Tajuk

Menjaga Rupiah

Berdasarkan kurs transaksi Bank Indonesia (BI) per Rabu (21/1/2026), nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sempat menyentuh angka Rp 16.957

Editor: Hari Widodo
(SHUTTERSTOCK/AIRDONE)
Ilustrasi uang rupiah 

BANJARMASINPOST.CO.ID- NILAI tukar rupiah menyentuh rekor terendah sepanjang sejarah terhadap dolar AS. Berdasarkan kurs transaksi Bank Indonesia (BI) per Rabu (21/1/2026), nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sempat menyentuh angka Rp 16.957.

Melemahnya rupiah ini dikhawatirkan menimbulkan dampak terhadap perekonomian Indonesia. Apalagi, sejumlah pengamat ekonomi menyebut pelemahan ini diproyeksikan masih akan berlanjut sepanjang tahun 2026, dengan potensi menembus level psikologis baru.

Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dengan beberapa negara di Eropa dan negara lainnya, turut berdampak terhadap pelemahan rupiah.

Di Tanah Air, sentimen negatif bisa jadi dipengaruhi kekhawatiran terhadap independensi Bank Indonesia (BI), setelah keponakan Presiden Prabowo Subianto, Thomas Djowandono, dicalonkan sebagai Deputi Gubernur BI.

Meskipun, Menkeu Purbaya telah menegaskan bahwa BI akan tetap independen dan pelemahan rupiah saat ini tak ada kaitannya dengan masuknya nama Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) itu.

Namun, nilai rupiah tetap ambles. Sejumlah analis menyebut, faktor domestik juga turut berperan terhadap meningkatnya permintaan dolar untuk impor menjelang bulan puasa Ramadan, yang dimulai pada pekan ketiga Februari.

Melemahnya rupiah, sebenarnya bagi eksportir menguntungkan. Dengan nilai dolar sekarang, daya saing produk Indonesia meningkat. Namun untuk produk yang memakai produk impor seperti komponen suku cadang, mobil, sepeda motor, mesin peralatan, farmasi, kosmetik serta kebutuhan pangan domestik yang bersumber  dari luar negeri seperti kedelai akan sangat terdampak. Imbasnya, inflasi akan meningkat yang menyebabkan daya beli masyarakat juga semakin menurun.

Beban APBN juga akan semakin berat dengan nilai tukar rupiah yang semakin melemah. Subsidi bahan bakar minyak akan semakin membengkak. Ujung-ujungnya, bisa jadi pemerintah akan menaikkan harga BBM yang akan menimbulkan efek domino dengan meningkatnya harga barang kebutuhan.

Karena itu, melemahnya rupiah tidak bisa disepelekan. Pemerintah, harus mendorong seluruh komponen bangsa untuk menjaga rupiah diantaranya dengan membeli produk-produk dalam negeri, mengurangi impor hingga meningkatkan cinta rupiah dengan tidak menimbun dolar. Cinta rupiah, bisa didorong melalui gerakan bersama di seluruh negeri sebagai upaya untuk mencegah negeri ini terpuruk oleh krisis ekonomi seperti yang pernah terjadi di tahun 1997. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved