Ramadan Vibes 2026

Syiar Ramadan: Iktikaf

Inti iktikaf sesungguhnya ialah ibadah rohani, yaitu dengan melakukan muhasabah atau mujahadah.

Tayang:
Editor: Ratino Taufik
Foto Ist
Prof Dr KH Nasaruddin Umar MA, Menteri Agama. 

Nasaruddin Umar, Menteri Agama

BANJARMASINPOST.CO.ID - Salah satu hikmah Ramadan ialah hadirnya malam-malam tertentu untuk melakukan iktikaf di masjid. Iktikaf ialah berdiam diri di mesjid untuk melakukan ibadah dan pendekatan diri kepada Allah Swt. Orang yang melakukan iktikaf disebut muktakif, jamaknya muktakifin. Iktikaf ada syarat dan ketentuannya.

Selama menjalankan iktikaf tidak dibenarkan berhubungan suami-istri, keluar masuk masjid tanpa keperluan, menutup aurat serta memperbanyak amalan ibadah seperti zikir, wirid, tafakur, tazakur, di samping salat dan membaca ayat suci Al-Qur’an. Rangkaian iktikaf harus diawali dengan niat. Iktikaf bisa beberapa hari, khususnya pada 10 hari terakhir bulan Ramadan dan bisa juga beberapa saat.

Inti iktikaf sesungguhnya ialah ibadah rohani, yaitu dengan melakukan muhasabah atau mujahadah. Sebagian ulama berpendapat kalau saja orang bisa melakukan muhasabah dengan dengan baik maka sesungguhnya lebih baik baginya dari pada salat sunat. Muhasabah bisa diisi dengan zikir dan wirid atau tafakur dan tazakur.

Zikir dan wirid sesungguhnya sama, hanya bedanya zikir menyebut dan mengingat nama-nama Allah secara umum tanpa ketentuan. Sedangkan wirid ialah zikir yang sudah diatur jumlah dan ketentuannya secara rutin.

Tafakkur sudah tidak ada lagi bacaan dan hitungan. Yang ada ialah mengingat dan merenung masa lampau kita yang kelam lalu memohonkan ampun kepada Allah SWT. Sedangkan tazakur sudah tidak ada lagi ingatan yang aktif. Yang ada hanyalah ketenangan, kebisuan, dan kepasrahan. Tazakur ketika orang sedang berada pada puncak kekhusyukan, sehingga ia seolah-olah tidak menyadari diri kalau ia sesungguhnya berada pada tingkat kesadaran paling tinggi, tingkatan kesadaran para aulia dan para Nabi.

Iktikaf mempunyai beberapa tingkatan. Iktikafnya orang awam ialah datang ke masjid melakukan rangkaian ibadah formal seperti salat lail, tahajud, witir, mengaji atau tadarusan, sesekali diisi oleh pengajian.

Iktikaf orang khawas lebih dari sekadar itu; bukan mengejar target kuantitas misalnya banyaknya rakaat salat yang harus dilakukan, banyaknya juz Al-Qur’an yang dibaca, dan hebatnya penceramah yang ia dengar. Yang penting bagi khawashul Muktakifin ialah kualitas mujahadah yang dapat diraih. Kalau perlu yang bersangkutan menembus tingkatan mukasyafah yaitu membuka hijab atau tabir yang selama ini menghalangi.

Iktikaf bisa mengantarkan seseorang kepada tingkat kesadaran yang lebih tinggi sehingga kemabruran Ramadan terpancar selalu di wajag orang ini seusai Ramadan. Iktikaf betul-betul menjadi momentum untuk menggunting dosa-dosa langganannya sehingga ia tampil beda seusai kembali ke hari Idulfitri. Beruntunglah orang-orang yang berhasil meraih prestasi iktikaf  sejati seperti ini. Kita berharap dan sekaligus bermohon agar iktikaf kita kali ini lebih intensif dan efektif.

Kualitas iktikaf dapat diukur seberapa tenang dan pasrah pikiran dan hati di dalam menjalankannya. Terkadang tidak terasa kita berada pada ujung malam tanpa sedikitpun merasakan rasa ngantuk dan kelelahan.

Iktikaf dirasakan sebagai sesuatu yang sangat menyenangkan dan samasekali tidak dirasakan lagi sebagai suatu beban. Berbagai ibadah yang dilakukan di dalamnya menyenangkan, seperti tadarus Al-Qur’an dan berbagai salat sunah. Jiwa lembut, hati putih, pikiran lurus, dan akhlk karimah betul-betul terasa di dalam diri yang bersangkutan. Semoga kita bisa meraih indahnya iktikaf.

Di dalam masyarakat modern, terutama yang tinggal di perkotaan, sudah selayaknya memprogram diri untuk mengikuti Iktikaf, baik Iktikaf mandiri, secara perorangan maupun berjemaah. Ini penting untuk memberikan ruang istirahat kepada Rohani atau batin seseorang guna meraih kesegaran kembali setelah dilelahkan oleh berbagai urusan dunia. (*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved