Ikan Sungai Termahal Ini Ternyata Paling Ditakuti Australia
Ikan air tawar ini bisa bergerak di darat dan berpindah-pindah tempat, sehingga jika tidak dikendalikan akan menyebar dengan mudah ke daratan Australi
Penulis: Umi Sriwahyuni | Editor: Elpianur Achmad
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Menyebut nama saja, sudah membuat kalangan pecinta kuliner khas Banjar menjadi kemecer alias memancing selera.
Ya, ikan papuyu jenis ikan sungai yang menjadi ikon teratas di jajaran kuliner khas Banjar yang disajikan dengan andalan papuyu bakar.
Tetapi tahukan anda, ikan yang disebut Ikan betik (jawa), betok (sunda) dan papuyu (banjar), yang rasanya sangat gurih dan dapat diolah menjadi berbagai hidangan instimewa ini, ternyata paling ditakuti Australia.
Di Kalimantan Selatan (Kalsel), ikan ini dibudidayakan secara luas. Tapi di Australia ikan ini malah dianggap ikan berbahaya yang menakutkan.
Seperti dikutip dari medan satu.com Para ahli biologi dan pengawas lingkungan hidup Australia menyatakan, ikan betik yang bisa bertahan hidup dan mampu berjalan di darat dikhawatirkan akan mengganggu keseimbangan lingkungan.
Ikan ini sampai di Australia melalu Papua Nugini. Saat ini di sejumlah pulau Australia yang dekat dengan Papua Nugini, ikan ini telah berkembang biak.
Ikan air tawar ini bisa bergerak di darat dan berpindah-pindah tempat, sehingga jika tidak dikendalikan akan menyebar dengan mudah ke daratan Australia.
Saat ini jenis Perca dan keluarga Percidae ini telah mendominasi wilayah air tawar, mengalahkan jenis-jenis ikan lainnya di sejumlah pulau Selat Torres.
Meski habitat aslinya di air tawar, namun ikan ini mampu hidup di air asin dan bisa menyeberang ke daratan Australia.
Peneliti perikanan asal James Cook University, Dr Nathan Waltham, kepada ABC menjelaskan, ikan ini agresif dan bisa menyebabkan kematian jika dimakan burung-burung liar.
“Burung yang memakan ikan ini akan tersedak karena ikan ini akan mengembangkan sirip di punggungnya ,sehingga akan tersangkut di tenggerokan burung sehingga menyebabkan kematian,” jelasnya, Selasa (2/6/2015) lalu.
Peneliti lainnya, Dr Waltham mengatakan, jika ikan ini tidak dikendalikan, suatu saat daratan benua Australia akan dipenuhi ikan ini.
“Ikan ini masih berada di Pulau Boigu dan Saibai di Selat Torres, yang memang dekat dengan Papua,” katanya.
Sementara Dr Damien Burrows menjelaskan, ikan ini bisa saja masuk ke daratan Australia melalui perahu-perahu nelayan.
Sosialisasi pun dilakukan kepada nelayan setempat mengenai keberadaan ikan ini dan bagaimana cara menangani pemusnahannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/ikan-papuyu_20151108_173843.jpg)