Pilpres 2019

Dugaan Adanya HTI dan ISIS di Balik Gerakan #2019GantiPresiden Diungkap Pengamat Intelijen

Dibalik gerakan #2019GantiPresiden diduga ada peran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan kelompok ISIS.

Dugaan Adanya HTI dan ISIS di Balik Gerakan #2019GantiPresiden Diungkap Pengamat Intelijen
SURYA/HAYU YUDHA PRABOWO
Ribuan massa aksi dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Malang membawa poster dan bendera dalam aksi damai 212 saat longmarch di Jalan Basuki Rachmat, Kota Malang, Jumat (2/12/2016). Massa aksi menuntut pemerintah dan Polri menahan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam kasus dugaan penistaan agama. SURYA/HAYU YUDHA PRABOWO 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Dibalik gerakan #2019GantiPresiden diduga ada peran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan kelompok ISIS.

Pengamat Intelijen dan Keamanan UIN Syarif Hidayatullah, Robi Sugara menduga, HTI hanya memanfaatkan gerakan ini untuk tujuan kekacauan di negeri ini.

Menurutnya, ada dua keuntungan bagi HTI ketika memanfaatkan gerakan ini.

Baca: Jawaban HTI Setelah Disebut Jadi Dalang #2019GantiPresiden: Fitnah Banget Itu!

"Pertama, jika terjadi benturan antara dua kelompok yang kemudian terjadi konflik berdarah, HTI akan mengkonsolidasikan kader-kadernya untuk melakukan pergerakan pergantian sistem pemerintahan di Indonesia," ucapnya melalui keterangan tertulis yang didapat Tribunnews.com, Jumat (7/9/2018).

"Kedua, adalah ketika gerakan ini berhasil menggulingkan Jokowi, maka kampanye selanjutnya akan mengatakan bahwa presiden berganti tidak akan ada perubahan selagi sistemnya tidak digantikan dengan khilafah," tambahnya.

Direktur Indonesian Muslim Crisis Center itu turut menjelaskan gerakan HTI.

Baca: Inikah Jawaban Ahok Terkait Kabar Rencana Pernikahannya dengan Polwan Bripda PND Januari 2019

Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) adalah gerakan transnasional yang sudah dilarang di semua negara-negara Muslim di dunia kecuali di negara liberal seperti Inggris.

"Bersyukur sebelum terjadi perang saudara di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), pemerintah Indonesia sudah membubarkannya. Organisasi ini dilarang karena akan memunculkan konflik horizontal sesama anak bangsa Indonesia yang beragama suku, bahasa, agama, dan budaya," tuturnya.

Kelompok ini memanfaatkan kata Khilafah sebagai tameng gerakannya.

Dalam taktik yang sering digunakan kelompok esktermisme adalah taktik ini dinamakan religious shield (agama sebagai tameng) di mana, ketika orang Islam kontra terhadap gagasannya menegakkan khilafah disebut sebagai anti-Islam.

Baca: Respons Shinta Nuriyah Wahid Ketika Jokowi Minta Restu Jadi Capres di Pilpres 2019

Halaman
12
Editor: Rendy Nicko
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved