Tribun Smart
Kepemimpinan Bukan Tentang Posisi
Menjadi perempuan muda di era sekarang adalah berada di sebuah kesempatan emas
Penulis: Salmah | Editor: Kamardi Fatih
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Menjadi perempuan muda di era sekarang adalah berada di sebuah kesempatan emas. Banyaknya ruang luas untuk mencoba, gagal, belajar, lalu bangkit kembali. Demikian pandangan Thalita Humairah.
Talitha memaknai diri sebagai bagian dari perempuan muda yang tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri, tetapi juga berani mengambil peran sebagai perempuan yang berdaya, berwawasan dan memberi manfaat.
"Karena bagi saya, nilai seorang perempuan tidak berhenti pada pencapaian pribadi, melainkan pada sejauh mana kehadiran saya mampu memberi arti bagi orang lain," kata gadis kelahiran Samarinda, 3 Juni 2006 ini.
Jika disuruh mendeskripsikan diri, menurut mahasiswi Universitas Muhamadiyah Banjarmasin (UMB) pada 2024-sekarang S1 Psikologi ini, sebagai perempuan muda itu sadar, hidup adalah proses panjang.
"Perempuan muda menurut saya adalah sosok wanita yang akan terus bergerak dalam daur kehidupan masyarakat, lahir, tumbuh, belajar mengenal dunia, bersosialisasi, mengalami perubahan diri hingga dihadapkan pada berbagai pilihan hidup," katanya.
Pilihan tentang pendidikan, kesempatan, arah masa depan hingga keputusan untuk berkeluarga atau menjadi ibu dan menua. Semuanya adalah bagian dari perjalanan yang membentuk jati diri.
"Dalam teori Psikologi Perkembangan Psikososial yang saya pelajari, masa muda sebagai fase penting pencarian identitas. Ketika individu belajar memahami siapa dirinya dan peran apa yang ingin ia jalani dalam kehidupan," ujarnya.
Di tengah semua kemungkinan itu, ia memilih untuk menjalani peran dengan kesadaran dan keberanian untuk bisa berdaya dan berkarya.
"Saya percaya, perempuan muda bukan hanya tentang usia, tetapi tentang kemauan untuk bertumbuh, berpikir, dan berkontribusi," jelasnya.
Menjadi perempuan muda, bagi Talitha adalah tentang menjalani setiap fase hidup dengan bertanggungjawab, harapan, dan keyakinan bahwa dirinya mampu menjadi pribadi yang bermakna dan bermanfaat, bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.
"Nilai hidup yang paling saya pegang adalah selalu bersangka baik. Entah itu dalam menjalani kehiupan sehari-hari, di saat menyelipkan doa disujud maupun tangisan, di saat saya berada dalam kondisi yang bahagia maupun sedih, di saat saya mampu berjalan dengan mudah dan mulus maupun menghadapi kerikil-kerikil dan batu, di saat doa-doa saya dijawab maupun diganti dengan yang lebih baik dari-Nya," katanya.
Dengan selalu percaya dan bersangka baik, selalu mengambil hikmah di tiap-tiap kejadian dan keajaiban, dan selalu bersyukur atas segala hal yang ditentukan dan diberikan dari-Nya. Hingga membentuk Talitha sekarang.
"Dalam setiap pilihan dan keputusan, selalu melibatkan Maha Pemilik Alam Semesta ini, Allah Subhannahu Wa Ta’ala. yang mengendalikan dan mengizinkan semuanya terjadi. Nilai ini membuat saya tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan, melainkan memilih untuk memahami situasi secara utuh sebelum melangkah, dan saya memilih mendengarkan suara hati, menimbang setiap konsekuensi dengan penuh kesadaran, serta belajar menyerahkan hasil akhirnya kepada kehendak-Nya, dengan keyakinan bahwa setiap ketetapan selalu memiliki makna," jelasnya.
Jika ditanya tentang mengapa memilih jurusan psikologi, jawabannya sederhana. Ia ingin ilmu yang saya punya bisa bermanfaat untuk orang banyak dan masyarakat, ia ingin bisa membantu banyak orang dari kemampuan dan ilmu yang bisa ia dapatkan, pelajari dan berikan.
"Jurusan psikologi yang awalnya bukan jurusan maupun instansi utama yang saya pilih, bahkan menjadi last option. Tetapi Allah itu memang selalu tahu yang terbaik untuk hamba-Nya," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Thalita-Humairah.jpg)