Jendela
Membunuh Filsuf
Namun, teknologi hanyalah alat. Ia sangat tergantung pada manusia sebagai penggunanya: digunakan untuk kebaikan atau keburukan,
Mujiburrahman, Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin
BANJARMASINPOST.CO.ID- HINGGA hari ini, dunia masih dihadapkan pada gejolak perang di Timur Tengah, antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel. Salah seorang tokoh yang menjadi korban perang ini adalah Ali Larijani (1958-2026), Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, yang terbunuh dalam serangan Israel pada 17 Maret 2026 lalu. Filsuf Rusia, Aleksandr Dugin, mengaku pernah berdiskusi dengan Larijani tentang “akal ke-10” dalam pandangan filsuf Muslim Persia, Suhrawardi (1154-1191), hingga membuat penerjemah kesulitan menerjemahkan percakapan mereka.
Yang lebih menggelitik lagi adalah komentar Dugin menyusul kematian Larijani itu: “Why do you kill philosophers? They are so rare. Now he is in heaven. We are still in hell.” (Mengapa kalian membunuh para filsuf? Mereka itu sangat langka. Sekarang, dia [Larijani] di surga. Kita justru masih di neraka). Filsuf memang makhluk langka. Bagaimana tidak, jangankan menjadi filsuf, mendengar kata “filsafat” saja, telinga sebagian orang sudah alergi gatal-gatal. Apalagi jika dikaitkan dengan karier. Berapa banyak lowongan kerja formal yang khusus untuk sarjana filsafat? Saya kira sedikit.
Dalam dunia yang sangat pragmatis (yang penting menguntungkan bagiku dan kelompokku saat ini dan jangka pendek), filsafat jelas tidak menarik. Apalagi bagi para politisi, yang kemaruk kekuasaan dan kekayaan. Bagi para gila kuasa dan harta itu, yang penting menang dan musuh ditumpas habis. Tak peduli yang dibunuh adalah seorang ilmuwan, cendekiawan, ulama, atau filsuf. Tak peduli yang hancur dan terbakar adalah gedung-gedung bersejarah dan buku-buku yang menyimpan ilmu. Nafsu menang, kaya dan berkuasa, membuat manusia jauh lebih buas dari binatang buas sekalipun!
Selain pragmatisme, alam pikir yang dominan saat ini adalah materialisme dalam arti segala sesuatu diukur berdasarkan nilai ekonomis alias uang. Ilmu-ilmu sosial dan humaniora, termasuk filsafat dan ilmu agama, seringkali dinilai rendah dibandingkan sains, matematika, dan teknologi. Seorang ahli sejarah poskolonial, Farish A. Noor, pernah menggugat anggapan yang merendahkan ilmu-ilmu sosial dan humaniora ini. Baginya, pertanyaannya bukanlah, apakah kita membutuhkan ilmu-ilmu sosial dan humaniora, tetapi apa akibatnya jika kita tidak lagi mempelajari ilmu-ilmu tersebut?
Kita tentu bersyukur dan berbangga bahwa sains dan teknologi modern telah membuat hidup kita lebih mudah. Teknologi mampu melipatgandakan kekuatan, kecepatan, dan (kadangkala juga) ketepatan kita dalam bersikap, bertindak, bahkan berpikir. Namun, teknologi hanyalah alat. Ia sangat tergantung pada manusia sebagai penggunanya: digunakan untuk kebaikan atau keburukan, keadilan atau kezaliman. Selain netral terkait moral, sains dan teknologi tidak memberikan jawaban tentang makna hidup: Mengapa kita hadir di dunia ini? Apa tujuan hidup ini? Mengapa ada suka dan duka?
