Termasuk Budaya Latah
Budaya latah sebenarnya bukan suatu budaya yang baik sebab seseorang meniru bulat-bulat apa yang ingin ditirunya tanpa menghiraukan apakah yang ditirunya itu sesuatu yang baik atau buruk.
Oleh: Aunor Rafiki Zaki
Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat
Budaya latah sebenarnya bukan suatu budaya yang baik sebab seseorang meniru bulat-bulat apa yang ingin ditirunya tanpa menghiraukan apakah yang ditirunya itu sesuatu yang baik atau buruk.
Salah satu budaya yang tidak baik tersebut adalah budaya valentine. Sebagai ajang untuk mengumbar cinta, pada hari tersebut biasanya muda-mudi akan saling memberi coklat atau memberi hadiah kepada kekasihnya.
Apakah hanya itu? Sayangnya tidak. Pada hari itu juga banyak muda-mudi yang melakukan seks bebas dan hal-hal maksiat lainnya atas nama cinta. Sungguh sedih bila menyadari bahwa ini lah salah satu potret nyata dari keterpurukan suatu bangsa.
Apabila ditelusuri lebih jauh kenapa para remaja tetap kekeh meniru budaya tersebut meskipun mereka tahu bahwa budaya tersebut tidak baik, tidak lain karena persepsi mereka tentang sesuatu yang dianggap keren, tren dan gaul.
Bagi para remaja tersebut tidak peduli seberapa buruk dampak yang akan dihasilkan budaya tersebut asalkan dia yang mengamalkan budaya tersebut dianggap keren maka budaya tersebut akan diserapnya.
Di sinilah sebenarnya efek nyata dari sekularisme yang menciptakan situasi dimana budaya terus-menerus berkembang namun tanpa kontrol agama yang mengakibatkan lambat laun agama akan dianggap kuno dan ketinggalan zaman.
Dan pada gilirannya kebudayaan tanpa kontrol agama suatu saat akan menyebabkan mundurnya suatu peradaban.(*)