Karen Ngotot Naikkan Harga Elpiji
Tahun 2014 kurang 26 hari lagi. Bisa jadi, ada ‘kado pahit’ dari Pertamina di awal tahun baru itu untuk masyarakat.
BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Tahun 2014 kurang 26 hari lagi. Bisa jadi, ada ‘kado pahit’ dari Pertamina di awal tahun baru itu untuk masyarakat. Yakni, naiknya harga elpiji 12 kilogram.
Adalah Direktur Utama PT Pertamina Karen Agustiawan yang mengungkapkan rencana itu. “Doain saja ya, 1 Januari (harganya) naik,” kata dia di Jakarta, kemarin.
Meski mengisyaratkan kenaikan itu, Karen belum mengetahui besaran kenaikannya. Alasannya Pertamina masih melakukan evaluasi. “Harus kami evaluasi, setengah harga keekonomian atau full harga keekonomian. Juga akan dirapatkan dulu dengan pemerintah,” ujarnya.
Bagaimana jika penggunanya berpindah menggunakan elpiji 3 kilogram? “Kalau mampu beli 12 kilogram, tolong jangan beli 3 kilogram. Di sini, yang bicara hati nurani. Juga soal adanya distributor yang suka menghilangkan pasokan jika dibutuhkan. Kami dan BPH Migas sudah terus memberantas para penyelundup tersebut. Tinggal kesadarannya, capek kami,” kata Karen.
Saat ini, harga eceran elpiji 12 kilogram di Banjarmasin mencapai Rp 100 ribu hingga Rp 115 ribu. Rata-rata pengguna elpiji ukuran itu adalah pemilik usaha seperti warung dan rumah makan, meski ada juga ‘rumah tangga’.
Sementara harga eceran untuk elpiji 3 kilogram, berbeda-beda. Antara Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu. Bahkan, hingga kini, elpiji ukuran kecil itu masih agak sulit didapatkan. Bahkan, beberapa waktu lalu sempat dilakukan operasi pasar.
Rencana menaikkan harga elpiji 12 kilogram –tidak mendapat subsidi dari pemerintah– itu cukup mengejutkan. Pasalnya, hingga kini pemerintah menilai masih terjadinya situasi makro yang kurang stabil di dalam negeri. Dikhawatirkan, kenaikan harga elpiji makin membebani masyarakat, di tengah kenaikan harga sejumlah bahan kebutuhan pangan dan bahan bakar minyak (BBM).
Namun, Pertamina ngotot ingin menaikkan harganya. Mereka beralasan setiap tahun nilai kerugian dari penjualan elpiji nonsubsidi terus bertambah. Direktur Pemasaran dan Niaga Hanung Budya mengatakan, setiap tahun Pertamina mengalami kerugian dari penjualan elpiji 12 kilogram sebesar Rp 5 triliun, sejak empat tahun lalu.
Berdasar data Pertamina, harga jual elpiji 12 kilogram saat ini sekitar Rp 5.750 per kilogram. Sementara harga keekonomiannya fluktuatif berkisar Rp 11 ribu per kilogram.
“Beban korporasi sangat berat. Secara akumulasi kami telah merugi Rp 20 triliun,” tegas dia.
Menurut dia, Pertamina berharap pemerintah bisa memahami rencana menaikkan harga karena besarnya beban operasional dari subsidi harga elpiji 12 kilogram. Di sisi lain, Pertamina ingin memiliki modal besar agar bisa berekspansi, apalagi harus bersaing dengan perusahaan minyak asing.
“Kemampuan kami berkurang, maka sebaiknya beban elpiji ini jangan ditunda-tunda lagi. Soalnya sebagian investasi kami juga tertunda hanya gara-gara beban operasional yang tinggi,” katanya.
Rencananya, kenaikan harga diberlakukan pada Juli 2013 kemarin. Tetapi ditundapemerintah karena bisa menambah risiko inflasi yang saat itu membengkak hingga 3,29 persen sebegai dampak kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi pada 22 Juni 2013.
Sebelumnya, Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan pemerintah bisa memahami alasan rencana penaikan itu. Pemerintah mengerti beban yang ditanggung Pertamina dari penjualan elpiji 12 kilogram, cukup besar.
“Dari sisi korporat, bisa dipahami karena bebannya besar. Tetapi untuk (dampak) ekonomi, harus dibicarakan dulu. Bagaimana kondisinya, inflasinya,” ujarnya.