Apakah masyarakat modern masih mempelajari filsafat? Ya, tetapi semakin menjauh dari makna filsafat yang berlaku di abad pertengahan. Menurut pemikir Muslim kontemporer, Seyyed Hossein Nasr, filsafat dalam budaya Barat modern adalah sejenis wacana akademis belaka, atau lebih buruk lagi, semacam otak-atik intelektual atas berbagai masalah tanpa solusi yang jelas. Padahal, dalam pengertian klasik, filsafat adalah cinta atau rindu akan kebijaksanaan. Filsafat bukan sekadar olah pikir dan adu argumentasi, melainkan suatu upaya menemukan kebijaksanaan hidup.
Karena itu, menurut filsuf Muslim abad pertengahan asal Spanyol, Ibnu Rusyd (1126-1198), agama dan filsafat itu tidak bertentangan, tetapi saling menguatkan. Dia menyebut agama dengan ‘syari’ah’ dan filsafat dengan ‘hikmah’. Syariah bersumber dari wahyu Allah, sedangkan hikmah berasal dari pengkajian akal dan indera manusia. Hikmah mengkaji apa yang wujud/ada, yakni alam dan manusia. Dengan mengkaji apa yang ada, manusia akan mengenali Tuhan yang menciptakan segala yang ada. Di sinilah akhirnya hikmah bertemu dengan syariah, dan sains bertemu dengan agama.
Jika kita melihat dunia saat ini, termasuk kondisi tanah air, sesungguhnya umat manusia sudah sangat maju di bidang sains dan teknologi, tetapi tampaknya semakin hari semakin jauh dari kebijaksanaan hidup. Kemajuan sains dan teknologi telah mengantarkan manusia kepada era industri, era informasi, hingga era teknologi digital dan kecerdasan buatan. Namun, apakah kehidupan manusia makin adil dan makmur? Ternyata justru makin timpang. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Yang kuat menindas yang lemah. Yang mati kelaparan masih banyak. Yang bunuh diri juga banyak.
Ketimpangan itu terutama karena para pemimpin, termasuk kaum terpelajar, semakin jauh dari kebijaksanaan hidup. Mereka lebih memilih perang ketimbang damai. Mereka lebih mengutamakan nafsu serakah ketimbang keadilan. Mereka menggunakan teknologi bukan untuk mengasihi, tetapi menghancurkan, sesama manusia. Berkat teknologi, mereka dengan mudah mendapatkan informasi yang berlimpah, tetapi justru menutup mata dan telinga dari apa yang baik, benar dan adil. Lebih buruk lagi, mereka mengancam bahkan membunuh orang-orang yang mengkritik mereka.
Ribuan tahun silam, filsuf Yunani, Socrates, telah dibunuh oleh penguasa. Murid Socrates, Plato, berteori, jika kita ingin memiliki negara yang adil, maka rajanya harus seorang filsuf. Hal serupa juga dikemukakan filsuf Muslim, al-Farabi, dalam impiannya tentang ‘negara utama’. Namun, betapa langka filsuf yang bisa menjadi penguasa! Pilihan lain adalah, jika seorang penguasa bukan seorang filsuf, dia harus didampingi oleh filsuf sebagai penasihat. Sayangnya, seringkali penguasa itu angkuh dan enggan dinasihati. Lebih buruk lagi, penasihatnya bukanlah filsuf tetapi penjilat belaka!
Alhasil, sains dan teknologi, yang mempelajari segala wujud yang bendawi dan jasmani, memang penting bagi kemudahan hidup manusia. Namun, manusia tidak hanya terdiri dari tubuh dan otak, tetapi juga jiwa dan ruh. Jika manusia sibuk mengkaji dan mengembangkan hal-hal yang sifatnya bendawi dan jasmani saja, maka dapat dipastikan dia akan kehilangan kemanusiaannya. Mesin dan manusia, akhirnya tak ada beda! (*)
Jika manusia sibuk mengkaji dan mengembangkan hal-hal yang sifatnya bendawi dan jasmani saja, maka dapat dipastikan dia akan kehilangan kemanusiaannya. Mesin dan manusia, akhirnya tak ada beda!
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Rektor-Universitas-Islam-Negeri-UIN-Antasari-Mujiburrahman-19062023.jpg)