Jendela
Perang dan Penonton Perang
Kita hanyalah penonton. Namun, langsung atau tidak langsung, kita akan terkena dampaknya.
Tak mudah mengendalikan hawa nafsu. Tanpa nafsu, kita tidak bisa hidup, tetapi menuruti nafsu tanpa kendali moral akan membuat kita lebih buruk dari binatang. Nafsu mendorong manusia untuk mendapat kenikmatan fisik (makan-minum, seks, dan sarana hidup) dan kesuksesan (kekayaan, kekuasaan, dan ketenaran). Nafsu ini, jika terkendali, merupakan penggerak kebudayaan.
Karena itu, terlepas kita adalah pemimpin atau orang biasa, kita semua menghadapi perang setiap hari di dalam diri kita. Perang terhadap musuh yang tak boleh dibunuh, tetapi harus ditundukkan dan dikendalikan. Jika kita tak mengendalikannya, maka dialah yang akan mengendalikan kita.
Itulah nafsu, dorongan-dorongan hewani dan egoistik dalam diri kita. Perang nafsu ini tak kasat mata, tetapi hasilnya tampak dalam sikap, keputusan, dan perilaku kita. Hasil perang inilah yang membuat bom atom diledakkan, rudal-rudal ditembakkan, dan genosida dilakukan atas sesama manusia. Jadi, jika nafsu menguasai diri kita, secara potensial kita pun bisa menjadi Trump dan Netanyahu! (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Rektor-Universitas-Islam-Negeri-UIN-Antasari-Mujiburrahman-19062023.jpg)