NEWSVIDEO
Larangan Ekspor Membuat Industri Rotan Kalsel Terpuruk
Sekretaris Jenderal Perkumpulan Petani Pedagang dan Industri Rotan Kalimantan (PEPPIRKA), Muhammad Irwan Riyadi menyatakan industri rotan Kalimantan
Penulis: Nurholis Huda | Editor: Eka Dinayanti
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Sekretaris Jenderal Perkumpulan Petani Pedagang dan Industri Rotan Kalimantan (PEPPIRKA), Muhammad Irwan Riyadi menyatakan industri rotan Kalimantan sekarang kondisinya mati suri.
Hal tersebut disebabkan adannya larangan ekspor bahan mentah rotan, yang akhirnya membuat bisnis rotan di Kalimantan kurang bergairah dan mati suri.
"Kita berharap ekspor dibuka kembali dengan kuota 30 persen. Tapi dipetakan kembali kebutuhan rotan dalam negeri. Dari 30 persen kuota ekspor tersebut," ungkap Irwan.
Diterangkannya, harga sekilo rotan tidak cukup untuk beli beras raskin, yakni hanya 750 per kilogram. Padahal dulu, harganya mencapai 6000-7000 per kilogram.
"Benar itu, karena terus terpuruk pabrik yang bertahan tinggal 2 dari sebelumnya ada 6 pabrik. Itu pun jika tidak dibukanya kran ekspor maka akan mati dan punah tiada lagi produk rotan," kata dia.
Tidak ayal jika seminggu lalu, Muhammad Irwan Riyadi selaku sekjen Peppirka melayangkan surat keberatan kepada Menteri perdagangan RI.
"Kita surati, kenapa sampai sekarang masih dilarang ekspor. Mengapa?. Padahal kita ingin Indonesia juga dikenal dengan rotannya yang hanya ada di Indonesia," katanya.