Kimcil Istilah Populer Menyebut Pekerja Seks Anak di Malang
Bojoku nakal saiki. Sak bendino ngeloro ati. Ra mikir anak lan istri.
BANJARMASINPOST.CO.ID, MALANG - Bojoku nakal saiki. Sak bendino ngeloro ati. Ra mikir anak lan istri. Sak iki jarang mblanjani. Aku nggak kuat, aku nggak tahan. Penak milih urip dewekan. Bojoku nakal saiki.
Lagu dangdut koploan yang dipopulerkan lya Variesta itu mengalir rancak dari bibir Silvi.
Meskipun tak bisa dibandingkan dengan penyanyi aslinya, suara Silvi jatuh tepat pada ketukan khas koploan.
Suaranya tidak fals meskipun tidak bisa dibilang merdu.
Silvi sudah setahunan ini terjun di dunia malam. Dia menjadi gadis pemandu lagu di sebuah rumah karaoke di kawasan Agrowisata, Kota Batu.
Usianya belum genap 18 tahun. Meskipun belia, dia sudah tiga kali pindah dari rumah karaoke di Malang sampai Batu.
Iming-iming uang menjadi alasan Silvi menggeluti dunia orang dewasa.
“Di sini, uangnya lumayan. Bisa bayar sekolah dan setiap minggu saya rutin kirim ke orangtua untuk biaya sekolah adik-adikku,” tutur anak kedua dari empat bersaudara itu.
Meski belum dewasa, Silvi sama sekali tidak terlihat canggung. Malah, Silvi jauh lebih aktif bila tamu yang dilayaninya pasif.
Rupanya pengalaman telah menjadikan Silvi jauh lebih dewasa dibanding usia sebenarnya.
Dia juga tanpa sungkan menjawab, apakah dirinya melayani booking out, seperti teman-temannya yang sudah dewasa. “Bisa asal semuanya cocok,” katanya.
“Eh.. Mas, kenapa tidak pilih (PSK) yang dewasa. Kok suka pada Kimcil, kita-kita ini,” katanya sembari tertawa.
Silvi menyebut dirinya dengan istilah Kimcil. Istilah ini sudah cukup populer di Malang Raya, lebih-lebih di dunia pekerja seks, yang dijalani Silvi.
Istilah Kimcil itu singkatan dari dua kata yang berkonotasi ayam cilik. Bahasa lugasnya, pekerja seks anak-anak.
Di Surabaya dan kota-kota lain biasa disebut dengan ayam putih abu-abu karena merujuk warna seragam pelajar SMA.