Jendela

Perang dan Penonton Perang

Kita hanyalah penonton. Namun, langsung atau tidak langsung, kita akan terkena dampaknya.

Tayang:
Editor: Ratino Taufik
ISTIMEWA
Mujiburrahman, Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin 

Oleh : Mujiburrahman, Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - BAGI kita yang tidak berada di lokasi, perang Amerika-Israel versus Iran yang kini masih berlangsung mungkin terkesan laksana pertunjukan. Rudal-rudal terbang melesat cepat, bercahaya dan menyala, laksana komet-komet yang bertebaran di langit malam.

Kita semula kagum, kemudian ngeri ketika menyaksikan kepulan asap ledakan, mayat-mayat bergelimpangan dan puing-puing kehancuran di bumi. Alangkah cerdasnya manusia yang membuat senjata secanggih itu! Alangkah kejamnya pula manusia yang menggunakan senjata itu untuk menghancurkan sesama manusia!

Mayoritas kita, termasuk warga Amerika, Israel dan Iran, bukanlah pembuat senjata itu, bukan pula para pemimpin yang memutuskan penggunaannya dalam perang. Kita hanyalah penonton. Namun, langsung atau tidak langsung, kita akan terkena dampaknya.

Yang umum adalah dampak ekonomi, yakni kenaikan harga minyak yang akan memaksa kenaikan harga-harga lainnya. Yang paling terdampak tentu warga yang berada di kawasan perang. Mereka dihantui rasa takut, menderita akibat kehancuran tempat tinggal dan berbagai fasilitas umum hingga keluarga yang terbunuh.

Sebagai penonton yang terdampak perang ini, apa kiranya yang bisa kita lakukan? Tentu sangat sedikit. Kita bisa bersimpati pada para korban melalui pesan yang kita kirim di media sosial, media cetak dan elektronik, atau menyumbang sedikit uang untuk bantuan kemanusiaan.

Namun jangan berharap banyak akan hasilnya. Jangankan protes orang biasa seperti kita, resolusi Dewan Keamanan PBB saja tak dihiraukan oleh Israel dan Amerika. Bagitu pula, bantuan kemanusiaan yang dikirim tidak selalu sampai ke tujuan. Akhirnya, kita hanya bisa berdoa untuk para korban itu.

Sebenarnya, sejak ribuan tahun yang lalu, manusia hidup dalam dua keadaan: perang dan damai. Namun, mengapa pada satu masa, manusia memutuskan untuk perang? Jawabnya ternyata tidak tunggal. Mungkin karena ingin memperluas wilayah kekuasaan atau karena ingin balas dendam.

Mungkin pula sekadar membela diri karena diserang lawan. Mungkin lagi karena ingin mengalihkan perhatian publik dalam negeri kepada musuh bersama di luar negeri. Mungkin juga karena ingin terlepas dari penindasan dan ketidakadilan. Dan masih banyak kemungkinan lainnya.

Begitu pula, hasil akhir perang tidak selalu sesuai dengan harapan para pembuat keputusan. Perilaku manusia sulit diramal, karena dia dianugerahi kebebasan untuk memilih. Selain itu, tidak semua hal bisa dikendalikan manusia, meskipun dia berkuasa, bersenjata dan kaya raya.

Meskipun Amerika punya persenjataan yang amat hebat, tetapi akhirnya kalah juga dalam perang di Vietnam, dan tak sepenuhnya bisa mengendalikan Afghanistan. Apalagi, kekuatan militer dan ekonomi dunia tidak hanya dimonopoli oleh Amerika. Masih ada Cina, Rusia dan negara-negara Eropa.

Di sinilah muncul pertanyaan filsafat. Apakah manusia menciptakan atau diciptakan oleh sejarah? Apakah manusia laksana gabus yang tak berdaya dihempaskan ombak ke tepi pantai, atau laksana kapal yang melawan gelombang? Dalam berbagai upaya menjawab soal yang musykil ini, para pemikir umumnya menyatakan bahwa manusia adalah kedua-duanya: dia menciptakan dan diciptakan oleh sejarah. Manusia bebas sekaligus terbatas. Dalam kebebasan, manusia harus memilih antara yang baik dan buruk, benar dan salah. Dalam keterbatasan, manusia hanya bisa pasrah.

Jika pasrah menunjukkan sikap realistis dan pengakuan akan kelemahan dan keterbatasan diri, maka kebebasan menuntut tanggungjawab. Seorang pemimpin yang memutuskan untuk berperang atau tidak, mendukung satu pihak atau netral, semua keputusannya itu wajib berdasarkan pertimbangan kemaslahatan masyarakat yang dipimpinnya bahkan umat manusia sebagai wujud tanggungjawab yang diberikan kepadanya. Di sisi lain, masyarakat wajib menegur dan mengingatkan sang pemimpin jika keputusan perihal perang itu merugikan mereka dan umat manusia.

Sekilas, apa yang dikemukakan di atas adalah sederhana dan mudah diterapkan. Namun, mengapa dalam kenyataan tidak demikian? Saya kira karena sebelum membuat keputusan, baik sebagai pemimpin ataupun masyarakat, manusia sebagai pribadi harus memutuskan terlebih dahulu di dalam dirinya sendiri. Inilah perang yang paling dasar. Apakah dia mengikuti hawa nafsu ataukah menuruti suara nurani kemanusiaan? Apakah dia takut atau berani menyatakan kebenaran? Apakah dia siap menerima resiko terburuk akibat keputusannya itu?

Mungkin inilah maksud sabda Nabi ketika pulang dari sebuah peperangan: “Kita pulang dari jihad yang kecil kepada jihad yang besar”. “Apa jihad yang besar itu?” tanya sahabat. “Jihad melawan hawa nafsu,” kata Nabi.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved