Berita Nasional

Amerika Disebut Marah Besar Karena Indonesia Kuasai Mayoritas Saham Freeport, Ini Penjelasannya

Amerika Disebut Marah Besar Karena Indonesia Kuasai Mayoritas Saham Freeport, Ini Penjelasannya

Amerika Disebut Marah Besar Karena Indonesia Kuasai Mayoritas Saham Freeport, Ini Penjelasannya
kompas.com
Areal tambang terbuka PT Freeport Indonesia di Grasberg, Timika, Papua, Kamis (24/11/2011). 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Beralihnya sebagian saham Freeport ke Indonesia bukan tanpa reaksi dari pemerintah Amerika Serikat (AS). Amerika disebut marah besar terkait langkah yang ditempuh Presiden Joko Widodo ini.

Guru Besar Fakultan Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia Rhenald Kasali menganggap pengambil alih sebagian besar saham PT Freeport Indonesia merupakan langkah berani yang diambil Presiden Jokowi.

Dia mengatakan, banyak pihak mengatakan bahwa Freeport memang sudah saatnya beralih ke tangan Indonesia karena kontraknya akan habis 2021. Namun, ia menilai pemimpin sebelumnya tak ada yang secara tegas bersikap untuk merebut Freeport untuk dikuasai Indonesia.

"Ide itu murah karena tak berisiko apa-apa, tetapi implementasi itu mahal karena yang menjalankan akan babak belur," ujar Rhenald dalam keterangan tertulis, Sabtu (22/12/2018).

Baca: Curhat Markus Horison Soal Tudingan Ikut Terlibat Dalam Pengaturan Skor di Piala AFF 2010

Baca: Respons Jacksen F Tiago Ketika Barito Putera Jadi Tim Paling Fairplay di Tengah Isu Pengaturan Skor

Rhenald mengatakan, pihak yang berada di luar lingkaran pengambil kebijakan akan menilai merebut Freeport merupakan hal yang mudah. Namun, risiko yang diterima tak hanya dari dalam, tapi juga tekanan dari luar.

Nyatanya, kata Rhenald, begitu Jokowi mulai mengeksekusi rencana mengambil sebagian besar saham PTFI, pusat pemerintahan terus digoyang.

"Amerika marah besar bahkan sempat kirim pasukan yang merapat di Australia. Namanya juga negara adikuasa. Pakai psy war adalah hal biasa dalam mengawal kepentingannya," kata Rhenald.

Belum lagi gejolak di Papua di mana kelompok bersenjata menembaki warga sipil di sekitar area tambang Freeport. Hal tersebut mulai terjadi setelah negosiasi pindah tangan saham mencapai kesepakatan.

"Maka jangan heran pemimpin-pemimpin yang dulu selalu memundurkan action karena kurang berani atau mereka kurang pandai bertempur, kurang gigih," kata Rhenald.

Baca: Cuitan Jerinx SID Sebelum Diblokir Susi Pudjiastuti, Sebut Investor dan Jokowi di Pilpres 2019

"Mereka selalu geser ke belakang begitu saatnya tiba di tangan leadership mereka," lanjut dia.

Halaman
12
Editor: Rendy Nicko
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved