Injury Time: Brasil-Indonesia
SECARA umum injury time tidak bisa dipisahkan dengan olahraga, khususnya sepak bola. Injury time
SECARA umum injury time tidak bisa dipisahkan dengan olahraga, khususnya sepak bola. Injury time dalam dunia sepak bola adalah menit-menit terakhir sebelum wasit meniup peluit tanda pertandingan 2 x 45 menit berakhir, atau perpanjangan waktu 2 x 15 menit usai.
Dalam sepak bola kemenangan di masa injury time akan membuat pemain di tim tersebut akan girang bukan kepalang. Begitu pun bagi seluruh pendukung tim tersebut, pastinya akan merasa plong bisa memenangkan pertandingan.
Tapi sebaliknya, bagi tim yang kalah di saat jarum jam menunjukkan menit injury time, maka kesedihan, kepedihan bahkan sakit hati yang menyesakkan dada sudah barang tentu akan dirasakan seluruh skuat dan pendukung tim tersebut.
Injury time semakin kencang terdengar saat ini. Bagaimana tidak, menjelang tengah malam hingga subuh, ketika menunggui waktu sahur, kita ditemani oleh pertandingan babak perdelapan final Piala Dunia 2014 yang cukup membuat kita sport jantung.
Ada kekhasan di babak 16 besar kali ini. Hampir mayoritas pertandingan harus diselesaikan di menit-menit akhir pertandingan. Lima tim yang melenggang ke perempatfinal lolos lewat gol di masa-masa injury time.
Gol kemenangan Belanda, Jerman, Belgia dan Argentina dicetak di waktu injury time, baik itu di waktu normal 90 menit ataupun di perpanjangan waktu. Tengok Belanda dan Argentina yang susah payah memenangi laga lewat gol penentu di menit 89. Jerman dan Belgia pun harus menang lewat gol di masa perpanjangan waktu.
Dua tim lainnya harus menyelesaikan laga lewat adu penalti yaitu Brasil dan Kosta Rika. Hanya Kolombia dan Prancis yang melenggang mulus, setelah masing-masing menekuk Uruguay dan Nigeria dalam waktu 90 menit.
Bicara injury time adalah bicara mental bertanding. Tim yang memiliki mental bertanding bagus, kemungkinan besar bisa memenangi laga di menit-menit akhir.
Sebaliknya bagi tim bermental memble, maka injury time menjadi waktu paling mengerikan untuk dilewati. Tim bermental memble kerap mengalami unfocus, miskomunikasi dan rasa takut berlebih serta stres. Alhasil emosi tak bisa dikendalikan. Tekanan yang diterima akan berbuat kesalahan yang berujung kekalahan.
Indonesia pun akan bersiap-siap menghadapi yang namanya injury time. Tapi bukan dalam dunia sepak bola melainkan dalam dunia politik. Injury time yang dimaksud yaitu detik-detik menjelang pemungutan suara Pilpres. Injury time pilpres bisa menentukan siapa yang akan memenangi pertarungan ini.
Kenapa? Karena berdasarkan hasil survei terbaru dari berbagai lembaga, angka swing voters atau jumlah pemilih mengambang yang belum menentukan pilihannya (masih netral/abu-abu) masih cukup besar. Masih di atas 25 persen. Mereka baru akan menentukan pilihannya di detik-detik terakhir jelang pemungutan suara 9 Juli nanti.
Menilik persentase elektabilitas kedua pasangan capres-cawapres yang sangat ketat, di mana margin keduanya tidak lebih dari 5 persen. Sudah tentu siapa pun pasangan capres-cawapres yang mampu mengambil hati swing voters di masa injury time tersebut, diyakini akan memenangi pertandingan pilpres.
Bagi kubu capres yang kalah diharapkan bisa menerima kekalahannya secara arif dan bijaksana sesuai dengan jargon yang selalu mereka gadang-gadang yaitu kampanye santun dan revolusi mental.
Pasangan nomor 1 diharapkan bisa lebih santun menyikapi kemenangan dan kekalahan capres lain. Sementara itu dengan jargon revolusi mental, para pendukung pasangan nomor 2 diharapkan bisa legowo saat kalah dan harus santun saat menang. (*)