tiba, Allah ampunkan dosa semua mereka”.

Seorang muslim harus paham bahwa berpuasa merupakan latihan keseimbangan yang menuntut manusia agar bisa berhubungan baik dengan Allah SWT dan juga kepada sesama. Jangan beranggapan bahwa amal ibadah akan diterima bahkan segala pahala ibadah akan musnah di hari kiamat kelak manakala masih ada yang masih saling menyakiti orang lain.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah bertanya kepada para sahabat: “Tahukah kamu, siapakah yang dinamakan orang yang bangkrut?”. Sahabat menjawab: “Orang yang bangkrut menurut kami ialah orang yang tidak punya uang dan tidak pula punya harta benda”.

Lalu Nabi bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku ialah datang dihari kiamat membawa (pahala) salat, puasa dan zakat. Namun datang juga dengan membawa dosa karena pernah mencaci seseorang, menuduh (mencemarkan nama baik) orang, memakan harta orang, menumpahkan darah orang dan memukul orang.

Maka amal baiknya akan diberikan kepada orang yang telah ia sakiti, apabila amal baiknya telah habis sebelum utangnya lunas, maka diambil dosa-dosa orang yang telah ia sakiti dan dilemparkan kepadanya, sesudah itu dia dilemparkan ke dalam neraka (HR. Muslim).

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved