Serambi Ummah
Bacaan Doa Istighfar Rajab, Amalan Bulan Rajab yang Jatuh Esok Jumat (8/3) Selain Puasa Rajab
Bacaan Doa Istighfar Rajab, Amalan Bulan Rajab yang Jatuh Esok Jumat (8/3) Selain Puasa Rajab
BANJARMASINPOST.CO.ID - Bulan Rajab 2019, 1 Rajab1440 H jatuh pada Jumat (8/3/2019) esok. Banyak amalan yang bisa dilakukan selain puasa Rajab.
Rajab termasuk bulan Haram, dimana dianjurkan banyak beristigfar sehingga para ulama menyusun untaian istigfar yang disebut Istigfar Rajab.
Membaca istighfar memang salah satu amalan bulan Rajab, di antara banyak amalan lainnya.
Baca: Jadwal dan Niat Puasa Rajab Esok Jumat (8/3) Serta Amalan dan Doa Pada Bulan Rajab 2019
Baca: Perlakuan Reino Barack Pada Ibunda Syahrini Diungkap Orang Terdekat Mantan Luna Maya
Baca: Istri SBY, Ani Yudhoyono Dapat Donor Sumsum Tulang Belakang Dari Pramono Edie Wibowo, Ini Sosoknya
Baca: Lamborghini Raffi Ahmad Ternyata Jadi Sarang Tikus dan Semut, Nagita Slavina Rafathar Bongkar Ini
Allah SWT berfirman :
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ
Artinya :
Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (QS. At-Taubah : 36)
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalsel, KH Husin Naparin menjelaskan Sehubungan dengan ini, diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal RA dikenal sebagai Imam Hanbali murid Imam Syafi’i, entah kenapa, suatu ketika dia ingin sekali berkunjung ke Kota Basrah di Irak, padahal tidak ada janji dengan seseorang dan juga tidak ada keperluan.
Beliau berangkat sendiri menuju Kota Basrah. Setibanya di sana waktu Isya, beliau pun ikut salat berjemaah Isya di masjid, sehingga hatinya merasa tenang. Usai salat dan jemaah bubar, Imam Ahmad ingin tidur di masjid.

Tiba-tiba penjaga masjid datang menemuinya sambil bertanya: “Kenapa kamu di sini, syekh?” (kata “syekh” boleh digunakan sebagai panggilan untuk orang tua, atau orang kaya, ataupun orang berilmu).
Dalam kisah ini panggilan sebagai orang tua, karena penjaga masjid itu tidak tahu kalau lelaki tua itu adalah Imam Ahmad. Imam Ahmad pun tidak memperkenalkan dirinya. Di Irak, semua orang kenal siapa Imam Ahmad, seorang ulama besar dan ahli hadis, sejuta hadis dihafalnya, sangat saleh dan zuhud. Zaman itu tidak ada kamera gambar sehingga orang tidak tahu wajahnya, kendati namanya sudah terkenal.
Imam Ahmad menjawab, “Saya ingin istirahat, saya musafir.” Kata penjaga itu, “Tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid.” Imam Ahmad diusir oleh orang itu, disuruh keluar dari masjid. Setelah keluar masjid, pintu masjid dikuncinya.
Lalu Imam Ahmad ingin tidur di pelataran masjid. Ketika sudah berbaring di pelataran masjid, penjaganya datang lagi, memarahinya. “Kamu mau apa lagi syekh?” kata penjaga itu. Imam Ahmad menjawab, “Saya mau tidur, saya musafir.” Lalu penjaga masjid berkata, “Juga tidak boleh.” Imam Ahmad diusir sampai ke jalanan.
Di samping masjid, ternyata ada penjual roti dengan kios kecilnya, tempat membuat dan menjual roti. Penjual roti ini sedang membuat adonan, sambil melihat kejadian lmam Ahmad diusir oleh penjaga masjid tadi. Ketika Imam Ahmad sampai di jalanan, penjual roti itu memanggil dari jauh, “Mari syekh, Anda boleh menginap di tempat saya, saya punya tempat, meskipun kecil.” Kata Imam Ahmad, “Baik.”
Imam Ahmad masuk ke rumahnya, duduk di belakang penjual roti yang sedang membuat roti tanpa memperkenalkan siapa dirinya, hanya bilang sebagai musafir. Penjual roti ini mempunyai perilaku yang baik dan memuliakan tamu.