Kalsel Banjir Mainan Non SNI

Kalsel Banjir Produk Mainan Anak-anak Non-SNI, Pemilik Toko Mengaku Dibohongi Produsen

Berbagai mainan anak-anak tak berlabel standar nasional Indonesia (SNI) banyak beredar di Kalimantan Selatan.

Kalsel Banjir Produk Mainan Anak-anak Non-SNI, Pemilik Toko Mengaku Dibohongi Produsen
Harian Banjarmasin Post Edisi Selasa (24/10/2017) Halaman 1 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN -  Berbagai mainan anak-anak tak berlabel standar nasional Indonesia (SNI) banyak beredar di Kalimantan Selatan.

Padahal, produk tersebut berisiko karena bisa mengandung zat kimia di antaranya Timbal (Pb), Merkuri (Hg), Krom (Cr) dan Kadmium (Cd).

Mainan anak tak berlabel SNI dan berbahasa Indonesia ditemukan dalam pemeriksan yang dilakukan petugas Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kalsel dan Yayasan Lembaga Konsumen (YLK) Banjarmasin di dua toko di Banjarmasin, Senin (23/10).

Kedua toko yang khusus menjual mainan itu berlokasi di Jalan Kolonel Sugiono Kecamatan Banjarmasin Barat.

Dari pengecekan di toko mainan yang menjadi agen sejumlah produk berbahan plastik di seputaran Kalsel itu, ditemukan cukup banyak mainan tak berlabel SNI. Padahal, pemberlakuan SNI terhadap mainan Anak berlaku sejak 1 Mei 2014. Para pelaku usaha dan distributor wajib menerapkan SNI mainan.

Baca: Gol Kalajengking Olivier Giroud Raih Puskas Award di FIFA Football Award 2017

Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian telah menerbitkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 55/M-IND/PER/11/2013/ yang merupakan perubahan dari Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 24/M-Ind/PER/4/2013 tentang Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) Mainan Secara Wajib.

Sementara itu dari penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) terhadap 21 sampel mainan lokal dan impor, ditemukan hampir seluruh mainan mengandung unsur zat kimia Timbal (Pb), Merkuri (Hg), Krom (Cr), dan Kadmium (Cd).

Dalam pemeriksaan di Toko Panca Baru Toys dan Davis Toys, petugas menemukan begitu banyak produk mainan anak, baik dari bahan plastik maupun elektronik tak diberlabel SNI dan berbahasa Indonesia.

Baca: Media Sport Ternama Dunia Sebut Liga Indonesia Kompetisi Paling Seru Tahun Ini di Asia

Sempat terjadi adu argumen antara pemilik toko, Sujanto dan rombongan pemeriksa khususnya dari YLK Banjarmasin. Pemilik toko menolak ketika petugas Disperindag Kalsel ingin membawa semua barang yang tidak berlabel SNI atau cara penggunaan dan penjelasan mainan tak berbahasa Indonesia.

Sujanto mengaku dirinya hanya sebagai korban karena dia juga pembeli. Seharusnya, sebut dia, pihak produsen mainan yang memerhatikan soal label SNI, bukan pihaknya.

“Toko hanya beli dari distributor, jual dan mengambil keuntungan. Kalau harus label dan SNI, itu bukan tugas kami,” dalih lelaki itu.

Baca Lebih Lengkap di Harian Banjarmasin Post Edisi Cetak Selasa (24/10/2017)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help