Mahfud Minta PKS Mengaku
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD menyarankan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengakui kesalahan kadernya
BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD menyarankan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengakui kesalahan kadernya dalam kasus dugaan suap pengaturan kuota impor daging sapi. Para kader PKS diimbau tidak reaktif membela. Lebih baik mereka menunggu jalannya sidang.
“Dulu saya pernah menyarankan, kalau KPK itu sudah menjadikan seseorang sebagai tersangka, lebih baik dia segera mengaku. Karena KPK itu kalau menetapkan tersangka, buktinya bukan hanya satu tapi dua. KPK sudah punya bukti, berbulan-bulan dikuntit, ada rekamannya, ada fotonya,” kata Mahfud, di Jakarta, Sabtu (25/5).
Menurut dia, KPK sudah punya bukti kuat untuk menjerat mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq dan teman dekatnya Ahmad Fathanah. Jika tidak mengakui kesalahan, justru bisa dipermalukan di pengadilan.
“Kalau ngotot gitu, itu nanti menjadi lebih malu di pengadilan. Seperti kemarin, kan tidak mengaku, lalu disetel (diputar) di pengadilan lalu mengaku. Bahkan yang disetel di pengadilan bukan soal impor daging, tapi juga pembicaraan soal perempuan, soal dikirimi Pushtun (suku di Pakistan yang terkenal karena perempuannya yang cantik, Red), dan macam-macam gitu kan,” katanya.
Ketua Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) itu mengatakan, kader yang tersangkut kasus korupsi harus siap dihukum dan tidak perlu malu mengakui kesalahan.
“Saya katakan tidak usah malu, sekarang ini tidak ada partai baik atau jelek. Semua partai ada baik dan jeleknya. Di partai yang katanya Islam, koruptornya banyak, walau kiainya banyak. Di partai tidak Islam koruptornya banyak, tapi di situ ada ulama dan ahli agamanya,” katanya.
Mahfud juga mengimbau 45 perempuan yang berdasar temuan Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) diduga menerima aliran dana dari salah satu tersangka kasus impor daging sapi, Ahmad Fathanah, juga mengaku.
“Ya, mudah-mudahan diselesaikan secara baik agar negeri ini baik, dan saya katakan tidak usah malu,” ucapnya.
Mahfud tentu tidak asal melontarkan pernyataan itu. Saat ini, terjadi ‘perlawanan’ dari kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) terhadap KPK yang telah menangkap, menahan dan menjadikan presidennya (ketika itu), Luthfi Hasan Ishaaq dalam kasus dugaan suap dan pencucian uang impor daging sapi.
Mereka kian meradang, karena dalam proses hukum mencuat banyak perempuan yang diduga ikut menerima uang dari Fathanah yang dikenal sebagai orang dekat Luthfi. Bahkan, saat bersaksi di sidang, Fathanah juga mengaku pernah menyumbang PKS.
Kegeraman kian bertambah tatkala penyidik KPK ‘memburu’ seorang perempuan muda –masih duduk di bangku SMA– bernama Darin Mumtazah. Meski tidak ada pernyataan resmi dari KPK, santer beredar kabar Darin adalah ‘orang dekat’ Luthfi.
Salah satu bentuk kegeraman diperlihatkan Wakil Sekjen DPP PKS Fachri Hamzah yang menilai KPK telah memainkan skenario politik dengan melakukan ‘festivalisasi’ perempuan.
Dia pun pernah melontarkan pernyataan lebih baik PKS keluar dari koalisi partai pendukung pemerintah. Terakhir, Fachri juga mengatakan negara tidak rugi apabila KPK dibubarkan.
Seakan menanggapi itu, Ketua KPK Abraham Samad mengatakan lembaganya tidak terpengaruh oleh pernyataan negatif dari sejumlah kader PKS. Pasalnya, penyidik memiliki bukti yang cukup dan sudah pada jalur yang benar dalam pengusutan kasus tersebut.
“Tidak apa-apa dibilang bohong. Tidak masalah. Yang jelas kami punya bukti-bukti dan fakta yang saat ini belum bisa kami ungkap,” kata dia di Sukabumi, Jabar.
Samad juga menegaskan rekaman percakapan yang diperdengarkan di sidang, hanya sebagian dari banyak bukti lain yang dimiliki KPK. “Jelas ada (bukti lain). Masih ada bukti yang belum diungkap. Sabar. Itu akan terungkap di persidangan,” kata Samad