Tiap Subuh Santri Ponpes di Bontang Ini Wajib Setor Hafalan Alquran

Para santri mayoritas berasal dari kabupaten/kota luar Bontang yang hidup dalam keluarga miskin. Mereka mondok di pesantren sembari sekolah layaknya

Editor: Ernawati
TRIBUN KALTIM/UDIN DOHANG
Para santri tengah menghafal Alquran di Pondok Pesantren Darul Qurra Bontang. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BONTANG - Lantunan ayat suci Alquran menggema dari lantai dua Masjid Darul Qurra, Jalan Kenangan, RT 29, Kelurahan Tanjung Laut, Bontang Selatan.

Di ruangan tanpa sekat seluas 6x7 meter persegi, 25 santri Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Qurra duduk melingkar sembari membaca berulang-ulang Alquran di tangan mereka.

Ponpes Darul Qurra atau akrab dikenal pondok pesantren penghapal Alquran (Hafiz). Ponpes ini memiliki 120 santri beragam usia, dari usia 5 tahun hingga 18 tahun.

Para santri mayoritas berasal dari kabupaten/kota luar Bontang yang hidup dalam keluarga miskin. Mereka mondok di pesantren sembari sekolah layaknya anak usia remaja pada umumnya.

Pendiri Ponpes Darul Qurra Ustadz Fatman Marzuki Al Hafids mengisahkan sejarah berdirinya satu-satunya Ponpes Hafiz di Bontang ini.

Mantan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kementerian Agama Bontang ini mengaku sedih karena minimnya jumlah hafiz di Bontang. Bahkan, saat mengikuti ajang lomba MTQ tidak jarang, pemkot mengambil peserta dari luar Bontang sebagai perwakilan lomba.

Para santri tengah menghafal Alquran di Pondok Pesantren Darul Qurra Bontang.

"Kenapa tidak kita ciptakan saja pondok penghafal Al Quran di Bontang, kan lebih baik," ungkapnya seraya menggulung lengan baju koko putih yang dikenakannya.

Di penghujung tahun 2007, Fatman memberanikan diri menerima santri dari warga yang ingin menitipkan anaknya menjadi penghafal Alquran.

Bersama sang istri ia memulai membina puluhan santri yang mayoritas dari keluarga miskin di sekitar wilayah Bontang jadi penghafal Alquran.

Seiring waktu, dari jumlah tersebut kini sudah ratusan santri yang dibina di ponpes ini. Tidak sedikit pula yang menjadi imam masjid dengan upah tetap, pengusaha atau menjadi guru pengajar di ponpes lainnya di luar Bontang. Sekarang ponpes memiliki 7 orang guru pengajar sekaligus pembina santri.

Mereka tidak mengharapkan bayaran dari keringat mereka membina dan mengajarkan santri menghafal Alquran.

"Saya tidak ingat pasti jumlahnya, karena mereka (santri) ini keluar masuk. Yang jelas sudah banyak yang kini jadi pengurus masjid," tuturnya.

Sejak awal didirikan, Ustadz Fatman Marzuki, tidak pernah menarik pungutan wajib bagi para santrinya. Fatman mengaku, Ponpes ia asuh, mampu eksis dan bertahan karena rahmat dari Sang Khalik.

Tiap bulannya pengeluaran untuk operasional dan konsumsi mencapai Rp 7 juta. Sedangkan pendapatan dari donatur tetap hanya berkisar Rp 4 juta sebulan. Namun ajaibnya, setiap kali kehabisan logistik selalu ada saja donatur yang tiba-tiba datang dan memenuhi kebutuhan para santri.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved