Berita HSU

NEWSVIDEO : Pulang Kampung, Ini Penuturan Warga HSU yang Menjadi Korban Gempa Di Palu

Awalnya mengira hanya gempa ringan karena selama tinggal disana juga ada terjadi gempa namun tidak terlalu besar.

BANJARMASINPOST.CO.ID, AMUNTAI - Mahdalena tak sanggup menahan haru saat tiba di kampung halaman di Desa Muara Tapus Kecamatan Amuntai Tengah Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU). Mahdalena beserta keluarga memang sudah lama merantau ke Provinsi Sulawesi Tengah sejak dipersunting oleh suami yang merupakan warga Desa Kampung Baru Kecamatan Palu Barat.

Sejak tahun 1996 dirinya memang sudah pindah dan tinggal di Sulteng, namun Kabupaten HSU masih menjadi kampung halamannya setiap libur hari besar. Mahdalena dijemput oleh Relawan HSU dari pelabuhan Balikpapan.

Mahdalena bersama Suami Muhammad Reza serta tiga orang anaknya Muhammad Baihaki, Mona Yurrida dan Fara menjadi salah satu korban gempa Palu.

Bencana alam tersebut membuat trauma dan menyisakan duka mendalam bagi diri pribadi Mahdalena. Dirinya menceritakan saat terjadinya gempa sedang bersiap untuk melaksanakan ibadah salat magrib.

Baca: Hasil Persib Bandung vs Madura United Liga 1 2018 : Skor Babak Pertama 0-1, Gol Penalti!

Awalnya mengira hanya gempa ringan karena selama tinggal disana juga ada terjadi gempa namun tidak terlalu besar. Namun kali ini gempa terasa sangat kuat bahkan ingin berdiri pun kesulitan.

"Beberapa kali berusaha berdiri namun tidak bisa, anak saya hampir saja kejatuhan lemari namun untungnya meleset. Biasanya saat gempa getaran kesamping tapi ini naik turun," ujarnya.

Saat kondisi sudah mulai tenang Mahdalena mencari ketiga anaknya dan keluar dari rumah, sebagian rumah miliknya roboh dan bagian depan banyak yang retak. Mahdalena membawa ke depan rumah dan berdiam di jalan, tidak berani juga meninggalkan rumah karena khawatir barang barang berharga banyak di rumah.

Setelah itu tinggal di pengungsian, kondisi di pengungsian di pusat kota Palu memang tersedia makanan. Namun untuk di wilayah yang sangat parah sulit dijangkau sempat kekurangan makanan.

"Sempat tidur di jalan sebelum adanya penampungan pengungsian, saat itu auami saya langsung terkena stroke ringan dibagian mulut dan saat ini sulit untuk berbicara," ujarnya.

Hingga pemerintah daerah membawa keluar pengungsi dari Palu menggunakan kapal menuju Balikpapan. Dan anggota Relawan HSU mengakomodasi perjalanan korban Palu menuju Amuntai.

Selama tinggal di Palu Mahdalena beserta suami bekerja sebagai penjahit. Anaknya Fara berusia lima tahun dan belum sekolah, sedangkan Muhammad Baihaki duduk kelas 2 SMP dan Mona Wahyurida sudah kuliah semester 7 jurusan Perbankan syariah.

Baca: Timnas U-19 Indonesia Vs Arab Saudi Piala Asia U-19 2018- Indra Sjafri Waspadai Postur Pemain

Ustadz Yusuf salahsatu relawan HSU mengatakan pihaknya membantu warga Kalimantan Selatan yang berada di Pelabuhan Balikpapan. "Dan kami masih terus melakukan koordinasi jika memang ada pengungsi lain yang membutuhkan bantuan," ujar Ustadz Yusuf yang juga anggota Front Pembela Islam (FPI) HSU ini.

Total ada 11 orang korban gempa Palu yang dijemput Relawan HSU lima warga Kabupaten HSU, Lima orang dari Hulu Sungai Selatan (HSS) yaitu Mulyadi, Saptahadi, Samsuri, Rahmat, M Rasidi. Dan satu orang dari Kabupaten Tabalong atas nama Abdurrahim.

Warga Kabupaten HSS diantar langsung oleh Palang Merah Indonesia (PMI) HSU. Seluruh warga HSS ini juga bekerja sebagai penjahit di Sulteng. (banjarmasinpost.co.id / Reni Kurniawati)

Penulis: Reni Kurnia Wati
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved