Daun Tanaman Liar Asal Barabai ini Jadi Bahan Obat di Amerika, Ini Khasiatnya
Ardian (40) merupakan satu pebisnis daun bertulang warna merah dan putih tersebut. Sudah satu tahun dia menjadi pemasok pengepul dari Buntok, Kalteng.
Penulis: Hanani | Editor: Elpianur Achmad
BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Usia boleh sudah uzur. Namun perempuan 60 tahun itu begitu bersemangat menghaluskan daun kayu sapat kering di atas ayakan (penyaringan) berukuran sekitar 2x1 meter yang berbahan kain kasa.
Tangan kanannya masih kuat dan cekatan meremas daun kering, tak kalah dibanding beberapa warga yang lebih muda.
Andar adalah satu di antara sejumlah pekerja di rumah usaha daun kayu sapat milik Ardian, warga Desa Banua Hanyar Kecamatan Pandawan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah.
Sudah hampir setahun dia dan enam warga lainnya menjadi pekerja menghaluskan daun kayu sapat yang sudah dikeringkan.

banjarmasinpsot.co.id/hanani
Warga Desa Banua Hanyar, Kecamatan Pandawan, Hulu Sungai Tengahm menjemur daun kayu sepat, Senin (18/1/2016).
Daun kayu sapat (sepet) yang berasal dari pohon liar di sawah itu menjadi populer sejak 2015 lalu.
Ardian (40) merupakan satu pebisnis daun bertulang warna merah dan putih tersebut. Sudah satu tahun dia menjadi pemasok untuk pengepul dari Buntok, Kalteng.
Ardian membeli ratusan kilogram daun pada masyarakat. Bila daun belum dijemur, dia membelinya Rp 3.000 per kilogram. Sedangkan untuk daun yang telah kering dan dihaluskan, harganya Rp 13.000 per kilogram.

banjarmasinpsot.co.id/hanani
Warga Desa Banua Hanyar, Kecamatan Pandawan, Hulu Sungai Tengahm menjemur daun kayu sepat, Senin (18/1/2016).
“Kalau beli daun segar, saya bisa menerapkan standar pengeringan. Sembilan jam di bawah sinar matahari, baru dihaluskan. Selain itu, bisa mempekerjakan tetangga, dengan upah menghaluskan Rp 3.000 per kilogram,” tutur dia kepada Banjarmasin Post, awal pekan tadi.
Adapun cara menghaluskan, cukup pakai tangan, kemudian disaring. Setelah menghasilkan daun murni yang sudah halus tanpa tulang daun, selanjutnya dikemas dalam karung berkapasitas 30 kilogram. Satu kilogram daun sapat siap diolah itu, dibeli pengepul dari Buntok seharga Rp 16.500.

banjarmasinpost.co.id/hanani
Para perkerja menghaluskan daun kering yang sudah dijemur selama 9 jam, di atas kassa penyaring daun sapat, Senin (18/1/2016)
Terkait transaksi ini, Ardian dan pengepul membuat kontrak perjanjian. Misalnya, dalam satu kali kontrak dia wajib menyediakan satu ton daun sapat.
“Kalau tidak kontrak seperti itu, saya tidak mau. Takut pengepulnya tidak datang membeli, mau diapakan stok saya?” ujar Ardian.
Para pembeli dari Buntok itu, imbuh Ardian, kemudian memasok ke Pontianak, Kalbar. Pengumpul menjual Rp 35 ribu per kilogram.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/daun-tanaman-liar-asal-barabai-dibuat-jadi-obat-di-amerika_20160126_184207.jpg)