Tajuk
Dampak Ekonomi Banjir Rob
Tahun 2026, Kota Banjarmasin lagi-lagi disinggahi banjir akibat air pasang atau rob. sejumlah wilayah di Banjarmasin terendam
BANJARMASINPOST.CO.ID- Membuka tahun 2026, Kota Banjarmasin lagi-lagi disinggahi banjir akibat air pasang atau rob.
Genangan air rob di sejumlah titik wilayah kota berjuluk Seribu Sungai ini mencapai tinggi lutut orang dewasa, Sabtu (3/1) malam.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi (Stamet) Kelas II Syamsuddin Noor memprediksi, genangan serupa bakal kembali terjadi pada Minggu (4/1).
Naiknya genangan air yang turut dipengaruhi oleh gaya gravitasi bulan itu juga diperkirakan masih akan terjadi hingga Jumat (9/1).
Tinggi genangan air bisa semakin parah apabila disertai hujan deras.
Tak berbeda jauh dari banjir rob sebelumnya, kawasan yang jadi langganan tergenang seperti di permukiman sekitar Jalan Pahlawan dan Jalan Cempaka Besar di Banjarmasin Tengah hingga Jalan Jafri Zam-Zam di Banjarmasin Barat kembali terendam. Warga dibuat waspada dan bahkan tidak tidur sambil mengamankan barang berharga dari naiknya air.
Melihat dari sisi lain, datangnya genangan air rob tak cuma sebatas membuat repot warga di permukiman saja.
Genangan yang walaupun hanya berlangsung beberapa jam dalam sehari selama masa air pasang bisa turut berdampak pada aktivitas ekonomi mantan Ibu Kota Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) ini.
Tak cuma kawasan perumahan, area perkantoran seperti di Jalan Lambung Mangkurat hingga Pasar Sudimampir di Jalan Ujung Murung yang merupakan salah satu pusat perdagangan di Banjarmasin ikut terdampak langsung genangan air.
Belum lagi sejumlah titik di beberapa ruas jalan protokol seperti Jalan A Yani, Jalan Lambung Mangkurat hingga Jalan Hasan Basri menjelma bak anak sungai saat terendam air.
Situasi ini membuat aktivitas lalu lintas terhambat, dimana laju kendaraan terpaksa melambat atau bahkan perlu melakukan pengalihan rute perjalanan.
Belum lagi genangan air yang bertahan hingga berjam-jam kerap menyisakan residu di jalanan berupa lumpur atau sampah yang ikut terbawa genangan.
Padahal sebagai kota yang hidup dari aktivitas perdagangan dan jasa, akses jalan bak menjadi urat nadi dalam aktivitas ekonomi Kota Banjarmasin.
Dari perspektif bisnis, adanya hambatan atau tambahan waktu dalam aktivitas operasional bisa berujung sebagai biaya tambahan atau bahkan kerugian.
Meski belum bisa dibandingkan dengan skala kerugian akibat hambatan lalu lintas di kota besar seperti Jakarta atau Bandung, namun diharapkan hambatan demikian bisa diminimalisir.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/banjir-rob-jafri-zamzam-banjarmasin.jpg)