Cerpen
Suara-suara Menjelang Pagi
ADA yang mengganggumu beberapa hari ini. Sebuah firasat yang mengatakan kau tidak boleh tidur sebelum pagi datang, dan malam ini bahkan semakin kuat.
Cerpen oleh: Bunga Damai Prasasti
ADA yang mengganggumu beberapa hari ini. Sebuah firasat yang mengatakan kau tidak boleh tidur sebelum pagi datang, dan malam ini bahkan semakin kuat. Pikiran serta tubuhmu sendiri menolak rehat, walaupun jiwa di dalamnya sudah lelah.
Apa ya, kata raut wajahmu. Kau kembali mengintip bulan dari sela jendela, berharap ia terus di sana dan menemanimu menunggu pagi.
Sabit bulan melengkung tipis sempurna, bersinar terang di langit yang masih gelap. Brilian, tenang tanpa interupsi. Walau tak cukup cantik untuk memikatmu bangkit dari kasur dan membuka jendela lebih lebar atau memandanginya di luar rumah. Kau memilih merapatkan kain sarung. Padahal kau tahu, udara dini hari sekarang sudah tidak menusuk dan mengundang gigil lagi. Tapi kau tidak bisa diam dan tidur dengan tenang.
Lengkungan bulan itu memang mengingatkanmu pada senyum gadis anak pemilik warung yang kau kunjungi setiap sore. Kau bertanya-tanya apakah wajah si gadis manis itu yang membuatmu berdebar-debar, karena begitulah mestinya. Mestinya ialah yang membuatmu tidak bisa tidur, seperti malam-malam sebelumnya.
Kalau bukan gadis, kau kira hatimu pasti begitu gelisah karena tak sabaran menunggu undian nomor togel yang kau beli kemarin malam. Dirimu berharap kegelisahan itu adalah pertanda kalau nomor pilihanmu tembus undian.
Sempat kau berfantasi, kalau memang beruntung dan nomor itu tembus, uangnya akan kau pakai membeli sebuah sepeda motor bekas, sisanya untuk perbaiki rumah. Kau sudah lelah dan bosan melihat ibumu menderetkan ember-ember untuk menampung tetesan air hujan, meski bapakmu telah berkali-kali naik dan menambal bolong-bolong di atap seng karatan. Tapi, setulus apa pun niatmu itu, pasti bapak dan ibu akan menolak.
"Tidak sudi saya, tinggal di rumah bagus hasil uang togel!" bentak bapak dalam andaimu, diikuti bayangan sorot tatapan kecewa ibu yang duduk dalam diam.
Bapak dan ibumu, juga semua orang sudah terlelap. Lampu-lampu dimatikan, untuk menghemat listrik. Suara satu-dua motor yang melintas ngebut di jalanan besar semakin jarang terdengar. Sepi. Suara denyut nadimu sendiri, bahkan darah yang mengalirinya, kau bisa dengar. **
Menteri Keuangan
JARUM jam dinding berdetik di ruang tengah, merdeka bersuara menembus dinding bambu dan pintu kayu hingga kamarmu. Beberapa jam lalu, kau masih menunggu kantuk datang. Tapi rasa takut dan gelisah akan sebuah firasat itu ternyata betah menemanimu sebegitu rupa.
Sedikit saja bunyi gemerisik dan gesekan angin yang lembut atau bayangan sapuan dahan pohon yang jatuh di balik tirai mengejutkanmu. Kau akan segera menajamkan segala indra. Pupil matamu yang cokelat melebar, telingamu menyimak. Pikiranmu gesit menebak kemungkinan-kemungkinan.
Pencurikah? Tuyul? Kau rasa tidak mungkin. Keluargamu tidak punya sesuatu yang cukup berharga. Kecuali seseorang ingin bersusah payah menjual televisi tabung 14 inci hitam putih yang sering "semutan" di ruang tengah.
Ingatkah, kau dan ibumu pernah bercakap-cakap, ketika kau belum masuk sekolah dasar. Ibumu bertanya, apakah kau juga ingin menjadi petani seperti bapak. Kau bilang tidak. Kau ingin jadi menteri keuangan, sosok yang kau kira terkaya-raya, paling bergelimang uang seantero negeri, supaya bisa membeli televise baru. Ibumu tersenyum bangga anaknya bercita-cita sangat tinggi, mengamini.
"Kalau begitu, Jayadi, apa pun cita-citamu. Jadilah orang yang jujur," ujar ibumu saat itu.
Sayangnya, harapan siapa pun di rumahmu tidak kunjung terkabul. Kau tidak pernah jadi menteri keuangan. Tubuhmu lemah dan ringkih. ibu dan bapak dari dulu terus memanjakan dan menuruti keiginanmu, anak semata wayang mereka-tidak ada pilihan.
Setelah lulus SMA setahun yang lalu, kau tidak bekerja. Tidak juga menjadi orang jujur. Tempo hari, kau pernah pamit pergi mengambil kelapa, tapi Bapakmu malah memergokimu sedang minum-minum dan dia menyeretmu yang mabuk tanpa ampun.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/ilustrasi-cerpen_20160621_145224.jpg)