Surga Dunia Pendidikan
PRESIDEN RI Joko Widodo kembali bikin gebrakan dengan melakukan reshuffle jajaran kabinetnya. Ini merupakan kali kedua Jokowi melakukan reshuffle.
PRESIDEN RI Joko Widodo kembali bikin gebrakan dengan melakukan reshuffle jajaran kabinetnya. Ini merupakan kali kedua Jokowi melakukan reshuffle.
Sebanyak 12 orang pilihan menghiasi kabinet reshuffle jilid II. Pelantikan terhadap 13 orang tersebut, termasuk Kepala BKPM dilakukan Rabu (27/7) di Istana Negara.
Tidak sembarang orang bisa menempati posisi terhormat itu. Bukan perkara mudah pula memilih orang yang tepat di antara 250 juta lebih penduduk Indonesia.
Jokowi berkukuh memasang orang yang dianggapnya bisa memajukan pembangunan Indonesia. Satu di antara menteri yang kena reshuffle adalah Menteri Pendidikan, Anies Baswedan dan digantikan Muhadjir Effendy, mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Pisah sambut dan serah terima jabatan pun sudah dilangsungkan di Kantor Kementerian Pendidikan Nasional. Haru dan menyesakkan.
Dalam sebuah suratnya, Anies lebih banyak minta maaf dan mencurahkan pikirannya tentang pentingnya mengecap pendidikan terutama bagi anak-anak, sebagai penerus perjuangan bangsa Indonesia di masa mendatang. Pesannya, agar lembaga-lembaga pendidikan menjadi surga bagi dunia pendidikan anak-anak Indonesia.
Tulis Anies lagi, menteri boleh berganti, tapi ikhtiar kita semua dalam mendidik anak-anak bangsa tak boleh terhenti. Masih banyak pekerjaan rumah pemerintah yang harus ditunaikan bagi guru dan tenaga pendidikan, termasuk juga orangtua. Anies yakin dan percaya, semua akan dituntaskan.
Tentunya, semuanya akan mengacu pada tuntunan Islam dalam menuntut ilmu. Mereka yang tidak berilmu malah akan berlaku sebaliknya, yaitu menyelesaikan berbagai macam persoalan dengan hawa nafsunya.
Anies seakan berujar, pendidikan tidak akan pernah berhenti walaupun badai menerpa dan nafas tinggal di tenggorokan.
Firna Larasanti asal Semarang, Jawa Tengah, contohnya. Terlahir dari keluarga sederhana dan kedua orangtuanya adalah pemulung, Firna tak gentar bercita-cita setinggi langit. Berkat tekad dan beasiswa, dia dapat kuliah di Universitas Negeri Semarang (Unnes).
Membayar kepercayaan itu, dia buktikan dengan lulus dengan predikat cumlaude atau pujian. Dia dikukuhkan sebagai sarjana oleh Rektor Unnes, Fathur Rokhman di Auditorium Unnes, Rabu 27 Juli 2016, bersama 1.460 lulusan lainnya. Firna pun bertekad kembali melanjutkan ke pascasarjana (S2) di perguruan tinggi impiannya, Universitas Gadjah Mada (UGM).
Sungguh, pengejaran pendidikan tak mengenal waktu dan siapa menterinya. Menteri hanya sebuah simbol untuk mewujudkan strata pendidikan sesuai dengan kaidah umur dan kemampuan. Dan yang terpenting, pendidikan tetap berjalan hingga akhir hayat.
Tanpa pendidikan, Indonesia pun takkan pernah maju. Jangan pernah berhenti mewujudkan pendidikan berkemajuan, dan memajukan dunia pendidikan. Semoga kita menjadi insan yang benar-benar melewati taman-taman surga dan mereguknya hingga puas di majelis-majelis ilmu atau lembaga-lembaga pendidikan. Semoga (*)