Kolom

Gaji Serius, Kerja Misterius?

Guna menghemat energi transportasi, setiap hari Jumat, sebagian Aparatur Sipil Negara (ASN) akan bekerja dari rumah (WFH)

Tayang:
Editor: Irfani Rahman
Foto Ist
Mujiburrahman, Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin 

Namun, mereformasi birokrasi di negeri ini tidaklah mudah. Bagi orang yang malas, bukti kehadiran elektronik tetap bisa diakal-akali. Ada yang datang hanya untuk memindai jari atau wajah, dan setelah itu pergi entah ke mana. Ada yang konon bisa ‘mewakilkannya’ ke teman lain.

Sebenarnya, atasan langsung si ASN yang malas itu juga tahu, namun dia tidak menegur dengan tegas. Mungkin dia takut. Mungkin pula, dan ini cukup banyak, dia tipe orang yang menghindari konflik, bermental cari selamat dan ingin baik pada semua orang sehingga dia tidak berani menegur bawahannya.

Kalau dicermati, tampaknya ada berbagai sebab yang membuat ASN itu malas. Pertama, dia besar pasak daripada tiang, lebih besar pengeluaran daripada pendapatan sehingga gajinya tergadai di bank.

Tiap bulan gajinya dipotong oleh bank dan yang tersisa sangat sedikit bahkan nol. Akibatnya, dia malas bekerja. Kedua, ada lagi yang “balas dendam”. Semula dia honorer yang sering ditumpuki pekerjaan. Setelah diangkat jadi ASN, dia mulai bertingkah dan malas-malasan. Ketiga, karena sudah terbiasa cari tambahan di luar, maka saat gaji sudah besar pun, dia lebih suka sibuk di luar!

Namun, bukan berarti bahwa mayoritas ASN suka malas-malasan. Sependek pengamatan saya, para ASN itu umumnya rajin datang ke kantor. Yang malas itu tidak banyak, tetapi karena seringkali yang malas itu tidak ditindak, maka yang sedikit itu kadangkala memengaruhi yang banyak.

Karena itu, pengawasan atasan langsung, penegakan disiplin dan sanksi yang tegas bagi yang malas, serta keteladanan pimpinan, adalah kunci penting untuk meningkatkan kinerja ASN. Orang yang selalu cari aman dan takut menegur atau sulit berkata “tidak” sebaiknya jangan jadi pimpinan!

Selain itu, bekerja dari rumah bukan berarti libur kerja. Ini bekerja! Sebagian ASN memang ada yang berpikir, WFH itu libur. Ini tampak di zaman Covid-19 dulu. Sekarang, keadaannya sudah berbeda.

Kita sudah terbiasa dengan layanan elektronik. Kita juga bisa mengerjakan dan mengirim hasil pekerjaan secara elektronik dari manapun. Misalnya, di UIN Antasari, sejak 2022 lalu, layanan surat dan administrasi untuk mahasiswa sudah serba elektronik melalui aplikasi SalamAntasari! Sejak awal 2025, kami juga adalah UIN pertama yang menggunakan aplikasi Srikandi untuk persuratan.

Akhirnya, dalam pengamatan saya, ASN yang rajin senantiasa sejahtera hidupnya, dan seringkali lancar pula kariernya. Siapa yang ikhlas memberi lebih, akan mendapatkan lebih pula, bahkan berlipat ganda.

yang diterima dengan kerja yang sungguh-sungguh adalah gaji yang halal, dan karena itu berkah. Berkah itu gaib, tak terlihat mata, tetapi buktinya akan nyata terasa. Sebaliknya, yang tak jelas kerjanya, yang misterius, tapi gajinya besar alias serius, maka gajinya itu haram atau syubhat, tak berkah bahkan bisa mendatangkan musibah! (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved