Jendela
Perang dan Ramalan Masa Depan
Kita tetap berdoa semoga dunia kita nanti akan lebih baik. Siapa tahu, di balik gelap akan terbit cahaya
Mujiburrahman, Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin
BANJARMASINPOST.CO.ID- KAPAN perang Iran melawan Amerika-Israel akan berakhir? Apakah, karena tekanan ekonomi yang makin berat kepada banyak negara di dunia akibat perang ini, para pihak akan melunak? Jika tidak, apakah akan terjadi perang berkepanjangan, semacam perang dunia ketiga? Seberapa berat dampak ekonomi perang ini terhadap kita? Apakah politik di tanah air akan bergolak? Apakah anggaran MBG akan dikurangi atau dialihkan?
Meskipun kita tak tahu pasti, kita tetap penasaran, mencari-cari jawaban, apa gerangan yang akan terjadi di masa depan? Rasa penasaran ini wajar karena manusia tidak hanya berpikir untuk hari ini, tetapi juga terhubung dengan masa lalu dan masa depan. Jejak-jejak masa lalu, membentuk hari ini, dan membentang ke masa depan. Betapa pun kerasnya imbauan filsuf Stoik agar kita fokus pada keadaan saat ini supaya tidak galau, kita tetap tak bisa lepas dari pikiran tentang masa lalu dan masa depan. Yang bisa kita dikendalikan paling hanya besar-kecil perhatian kita itu.
Masa depan yang paling membuat penasaran adalah nasib kita sendiri sebagai pribadi. Tanda-tanda unik yang tampak di fisik, keadaan alam dan mimpi orangtua menjelang kelahiran anaknya, konon bisa menjadi petunjuk bagi masa depan si anak. Selain itu, nama juga bisa dijadikan dasar ramalan. Nilai huruf-huruf dari nama itu dihitung, apakah dia akan berhasil jika terjun ke dunia bisnis, politik atau berjodoh dengan seseorang. Ada juga ramalan nasib berdasarkan bintang seseorang yang ditentukan sesuai tanggal lahirnya (horoskop). Tentu masih ada cara-cara meramal lainnya.
Di sisi lain, manusia modern lebih percaya pada ramalan yang bersifat ilmiah, yakni diuraikan secara rasional berdasarkan fakta yang ditemukan. Di sini ramalan berpijak pada kerangka hukum sebab-akibat, baik hukum alam ataupun hukum sosial. Jika peramal tradisional disebut ‘dukun’ atau dalam bahasa Inggris disebut fortune teller, maka peramal ilmiah ini disebut ‘futurologist’, yakni ahli masa depan. Di abad ke-20 lalu, kita mengenal nama-nama seperti Alvin Toffler, John Naisbitt dan Patricia Aburdene. Mungkin Samuel Hantington dan Francis Fukuyama juga termasuk peramal jenis ini.
Apakah ramalan-ramalan itu, baik yang tradisional ataupun yang ilmiah, terbukti benar atau tidak? Secara umum, karena sifatnya ramalan, maka tidak ada yang mutlak benar atau mutlak salah. Kadangkala ia cocok dengan kenyataan, dan kadangkala tidak. Inilah misteri kehidupan. Misteri adalah rahasia yang jika tersingkap akan memunculkan lagi rahasia baru. Manusia pada akhirnya akan terbentur pada kenyataan bahwa dirinya serba terbatas. Ilmu, kekuatan, ruang dan waktu, yang tersedia baginya jelas terbatas. Karena itu, dia tak mungkin meraih kebenaran mutlak.
Di sisi lain, manusia mengembangkan ilmu dengan berpijak pada hukum sebab-akibat. Sebab selalu mendahului akibat, sehingga akibat berada di masa depan. Sebab-akibat dalam dunia fisik seperti yang dikaji dalam ilmu-ilmu alam, lebih besar membuka kemungkinan terwujud dibanding sebab-akibat dalam kehidupan manusia. Kehidupan manusia jauh lebih rumit dan kompleks dibanding benda-benda, tumbuhan dan hewan. Karena itu, ramalan ilmiah tentang alam fisik, tumbuhan dan hewan jauh lebih sering terbukti kebenarannya dibanding ramalan ilmiah tentang manusia.
Dengan demikian, siapapun yang mengkaji alam fisik, tumbuhan dan hewan, apalagi manusia, wajib memiliki kerendahan hati. Seorang ilmuwan sejati tidak akan berani berkata, “Nanti pasti akan terjadi begini dan begitu”. Sebaliknya, dia akan berkata, “Jika keadaannya begini, maka kemungkinan besar yang akan terjadi begitu. Itu pun jika ‘keadaan’ tadi sudah benar-benar kita pahami.” Adapun ilmuwan gadungan atau peramal komersial justru sebaliknya. Dia akan memberikan jawaban yang serba pasti dan penuh keyakinan. Kita tentu bisa terpukau, tetapi kelak mungkin akan kecewa.
Mungkin inilah sebabnya, Al-Qur’an mengingatkan manusia agar jangan menjadi sok tahu tentang masa depan. “Jangan sekali-kali kau berkata terhadap sesuatu, sesungguhnya aku akan melakukan itu besok” (QS 18:23). Dalam ayat yang lain disebutkan: “Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dia kerjakan besok. (Begitu pula,) tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati” (QS 31: 34). Yang dilarang ayat-ayat ini adalah memastikan apa yang akan terjadi, bukan menyangkal petunjuk-petunjuk ilmu yang sifatnya terbatas.
Di sini mungkin muncul pertanyaan, mengapa ada larangan dalam agama untuk percaya pada dukun? Mungkin sekurang-kurangnya ada dua alasan. Pertama, ramalan dukun dan sejenisnya, termasuk ramalan astrologi berdasarkan bintang, secara sadar atau tidak, telah menyangkal potensi asasi yang dimiliki manusia untuk mengetahui, yaitu fungsi indera dan akalnya. Kedua, bagi kaum beriman, di luar indera dan akal, memang ada sumber ilmu lainnya, yakni wahyu kepada para Nabi dan ilham kepada orang-orang saleh. Namun, ramalan dukun dan sejenisnya tidak termasuk jenis ini.
Karena itu, tugas kita sebagai manusia bukanlah memastikan apa yang akan terjadi di masa depan, tetapi menyiapkan diri dan mengantisipasi apa yang harus kita lakukan hari ini berdasarkan ilmu yang kita miliki. Apa persiapan kita jika harga minyak melambung? Meski terbatas, ilmu adalah petunjuk agar kita bisa bersikap dan bertindak dengan penuh perhitungan dan tanggung jawab. Di sisi lain, kesadaran bahwa ilmu kita terbatas, maka fokus kita tidak boleh pada hasil akhir, melainkan pada usaha dan proses yang kita jalani karena apa yang terjadi nanti sesungguhnya di luar kendali kita.
Akhirnya, dengan kesadaran akan keterbatasan diri itu, lebih-lebih menghadapi urusan besar seperti perang saat ini, kita senantiasa memohon rahmat dan pertolongan Dia Yang Maha Tak Terbatas. Jelas bahwa genosida di Gaza dan perang Iran melawan Amerika dan Israel kali ini adalah sepotong sejarah hitam kelam umat manusia. Namun, kita tetap berdoa semoga dunia kita nanti akan lebih baik. Siapa tahu, di balik gelap akan terbit cahaya. Seperti kata orang, langit yang paling gelap justru terjadi beberapa saat sebelum fajar terbit menebar cahaya! (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Rektor-Universitas-Islam-Negeri-UIN-Antasari-Mujiburrahman-19062023.jpg)