Tajuk
Candamu Tidak Lucu
Gubernur Kalsel Muhidin jadi perbincangan publik Banua. Penyebabnya, pasal ucapan menanggapi perihal bencana banjir
BANJARMASINPOST.CO.ID- AKHIR-AKHIR ini, nama Muhidin sebagai Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel) jadi perbincangan publik Banua. Penyebabnya, ucapan mantan wali kota Banjarmasin itu saat menanggapi perihal bencana banjir yang kini melanda Kalsel menjadi sorotan.
Satu ucapannya yang paling menuai sorotan adalah ketika memberikan tanggapan soal banjir di beberapa wilayah Kalsel pada Minggu (4/1) lalu.
Muhidin ketika itu memberikan sambutan dalam acara peringatan Hari Jadi Barito Kuala. Muhidin menyebutkan, hujan yang menyebabkan banjir bisa dialihkan dengan memperbanyak acara. Menurutnya, biasanya ini pada bulan Januari, banyak acara yang digelar. Ketika acara digelar, ada orang yang bisa memindahkan hujan (pawang hujan).
Pernyataan Muhidin itu ramai diperbincangkan di sosial media. Banyak warga Kalsel yang menyayangkan ucapan seorang gubernur bisa seperti itu. Dia dianggap tak berempati terhadap kondisi warganya. Ada juga yang menyayangkan gubernur malah percaya pawang hujan.
Belakangan ucapan itu diralat. Dia menyebut ucapannya hanya candaan. Jika begitu, sebagai masyarakat kita bisa saja berkomentar: “candaanmu tidak lucu Pak Gub”. Penyebabnya, pernyataan tersebut muncul dari mulut pemimpin ketika rakyatnya sedang mengalami musibah. Ucapan itu bisa saja dipersepsikan bersifat nirempati bagi korban banjir.
Ucapan itu juga bisa dianggap sebagai penyederhanaan dari solusi banjir yang saat ini dibutuhkan masyarakat. Pernyataan itu bisa dianggap memberikan solusi yang jauh dari saintis. Bahkan bisa berdampak pada munculnya mitos yang menuai kontroversi di kalangan masyarakat.
Pada situasi seperti ini, rakyat membutuhkan pemimpin yang memiliki pemikiran inovatif tentang pendekatan yang bisa dilakukan dalam menghadapi bencana. Pemimpin yang memiliki kemampuan komunikasi yang luwes dan adaptif terhadap berbagai situasi.
Tren bencana global dan nasional ini bisa memunculkan banyak korban di masa depan. Manajemen dalam organisasi kebencanaan punya peran penting. Pemimpin berada di titik fokus. Mereka harus sigap dalam mengambil keputusan dan cepat untuk turun langsung ke lapangan. Hal itu membutuhkan koordinasi yang cepat dan akurat pula.
Namun, yang paling penting adalah pemimpin perlu menyesuaikan komunikasi sesuai dengan fase kebencanaan. Ada dua jenis komunikasi dalam fase kebencanaan, yaitu komunikasi risiko dan komunikasi krisis. Dua jenis komunikasi ini berbeda.
Komunikasi risiko dilakukan agar masyarakat mendapatkan pengetahuan secara real time terkait situasi yang dihadapi, sehingga bisa mengantisipasi risiko-risiko yang datang. Berbeda dengan komunikasi krisis. Seperti pada saat Covid-19, kita sering mendengar juru bicara satgas Covid-19 dan kementerian kesehatan menyampaikan informasi-informasi tentang Covid-19 dan bagaimana mereka berusaha menenangkan masyarakat.
Perlu diingat, ucapan seorang pemimpin memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada ucapan orang biasa. Setiap perkataan, janji, atau kebijakan yang diucapkan akan menjadi bagian dari tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Oleh karena itu, pemimpin harus berhati-hati dalam berucap karena perkataannya dapat membawa kemaslahatan atau kemudaratan bagi umat yang dipimpinnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/GUBERNUR-Kalsel-H-Muhidin-ketika-di-sela-mendampingi-Wapres-Gibran.jpg)