Hijrah, Uang dan Zenith

Ketika masih kecil, setiap sore saya belajar di Madrasah Diniyah, Al-Ukhuwwah, Amuntai. Saya dan kawan-kawan sangat menyukai

Editor: BPost Online

Oleh: Mujiburrahman
Akademisi IAIN Antasari Banjarmasin

Ketika masih kecil, setiap sore saya belajar di Madrasah Diniyah, Al-Ukhuwwah, Amuntai. Saya dan kawan-kawan sangat menyukai pelajaran Sejarah Islam yang diajarkan dengan cara bercerita. Guru-guru kami, termasuk ayahku, memang pandai bercerita, dengan gaya dan bahasa yang sesuai dengan pikiran dan imajinasi anak-anak. Mereka dapat membuat kami tegang, tertawa hingga berurai airmata.

Ketika mendengar cerita bagaimana Nabi Muhammad dimusuhi, dihina dan diboikot, sementara para pengikutnya disiksa dengan kejam, pertanyaan muncul di benak saya. Mengapa Allah membiarkan Nabi diperlakukan seperti itu? Bukankah Dia Maha Kuasa? Jika Dia menginginkan kehancuran musuh-musuh Nabi, pastilah mereka semua akan mampus dalam sekejap. Mengapa Dia tidak melakukannya?

Pertanyaan itu muncul selintas dalam pikiran saya, kemudian lenyap, seiring berakhirnya cerita dengan kemenangan Nabi atas para penentangnya. Setelah dewasa, saya mencoba menggali masalah ini lebih dalam. Saya kira, melalui sejarah hidup Nabi yang penuh tetesan keringat, airmata bahkan darah, Allah ingin mengajari kita, bahwa setiap keberhasilan harus melewati perjuangan, bukan bim salabim.

Rentang waktu perjuangan Nabi tidaklah singkat. Di Mekkah, Nabi berdakwah selama 13 tahun. Namun permusuhan kaum elit Mekkah justru menjadi-jadi. Akhirnya, beliau dan para pengikutnya memutuskan untuk berhijrah ke Yatsrib (Madinah). Kelak, sekitar 10 tahun kemudian, setelah melewati berbagai perundingan damai dan perang, barulah Mekkah dan Madinah dapat disatukannya di bawah panji Islam.

Adakah mukjizat dalam kisah Nabi? Tentu ada. Misalnya, ketika akan berangkat hijrah, berkat membaca Surah Yasin hingga ayat 9, Nabi tidak terlihat oleh orang-orang yang mengepung rumahnya untuk membunuhnya. Ketika dia bersembunyi di Gua Tsur bersama Abu Bakar, mulut gua tiba-tiba ditutupi sarang laba-laba, dan burung merpati bersarang pula. Para pencari Nabi akhirnya berbalik arah.

Namun, mukjizat itu muncul setelah aneka usaha dilakukan. Untuk mengelabui musuh, Nabi meminta Ali untuk tidur di tempat tidurnya dan memakai selimutnya. Nabi mengambil jalan ke selatan, arah yang berlawanan dengan Madinah, kemudian memutar ke arah Barat. Untuk menutupi jejak ontanya di pasir, Nabi meminta seorang penggembala menggembalakan dombanya sepanjang jalan menuju Gua Tsur.

Demikianlah, untuk berhasil, selain memohon pertolongan-Nya, kisah hijrah menunjukkan, orang perlu strategi, perjuangan dan pengorbanan. Sayangnya, hal ini seringkali diabaikan manusia. Alqur’an sendiri menyatakan, salah satu kelemahan manusia adalah wataknya yang tidak sabaran, tergesa-gesa, terburu-buru, dan ingin serba cepat. Dia ingin langsung tiba di puncak tanpa harus mendaki terlebih dahulu.

Kesukaan manusia pada jalan pintas itu tampak sekali pada kasus penipuan penggandaan uang yang kini lagi hangat. Di Probolinggo, Dimas Kanjeng Taat Pribadi diduga menipu para pengikutnya dengan janji bahwa dia bisa menggandakan uang secara ajaib. Tak sedikit yang tergoda, dari yang menyerahkan uang puluhan dan ratusan juta hingga milyaran rupiah. Mereka ingin kaya raya dengan cepat dan mudah.

Ada lagi kasus hangat di Banua,yaitu penyalahgunaan obat Zenith Cornophen yang termasuk Daftar G. Hingga Juli 2016, tak kurang dari 2.160.115 butir obat Daftar G yang disita di daerah ini. Supian Sauri alias Tinghui, pemilik lebih dari 1 juta butir Zenith, telah diadili di Amuntai. Semula dia dituntut 1 tahun penjara. Setelah protes dari masyarakat, akhirnya diputuskan 9 tahun penjara dan denda Rp 500 juta.

Dalam bahasa Inggris, zenith artinya puncak, titik tertinggi yang dapat dicapai. Obat untuk nyeri tulang ini, jika dikomsumsi berlebihan, dapat membuat orang merasa terbang ke alam khayal. Tidak sedikit anak usia SD yang kecanduan obat ini. Para remaja yang frustrasi juga banyak yang terkena. Mereka ingin sampai ke puncak dan mengatasi kepahitan hidup dengan cara yang palsu dan merusak.

Tinghui dan Taat Pribadi tentu tidak beroperasi sendirian. Karena itu, tindakan hukum terhadap mereka bukanlah solusi menyeluruh. Ibarat aliran sungai, solusi ini baru di hilir, sementara akar masalah berada di hulu. Saya khawatir, kita masih belum berhijrah dengan strategi rasional dan usaha maksimal. Kita masih terlalu mengharap mukjizat dan jalan pintas! (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved