Berita Regional
Studio Damai, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi, Sambil Membaca dan Berdiskusi
Buku-buku yang sebelumnya hanya beredar lewat toko daring akhirnya mendapat pasar baru.
BANJARMASINPOST.CO.ID - Tidak sekadar tempat mengopi, berkumpul dan bicara tak jelas arah tujuannya, Studio Damai hadir berbeda di tengah maraknya bisnis kafe modern di Kota Surabaya, Jawa Timur. Di tempat ini pengunjung juga membaca, berdiskusi, mengerjakan tugas atau hanya duduk lama untuk merenung.
“Sebenarnya tidak sengaja membangunnya. Saya bersama Azis bikin yayasan dan cari kantor kecil di pusat kota dan alhamdulilah dapat tapi kegedean. Kebetulan saya juga berkeinginan punya kafe dan toko buku," cerita Redo Nomadore.
Redo pun membawa koleksi bukunya yang juga dijual secara dan membikin kafe. Buku-buku yang sebelumnya hanya beredar lewat toko daring akhirnya mendapat pasar baru. “Sebenarnya konsepnya toko buku yang ada kafenya,” tutur pria berusia 37 tahun itu.
Namun ia menolak mengunci Studio Damai dalam satu identitas, sebab baginya tempat yang berada di Jalan Joyoboyo Nomor 36 ini lebih tepat disebut ruang. “Tempatnya bisa untuk apa saja lah, karena mindset ku sebenarnya konsepnya space saja, jadi bisa dibuat apa saja. Waktu opening juga ada pameran seni, makanya namanya bukan kafe atau bookstore, tapi studio karena multifungsi,” paparnya.
Buku-buku di sini juga terbilang unik karena tua dan langka. Bahkan ada buku terbitan 1819. “Spesialisasi buku-buku tua dan langka, First edition, kalau untuk genre macam-macam mulai sejarah, sosial politik dan buku-buku natural sains dan ilustrasi. Kita juga punya koleksi peta-peta tua, poster-poster tua,” ujar Redo.
Baca juga: Cemas Konflik Global Picu Harga BBM, Warga Banjarbaru Ini Berharap Harga Kendaraan Listrik Turun
Selama berada di bangunan lantai dua itu, pengunjung bebas membaca di tempat. Namun tidak semua koleksi bisa disentuh sembarangan. “Bila perpustakaan bisa didefinisikan untuk bisa baca buku di sini bisa, tapi dibaca di tempat kalau mau dibawa pulang harus dibeli. Selain itu, ada beberapa buku juga yang tidak bisa dibaca di tempat karena umur, kondisi, dan kelangkaan juga,” katanya.
Seiring berjalannya waktu, Studio Damai membentuk komunitas. “Kebanyakan dari kalangan mahasiswa dan yang sudah kerja tapi suka baca. Akhir-akhir ini didominasi mahasiswa sambil ngerjain tugas,” ujar dia.
Sementara itu, pembeli buku memiliki karakter berbeda. Untuk koleksi langka, pasar Damai Studio justru lebih luas dari Surabaya.
“Kalau untuk yang beli buku rata-rata kolektor. Kalau teman-teman yang nongkrong di sini bukan pembeli, tapi mereka lebih ke kafenya. Mungkin beli buku-buku yang umum yang harganya terjangkau,” tutur Redo.
Kini di Studio Damai, buka setiap hari pukul 13.00–24.00 WIB, dengan jam paling ramai menjelang malam. Namun kopi dan makanan bukan menjadi pusat perhatian pemilik.
“Buat pelengkap saja. Kalau teman-teman datang merasa seperti di ruang tamu rumah saya,” ujar Redo. (kompas/suci rahayu)
| DPRD Kaltim Gulirkan Hak Angket, Merespon Aksi Demo Terhadap Pemerintahan Gubernur Rudy Mas’ud |
|
|---|
| Bisa Dicontoh Petani Kalsel, Kisah Iim Budidayakan Pohon Manggis yang Hasilkan Buah Kualitas Ekspor |
|
|---|
| Diduga Kecewa, Menantu Nekat Bacok Ibu Mertua dengan Golok hingga Tewas |
|
|---|
| Alasan Beli Pisang, Pria Ini Tega Bawa Kabur Motor Teman Sendiri |
|
|---|
| Panik Saat Dikejar Pemilik Motor, Pelaku Curanmor Ini Hilang Kendali hingga Akhirnya Tertangkap |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Studio-Damai-hadir-berbeda-di-tengah-maraknya-bisnis-kafe-modern-di-Kota-Surabaya-Jawa-Timur.jpg)