Kejutan Sesaat
BANYAK orang akan sepakat jika ada yang mengatakan, bahwa tahun ini memberi harapan besar terhadap ketenteraman dan kedamaian.
BANYAK orang akan sepakat jika ada yang mengatakan, bahwa tahun ini memberi harapan besar terhadap ketenteraman dan kedamaian. Pesta politik pemilihan kepala daerah serentak, sejauh ini dilalui tanpa ketegangan berarti. Tanpa kerusuhan.
Ada harapan baru yang tumbuh dan makin berkembang, bahwa hari-hari berikut akan lebih baik. Kehidupan akan makin tenteram dan damai sehingga warga akan lebih tenang lagi menjalani kehidupannya, menjalankan aktivitasnya dengan kegairahan baru ke arah yang lebih maju.
Tiba-tiba saja harapan indah itu tercerai-berai oleh ledakan bom dan penembakan membabi buta terhadap para polisi, di tengah keramaian kota Jakarta. Horor mencekam di tengah hari, dan dengan cepat menjalar ke seantero negeri, ke berbagai penjuru dunia, berkat amplifikasi media.
Insiden ini seolah kian meneguhkan anggapan sejumlah pihak (asing) selama ini, bahwa Indonesia adalah sarang yang nyaman bagi kaum radikalis yang ingin memaksakan kehendak agar paham yang mereka yakini, diikuti segenap warga tanpa kecuali. Orang yang meyakini teori persekongkolan, mungkin saja menganggap insiden itu adalah satu mata rantai dari persekutuan jahat tingkat global yang menjadikan Indonesia sebagai sasaran.
Di lain pihak, orang juga makin yakin bahwa ternyata ada saja orang Indonesia yang rela mati bunuh diri sambil membunuh siapa saja dan sebanyak apa pun demi sesuatu yang diyakininya.
Yang jelas, korban telah jatuh. Kita sadar, ternyata selama ini bertetangga dan bahkan berada di dalam kancah ‘republik teror’. Sebab, teror tetap terjadi meski orang-orang yang disebut sebagai pelaku peledakan sudah ditangkapi dan dihukum. Beberapa di antaranya dihukum mati.
Apalagi seperti luas diketahui, sejak insiden Bom Bali, aparat keamanan menjadi sedemikian siaga dan ekstra sensitif. Kini pengunjung mal, pusat perbelanjaan, dan hotel-hotel, sudah tak merasa terganggu lagi oleh pemeriksaan rinci sejak mereka memasuki areal parkir. Tapi, teror toh tetap terjadi.
Teror dalam bentuk lain pun tetap marak. Kalau tidak di jalan raya, ya di pasar-pasar, di pelabuhan, di terminal, di hutan dan di tambang liar. Teror bisa muncul dari penjahat, bisa juga dari pejabat. Bagaimana –misalnya– mereka saling serang dan saling menjatuhkan. Tindakan mereka kadang meneror dan melecehkan akal sehat rakyat yang mereka pimpin dan mereka wakili.
Pemimpin, politisi dan pejabat tampaknya telah gagal menyelenggarakan komunikasi politik, baik di antara mereka sendiri maupun antara mereka dengan rakyatnya. Justru yang terjadi adalah, cara berkomunikasi mereka membuat rakyat terteror.
Setelah dilibatkan untuk berpartisipasi penuh dalam pesta politik, rakyat masih diberi pekerjaan rumah yakni menata kembali perasaan dan kesabaran serta kebesaran hati untuk menghadapi sendiri kenyataan hidupnya. Termasuk menghadapi teror dalam aneka bentuk dan wajahnya.
Insiden di 14 Januari 2016 yang meledakkan heboh, sesaat kemudian seakan dilupakan. Semua orang kembali ke dalam rutinitasnya seolah tak terjadi apa-apa. Mudah-mudahan ini bukan berarti bangsa kita tidak sensitif. (*)