Belanja Iklan Ramadan Tumbuh 9 %

PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) misalnya mencetak pendapatan Rp 3,5 triliun atau meningkat 7,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Editor: Didik Triomarsidi
kontan
Kantor TV One 

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Di separuh pertama tahun ini, pendapatan emiten media terlihat masih bertumbuh. Emiten media televisi membukukan pertumbuhan pendapatan antara 7% - 9% pada semester pertama 2016. PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) misalnya mencetak pendapatan Rp 3,5 triliun atau meningkat 7,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Laba bersih MNCN melonjak 43,9% menjadi Rp 1 triliun. Emiten televisi milik Grup Elang Mahkota, PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) mencetak pendapatan Rp 2,3 triliun atau naik 7,7%. Tapi, laba bersih SCMA hanya naik 4% menjadi Rp 836,9 miliar karena ada kenaikan beban program dan siaran.

Emiten media Grup Bakrie, PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) mengantongi pendapatan Rp 1,2 triliun atau naik 9,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 1,1 triliun. Tahun lalu, VIVA membukukan rugi Rp 259,3 miliar karena ada rugi selisih kurs. Tapi pada enam bulan pertama tahun ini, VIVA mengantongi laba bersih Rp 96,19 miliar.

Para analis menilai, belanja iklan di kuartal kedua lebih besar dibandingkan kuartal sebelumnya. Pertumbuhan emiten media juga sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Kurs rupiah yang lebih stabil turut mendorong laba bersih emiten.

Kevin Halim, Analis Mandiri Sekuritas, mengatakan, laba bersih MNCN masih berporsi 60% terhadap prediksi setahun Mandiri Sekuritas dan 58% terhadap prediksi konsensus. Kinerja laba ini didukung oleh keuntungan kurs senilai Rp 167 miliar. Pendapatan MNCN di kuartal II 2016 tumbuh 12% menjadi Rp 2 triliun juga karena ada pergeseran bulan puasa.

"Kinerja pangsa pemirsa yang kuat dan pendapatan dari Piala Eropa juga mulai menunjukkan hasil," ungkap dia, dalam riset 2 Agustus 2016.

Margin kotor MNCN turun 150 basis poin menjadi 56,9%, karena Piala Eropa dan kinerja Global TV membebani margin. MNCN memasukkan beban Piala Eropa sekitar US$ 15 juta ke dalam total program dan beban penyiaran.

Sementara itu, laba setelah pajak SCMA di semester I berporsi 50% terhadap prediksi setahun Mandiri Sekuritas dan konsensus. Laba bersih SCMA di kuartal II meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya karena kenaikan belanja iklan.

Christine Natasya, Analis Daewoo Securities Indonesia, mengatakan, meski kenaikan laba bersih SCMA masih kecil, pertumbuhan pendapatan cukup pesat. "Pendapatan banyak berasal dari momentum Ramadan," ujar Christine.

Menurut Christine, pendapatan di kuartal keempat akan lebih kuat. Meski demikian, rencana SCMA memperkuat pangsa pasar dengan mendorong program olahraga, seperti Torabika Soccer Championship akan menambah beban perusahaan.

Kevin lebih memilih MNCN, karena pangsa pemirsa yang kuat. Tapi, ia tetap berhati-hati terhadap utang dollar AS yang besar dan tidak ada lindung nilai. Ada pula potensi tekanan margin dari penyiaran UEFA Champions League dan Liga Primer Inggris.

Kevin merekomendasikan netral MNCN dengan target harga Rp 2.200 per saham. Dia juga merekomendasikan netral saham SCMA dengan target harga Rp 3.000 per saham. Christine merekomendasikan trading buy dengan target harga Rp 3.870 untuk saham SCMA.

Sumber: Kontan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved