Hak Pemandu Lagu Kerap Diabaikan

Biaya Ditemani Ladies Rp 340 Juta

Perputaran uang yang dihasilkan dari keberadaan pemandu lagu (PL atau ladies)

Editor: Edi Nugroho

BANJARMASIN[POST.CO.ID, BANJARMASIN- Perputaran uang yang dihasilkan dari keberadaan pemandu lagu (PL atau ladies) di Banjarmasin, sangat besar. Sedikitnya Rp 340 juta semalam. Tragisnya, mereka hanya  menerima sebagian kecil dari hasil jerih payahnya itu.  

Itu hanya dari lamanya waktu para ladies menemani tamu yang mengisi malam dengan mengunjungi empat tempat hiburan malam (THM) di Kota Seribu Sungai ini. Belum lagi dari sewa ruang, minuman, makanan ringan dan tentu saja tip (komisi).  

Berdasar penelusuran BPost, setidaknya ada 680 ladies di empat THM yang menyediakan sarana karaoke. Karaoke NASA sebanyak 400 orang, Karaoke Grand 100-an orang, Karaoke Dynasty Barito 80 orang dan Karaoke HBI sekitar 100 orang. Di Banjarmasin, masih ada beberapa tempat lain yang menjadi sarana berkaraoke.

Persaingan ketat menjadikan tarif untuk ditemani ladies hampir sama. Rata-rata, setiap satu jam dikenai Rp 50 ribu. Minimal booking selama lima jam. Tetapi, informasi yang dihimpun koran ini menyebutkan, pengunjung biasanya minta ditemani selama 10 jam.

Mereka pun rela tetap membayar Rp 500 ribu (Rp 50 ribu x 10 jam), meskipun seringkali sudah selesai sebelum waktunya.

Kalau dikalkulasi untuk tiap malam apabila semua ladies dapat bookingan, uang yang berputar dari jasa menemani pengunjung adalah 680 orang x Rp 50.000 x 10 jam, yakni Rp 340.000.000. Untuk sebulan, ada 26 hari (empat hari libur) maka didapat angka Rp 88.400.000.000. Angka yang cukup fantastis.

Namun upah menemani itu tidak sepenuhnya untuk ladies. Biasanya dibagi dua dengan pengelola atau pemilik tempat karaoke. Perbandingan ada yang 50:50, ada juga 60:40 (pengelola mendapat lebih banyak).

Upah bagi ladies kian berkurang untuk membayar mes, sedikitnya Rp 500 ribu per bulan. Sementara bagi yang tinggal di luar mes, wajib membayar uang sewa kamar atau kontrak kamar. Selain itu, tiap dua bulan sekali, mereka juga harus menyetor sedikitnya Rp 200 ribu untuk biaya suntik netralisasi darah.Beban makin besar jika ada di antara mereka yang sakit.  

Bahkan, menurut pengakuan banyak ladies, mereka harus juga mengangsur utang kepada pengelola. Pasalnya, saat di awal-awal kerja, tidak sedikit yang meminjam uang untuk biaya transportasi dan biaya hidup.

“Belum tentu tiap malam ada tamu. Kalaupun ada, hanya booking minimal dan pelit memberi tip. Sementara biaya hidup dan memberi keluarga, makin besar. Ada juga ‘mami’ (mucikari) atau asisten ‘mami’ yang nakal. Upah sering tidak sesuai jam booking,” kata seorang ladies, Mela (bukan nama sebenarnya), kemarin.

Bagi Mela dan teman-temannya, paceklik pendapatan terjadi setiap Ramadan. Mereka tidak bisa bekerja karena THM tutup selama sebulan. Banyak di antara mereka yang pulang kampung. Namun, tidak sedikit yang mengaku bingung dengan melonjaknya harga tiket pesawat.

“Yang ramai mendapat booking-an, tidak masalah. Tetapi bagi yang sepi, biaya tiket pesawat cukup memberatkan. Belum lagi membeli oleh-oleh untuk keluarga dan biaya hidup selama libur,” ucap dia.

Ganti Rugi

Derita lain para ladies, dikemukakan Titi (nama samaran). Dia mengungkapkan apabila tidak masuk kerja lebih dari dua hari karena sakit tetapi tidak memiliki surat keterangan dokter, harus membayar ganti rugi. Nilainya dihitung booking selama selama 10 jam, yakni Rp 500 ribu.

“Kalau periksa ke dokter kan juga harus mengeluarkan uang. Kami bekerja tidak kenal waktu, sehingga sering cape dan sakit tetapi tidak ada jaminan kesehatan seperti pekerja lain,” ujar dia.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved