Liga Champions

Pablo Zabaleta: Guardiola Berbenah setelah Kekalahan Kontra Spurs

Bek asal Argentina itu menyatakan hal positif dari kekalahan 0-2 itu adalah City masih tetap berada di puncak klasemen.

Tayang:
Editor: Didik Triomarsidi
Getty Images
Fernandinho (kanan) tengah mengontrol bola diikuti oleh pemain Celtic Tom Rogic dan Kolo Toure pada pertandingan UEFA Champions League antara Celtic kontra Manchester City, di Celtic Park, Glasgow, Skotlandia, 28 September 2016 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Pablo Zabaleta menerima dengan lapang dada kekalahan pertama yang dialami timnya, Manchester City, dari Tottenham Hotspur, 2 Oktober lalu di White Hart Lane.

Menurut kapten City itu, kekalahan tersebut adalah wake-up call, menyadarkan seluruh awak City setelah pembicaraan sejak awal musim hanya seputar invincibility alias menjadi tim yang tak terkalahkan.

Bek asal Argentina itu menyatakan hal positif dari kekalahan 0-2 itu adalah City masih tetap berada di puncak klasemen.

“Kekalahan itu menyadarkan kami. Ketika bermain bagus dan menang, orang akan banyak bicara. Sekarang, semua bisa melihat kami tidaklah tak terkalahkan. Kami tetap manusia dan tidak bermain sempurna di setiap pertandingan. Selalu akan ada tim yang tampil lebih bagus,” kata Zabaleta kepada Manchester Evening News.

Pemain berusia 31 tahun itu juga menganggap bodoh pembicaraan yang menyebut City bisa meniru Arsenal pada musim 2003/2004, di mana klub London itu tak terkalahkan menuju trofi juara Premier League.

“Tidak mungkin bisa memenangi pertandingan saat ini. Kami menang enam kali berturut-turut dan sadar suatu hari akan terputus, terutama di level teratas sepak bola Inggris serta menghadapi klub sebagus Spurs,” kata Zabaleta lagi.

Setelah kalah, bukan berarti Pep Guardiola akan diam saja. Banyak pekerjaan yang harus dilakukannya kelar pertandingan itu.

Kelemahan utama manajer asal Spanyol itu adalah tidak bisa menemukan cara untuk keluar dari yang namanya high press lawan.

Pada pertandingan itu, Spurs memang tidak mengeksploitasi kelemahan bertahan City, melainkan menghentikan kekuatan serangan Manchester Biru itu.

Filosofi Guardiola adalah permainan dimulai dari belakang, dari kiper. Hal itu membuat Claudio Bravo menjadi outfield player ke-11.

Jadi, ketika lawan maju hingga menutup semua area bertahan City, maka di barisan depan City tinggal mengandalkan pemain seperti David Silva atau kecepatan lari Raheem Sterling dan Jesus Navas, menanti adanya serangan balik.

Jadi, apa yang harus dibenahi oleh Guardiola setelah kalah dari Spurs dan sebelumnya bisa ditahan 3-3 oleh Celtic di Liga Champion?

Yang pertama adalah ia harus memeriksa kembali seleksi tim yang dilakukannya. Deep midfi elder adalah rencana yang krusial. Si pemain di posisi itu harus mundur, menerima bola, dan berbalik untuk meluncurkan serangan.

Fernandinho bisa melakukan tugas itu dengan baik sejak awal musim, tetapi saat menghadapi Spurs, Guardiola menggesernya lebih ke depan dan menyerahkan tugas deep midfielder ke Fernando, yang merasa tidak nyaman.

Tanpa butuh waktu lama, Spurs langsung membuat Fernando tak berkutik. Fernandinho kemudian dimundurkan sehingga para bek memiliki alternatif gelandang yang bisa diberi operan bola untuk menyerang.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved