Galau Pendidikan
Dulu Indonesia mengirim guru-guru untuk mengajar di Malaysia, tetapi mengapa sekarang yang dikirim kebanyakanburuh kasar alias TKI?
Oleh: Mujiburrahman
Akademisi IAIN Antasari Banjarmasin
Dulu Indonesia mengirim guru-guru untuk mengajar di Malaysia, tetapi mengapa sekarang yang dikirim kebanyakanburuh kasar alias TKI?Apakah karena mutu pendidikan kita merosot? Menurut Cak Lontong, yang turun sebenarnya bukan mutu pendidikan kita, tetapi selera orang Malaysia. Dulu selera mereka tinggi, suka kepada guru, tetapi sekarang selera mereka turun, lebih suka kepada pembantu!
Saya kira lelucon di atas tak lebih dari upaya menghibur diri dengancara menertawakan diri sendiri. Sulit disangkal, kita memang galau melihat keadaan dunia pendidikan kita saat ini.Galau itu mencakup rasa cemas, bimbang, gelisah, kalut dan khawatir. Para pendidik galau karena tantangan yang datang dari luar semakin berat, sementara tubuh dunia pendidikan kita sedang bergumul dengan aneka penyakit.
Dunia di luar lembaga pendidikan tampaknya semakin tidak bersahabat, bahkan merusak pendidikan generasi muda kita. Salah satunya adalah penyalahgunaan narkoba. Kini,penghuni rumah tahanan dan penjara ‘berjejal’ karena kasus narkoba. Belum lagi penghirup aroma lem fox dan pengguna obat zenith yang makin mewabah. Narkoba mencengkram seluruh negeri, dari pusat kota hingga pelosok desa.
Selain narkoba, pergaulan bebas juga makin genit menggoda generasi muda. Di era teknologi informasi saat ini, pergaulan anak-anak semakin sulit diawasi. Dengan ponsel di tangannya, seorang anak dapat bergaul dengan siapa saja. Dia juga dapat mengakses video porno dengan bebas. Belum lagi tayangan televisi yang seringkali tidak mendidik. Padahal, televisi adalah ‘pengasuh’ setia anak-anak kita.
Dalam suasana galau itu, datanglah tawaran radikalisme. Para penganjur radikalisme masuk ke sekolah, kampus, langgar, masjid dan dunia maya. Mereka mengatakan, dunia ini kacau karena tidak mengikuti paham keagamaan yang mereka yakini. Kelompok di luar mereka dianggap sesat bahkan kafir. Orangtua pun dilawan. Bahkan negara ingin diruntuhkan. Konon, jika mereka berkuasa, dunia akan lebih baik.
Di sisi lain, kegiatan pendidikan terus berjalan. Dari TK (termasuk yang khusus mengajarkan Alquran), sekolah, pesantren, hingga perguruan tinggi, semua tak henti bekerja mendidik generasi muda. Belum lagi ceramah agama, yang tiap hari dapat disimak di radio dan televisi. Tak sedikit pula pengajian rutin di langgar, masjid dan majelis taklim, yang semuanya mendidik manusia untuk mengikuti nilai-nilai agama.
Namun, lembaga-lembaga pendidikan itu menghadapi beragam masalah. Pendidikan, khususnya di kota, semakin mahal dan glamor (seperti acara perpisahan di gedung mewah). Belum lagi, ganti menteri, ganti kurikulum. Kebocoran soal UN masih terus terjadi. Guru tertumpuk di kota, dan sedikit di desa. Fasilitas pendidikan juga belum merata. Sebagian masyarakat pedalaman masih belum tersentuh sekolah.
Guru sebagai ujung tombak pendidikan juga bermasalah. Sebagian guru malas mengajar, sehingga jumlah guru di daftar gaji lebih banyak daripada jumlah guru di dalam kelas. Tak sedikit orang menjadi guru hanya karena ingin mendapatkan pekerjaan, terutamasebagai PNS, bukan karena ingin menjadi pendidik. Sementara itu, para calon guru yang tamat dari fakultas pendidikan sudah terlampau banyak.
Kondisi perguruan tinggi kita secara umum juga galau. Tingkat pendidikan dosen kita rata-rata baru S-2, bahkan ada yang masih S-1. Perpustakaan kampus masih banyak yang belum dikelola dengan baik. Gairah ilmiah kalah dengan syahwat politik. Orang kampus bukannya berlomba menghasilkan karya ilmiah yang bermutu, melainkan berebut jabatan. Akibatnya, fanatisme kelompok dan kolusi sulit dikikis.
Namun, di balik semua galau di atas, masih tersimpan harapan, pelita di balik gulita. Jika semua pihak, bukan hanya guru dan dosen, tetapi juga orangtua, masyarakat dan pemerintah, bekerja sama, semua masalah tersebut tentu dapat diatasi. Saya juga yakin, guru dan dosen yang berdedikasi masih banyak. Mereka bukan hanya profesional, tetapi ikhlas, yakni bekerja melebihi upah yang mereka terima.
Alhasil, mendidik manusia memang berat. Untuk menghalau galau, kita harus bekerja keras dan berdoa. Seperti dicontohkan Alquran, para Nabi pun mendoakan anak-anak mereka. Karena itu, para ulama biasanya memulai dan mengakhiri pengajian dengan doa. Guru dan murid juga saling mendoakan. Doa adalah ungkapan kerendahan hati bahwa sebagai manusia, kita memiliki kelemahan dan keterbatasan.
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2016! (*)